Pakar: Pertemuan Cheng-Xi beri sinyal pada Trump soal isu Taiwan

12/04/2026 18:24(Diperbaharui 12/04/2026 18:24)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Orang-orang di Taipei menyaksikan laporan berita terkait pertemuan antara Ketua KMT Cheng Li-wun dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Jumat. (Sumber Foto : CNA, 10 April 2026)
Orang-orang di Taipei menyaksikan laporan berita terkait pertemuan antara Ketua KMT Cheng Li-wun dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Jumat. (Sumber Foto : CNA, 10 April 2026)

Taipei, 12 Apr. (CNA) Sejumlah pakar menggarisbawahi bahwa pertemuan antara Ketua Kuomintang (KMT) Cheng Li-wun (鄭麗文) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平) digelar menjelang rencana pembicaraan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Xi di mana Taiwan diperkirakan akan menjadi isu sensitif.

Cheng bertemu Xi di Beijing pada Jumat (10/4) dalam kunjungan yang pertama kali diumumkan pada 30 Maret, setelah Gedung Putih mengatakan kunjungan Trump ke Tiongkok yang direncanakan pada akhir Maret ditunda menjadi 14-15 Mei di tengah perang Iran.

Aswin Lin, peneliti pascadoktoral asal Indonesia di Taiwan Foundation for Democracy, mengatakan bahwa menjelang pertemuan Trump-Xi, "Elite politik di Taiwan akan merasa gugup karena efek 'ketakutan akan ditinggalkan' semakin terasa" mengingat pendekatan Gedung Putih "sangat transaksional".

AS yang saat ini harus menyelesaikan masalah di berbagai kawasan secara bersamaan akan kehilangan kemampuan optimumnya, membuat negara-negara yang memiliki kedekatan dengan Washington menjadi tidak tenang, kata Aswin kepada CNA.

Menurutnya, pertemuan Trump-Xi patut ditunggu karena efek dari hubungan kedua negara akan terasa ke seluruh dunia, terutama kawasan Asia-Pasifik, khususnya Taiwan sebagai isu paling sensitif dalam relasi Beijing-Washington.

Ketua Kuomintang Cheng Li-wun menyapa Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing, Tiongkok, Jumat. (Sumber Foto : Kuomintang)
Ketua Kuomintang Cheng Li-wun menyapa Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing, Tiongkok, Jumat. (Sumber Foto : Kuomintang)

Di sisi lain, meski menyebut adanya saluran komunikasi lintas selat sebagai sesuatu yang positif, Aswin menggarisbawahi hal yang "mengganjal", yakni bahwa KMT, yang tidak memegang takhta eksekutif, bukanlah pembuat kebijakan dan pengambil keputusan, sehingga pertemuan ini lebih ke arah silaturahmi.

Selain itu, meski masyarakat Taiwan ingin hubungan lintas selat yang lebih stabil, "Opini publik tentang Tiongkok Daratan dan sistem politiknya sangat tidak populer," kata Aswin.

Meskipun demikian, ucapnya, komunikasi sangat penting seiring Partai Progresif Demokratik (DPP) yang saat ini berkuasa "tidak akan bisa membuka kanal komunikasi", karena hanya dapat memilih opsi "penangkalan" sementara mengesampingkan "diaolog".

Masalahnya, menurut Aswin, kendati DPP ingin menaikkan anggaran pertahanan, "Daftar belanja alutsista yang diajukan tidak masuk akal," dengan ide utama Presiden Lai Ching-te (賴清德) "tidak mungkin" baik di level strategi maupun operasional.

Dari segi dalam negeri, Aswin mengatakan pertemuan Xi-Cheng akan memiliki efek elektoral, termasuk kemungkinan penolakan terhadap Cheng di internal KMT jika hasil di pemilihan daerah pada November buruk dan serangan dari pihak prokemerdekaan di pemilihan presiden pada 2028.

Sementara itu, John Lim (林泉忠), peneliti proyek di Institut Studi Lanjutan tentang Asia di University of Tokyo mengatakan bahwa dari pertemuan dengan Cheng, Xi bertujuan mengirim pesan kepada Trump menjelang perjumpaan mereka.

Dengan Taiwan sebagai titik panas utama dalam hubungan AS-Tiongkok, Trump kemungkinan akan menggunakan dukungan untuk Taiwan sebagai alat tawar-menawar, kata Lim kepada CNA pada Sabtu.

Melalui pertemuan itu, Xi berusaha memberi sinyal bahwa ada kekuatan signifikan di Taiwan yang mendukung kebijakan Beijing dan berbagi nilai-nilai di kedua sisi Selat, ujarnya, seraya menambahkan bahwa langkah tersebut dimaksudkan untuk membatasi kemampuan Trump menggunakan Taiwan sebagai alat tawar-menawar.

Chang Kuo-cheng, seorang profesor hubungan internasional di Taipei Medical University. (Sumber Foto : CNA, 11 April 2026)
Chang Kuo-cheng, seorang profesor hubungan internasional di Taipei Medical University. (Sumber Foto : CNA, 11 April 2026)

Chang Kuo-cheng (張國城), seorang pakar hubungan internasional di Taipei Medical University, mengatakan pertemuan tersebut dapat memberikan Tiongkok pengaruh tambahan dalam negosiasi dengan AS.

Sebagai partai oposisi utama Taiwan yang mengendalikan sebagian besar pemerintahan lokal, sikap KMT dapat melemahkan kartu Taiwan milik Washington, kata Chang dalam sebuah forum di Taipei mengenai implikasi pertemuan tersebut.

Dalam pertemuan, Cheng dan Xi menegaskan kembali "Konsensus 1992", penolakan terhadap "kemerdekaan Taiwan", dan apa yang mereka gambarkan sebagai kepentingan nasional bersama.

"Konsensus 1992" mengacu pada pemahaman diam-diam antara Beijing dan pemerintahan KMT Taiwan saat itu pada 1992 bahwa ada "satu Tiongkok", dengan masing-masing mempertahankan interpretasi sendiri tentang arti "Tiongkok".

Kharis Templeman, peneliti di Hoover Institution, mengatakan pertemuan tersebut mengikuti pola yang sudah dikenal, tetapi Cheng tampak "lebih bersedia menjadi mitra".

"Dia lebih bersedia mengatakan hal-hal yang ingin didengar Beijing dibandingkan para pemimpin KMT sebelumnya," katanya.

Templeman menambahkan bahwa meskipun Xi sering digambarkan di media AS sebagai agresif dalam isu lintas selat, citra tersebut tidak tercermin dalam pertemuan ini dan mungkin memberikan sedikit ketenangan bagi Washington.

Secara terpisah, Bonnie Glaser, direktur pelaksana Program Indo-Pasifik di German Marshall Fund, mencatat bahwa Cheng tidak mengangkat kekhawatiran tentang tekanan militer Tiongkok terhadap Taiwan.

Kelalaian tersebut dapat dibaca sebagai implikasi bahwa tindakan Beijing dibenarkan jika dibingkai sebagai menargetkan "separatis", kata Glaser dalam sebuah unggahan di platform media sosial X.

(Oleh Nancy Chang, Chen Kai-yu, Shih Hsiu-chuan, dan Jason Cahyadi)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.