Taipei, 3 Agu. (CNA) Seniman Taiwan yang telah lama bermukim di Jepang, Chen Shige (陳重穎) kembali dengan sebuah pameran sepekan yang digelar di Open Contemporary Art Center (OCAC) Taipei sejak Sabtu (25/7) hingga Minggu kemarin, mengeksplorasi bahasa Indonesia dan menerjemahkannya dalam gambar, tipografi, audio visual, dan juga kegiatan interaktif.
Dalam catatan kuratorialnya, Keda Kaho, seorang kurator asal Jepang yang menguratori pameran ini, menyatakan bahwa diselenggarakannya pameran ini di Taiwan hendak menyoroti komunitas Indonesia yang merupakan salah satu kelompok terbesar di antara warga negara asing yang tinggal di pulau ini.
Selain itu, selama ini OCAC juga dikenal sebagai sebuah ruang kreatif di Taiwan yang memiliki banyak koneksi dengan kancah seni di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Kepada CNA, Chen menyebut bahwa ia selalu tertarik dengan masyarakat multibahasa. Oleh karena itu, ia mempelajari banyak bahasa selama ini dan juga bagaimana cara menulisnya. Selain bahasa Taiwan, Mandarin, Jepang, dan Inggris yang ia sering gunakan sehari-hari, ia juga belajar Sanskerta dan satu tahun terakhir mempelajari bahasa Melayu dengan cara menulis Jawi yang dipengaruhi alfabet Arab, atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan tulisan Pegon.
“Dan saya menemukan ada kesamaan antara bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia,” kata Chen.
Selama masa persiapan pameran, Chen mempelajari bahasa Indonesia bersama orang-orang Indonesia yang tinggal di Taiwan, sekaligus membangun hubungan dengan mereka yang berkumpul di Taipei Main Station untuk mengenal latar belakang dan kehidupan mereka.
Sepanjang residensi di Taiwan dan pameran, Chen, yang punya latar belakang di seni lukis, juga berkolaborasi dengan Rama Saputra, seorang seniman sonik Indonesia yang kini menetap di Taiwan.
Sementara di ruang pameran, yang ia tampilkan di antaranya adalah lukisan, komik, video yang ia buat di Taipei, dan jejak-jejak interaksi sehari-hari dan proses belajar bahasa Indonesia Chen selama di Taiwan.
Menginjak sebagai metode melepas lelah
Yang unik dari praktik berkesenian Chen adalah menggabungkan pertukaran bahasa, tipografi, dan seni performa yang melibatkan pengunjung pameran atau individu yang ia temui selama belajar bahasa. Praktik ini ia rintis saat terlibat dalam sebuah lokakarya di Jepang pada 2024 dan 2025.
“Ini mengajak orang untuk menginjak, menemukan permukaan datar yang tersebar di seluruh lanskap perkotaan seperti selebaran kusut di pinggir jalan dan mengamati perubahan permukaan ini melalui intervensi tubuh kita sendiri,” kata Chen, yang kemudian mengarsipkan jejak-jejak seni performa ini.
Di Taiwan, Chen mengajak pengunjung untuk menulis kalimat “Dilarang Diinjak” di atas kertas dalam bahasa Indonesia dan kemudian menaruh kertas tersebut di tanah sebelum kemudian diinjak mengikuti bentuk foto benda-benda kusut di sejumlah jalan yang telah diarsipkan oleh Chen selama ini. Setelah mengikuti bentuk yang dipilih partisipan, kertas kusut itu akan dijadikan salah satu objek pameran yang kemudian menjadi arsip Chen.
Dalam interaksinya di Taiwan dengan sejumlah orang Indonesia yang tinggal di sini, ia memahami bahwa mayoritas orang Indonesia yang ditemui adalah pekerja migran. Dari situ, ia juga menekan dirinya untuk menggunakan bahasa Indonesia yang ia pelajari selama di Taiwan dan mencoba memahami bagaimana kehidupan orang Indonesia di Taiwan.
“Saya tanya bagaimana bekerja di Taiwan? Capai? Lalu mereka bilang sudah pasti capai dan banyak peraturan. Jadi saya pikir metode menginjak ini juga jadi salah satu cara melepas lelah,” kata Chen.
Ia juga punya banyak kesan saat berinteraksi dengan orang Indonesia di Taiwan selama masa residensi dan pamerannya. Menurutnya, banyak dari mereka yang malu saat Chen menghampirinya. Namun, ada juga beberapa orang yang sangat terbuka dan bercerita banyak tentang kehidupan mereka di Taiwan.
“Saya memperkenalkan diri, saya Shige, saya seniman dari Taiwan yang tinggal di Jepang,” katanya sambil mendemonstrasikan bahasa Indonesianya.
Dari pengalaman tersebut, ia melihat banyak peluang untuk mengeksplorasi lebih jauh tidak hanya isu Indonesia di Taiwan, tetapi juga isu migran secara lebih luas, mengingat Jepang juga memiliki populasi migran yang besar.
“Di Jepang juga sejak 2023 kami punya kelompok Kijutsu Study Group yang berarti menulis dan menggambar. Beberapa kali kami juga berbicara dan bekerja sama dengan migran yang tinggal di Jepang, seperti dari Bangladesh. Ini berasal dari pertanyaan kenapa di sekolah seni kami menawarkan keberagaman, tetapi bahasa yang digunakan hanya Jepang, Mandarin, dan Prancis, tetapi tidak dalam bahasa Mongol, misalnya. Jadi, lewat proyek ini saya melihat bagaimana kami belajar bahasa dan menggunakan perasaan kita untuk menggambar,” kata Chen.
Selesai/ja