Taipei, 12 Apr. (CNA) Serikat Buruh Industri Perawatan Taiwan (SBIPT) mengadakan halalbihalal di Taipei pada Minggu (12/4), dengan disertai diskusi tentang perjuangan serikat dalam menghadapi permasalahan-permasalahan di Taiwan.
Ketua SBIPT, Fajar dalam sambutannya mencatat kebutuhan berserikat yang "luar biasa", dan bahwa halalbihalal ini tidak sekadar untuk saling meminta maaf dan memaafkan, tetapi juga untuk saling mengenal guna semakin getol dalam menjalankan program-program serikat.
Fajar mencatat bahwa serikat menjadi tanggung jawab bersama, "Tidak ada perbedaan antara ketua dan anggota," karena dalam SBIPT keputusan tertinggi ada pada rapat anggota.
Halalbihalal juga diisi kegiatan berbagi pengalaman serikat lokal yang diikuti diskusi permasalahan pekerja migran, termasuk sistem agensi dan batasan masa kerja.
Dalam diskusi, terdapat pembahasan tentang bagaimana serikat dapat mengambil peran lebih dalam sistem agensi yang dinilai merugikan pekerja, hingga berbagai isu dalam skema Pekerja Teknis Tingkat Menengah (PTTM).
Pembicaraan ditutup kesimpulan bahwa terdapat isu pada kebijakan pemerintah, dan bahwa serikat harus bersama-sama menyelesaikan masalah secara demokratis.
Dalam wawancara bersama CNA, Fajar mengatakan acara ini bertepatan dengan kegiatan tiga bulanan SBIPT dan halalbihalal Idulfitri tahunan serikat. Dari penyelenggaraan tahun lalu, ujarnya, ia melihat kegiatan telah berkembang dan jumlah peserta sudah bertambah.
Melihat ke depan, kata Fajar, ia berharap semakin banyak orang bergabung dengan serikat karena "serikat menjadi alat perjuangan" untuk meraih perubahan undang-undang menuju arah yang lebih baik.
Ketua Serikat Buruh Industri Manufaktur Taiwan (SEBIMA) Ignas yang hadir mengatakan acara ini "menarik, menghibur, mengedukasi", dan bahwa pihaknya "harus banyak belajar" dari para anggota SBIPT yang tergolong dalam kelompok rentan sebagai pekerja maupun perempuan.
Ignas juga mengatakan pihaknya berharap dapat membawa pelajaran dari SBIPT agar para pekerja manufaktur, yang didominasi laki-laki, bisa semakin terlepas dari paham patriarki dan kian menghargai perempuan.
Acara juga diisi saling bersalam-salaman, donor darah, hingga makan makanan khas Indonesia yang disertai sesi berbagi permasalahan yang dihadapi perawat migran.
Selesai/IF