Taipei, 31 Agu. (CNA) Direktorat Jenderal Keamanan Siber Taiwan (ACS) memperingatkan masyarakat mengenai meningkatnya penipuan melalui kode QR, termasuk kasus peretas yang mengganti kode QR pendaftaran resmi sebuah seminar dengan kode berbahaya untuk mencuri data pribadi.
ACS mengatakan peretas umumnya melakukan penipuan dengan menempelkan kode QR palsu di atas kode asli atau memodifikasi poster digital. Masyarakat disarankan memeriksa apakah terdapat bekas tempelan yang tidak wajar di sekitar kode QR sebelum memindainya. Setelah memindai, periksa kembali ejaan domain situs dan waspadai jika diminta memasukkan nomor kartu kredit, data pribadi, atau mengunduh aplikasi.
ACS menjelaskan bahwa quishing, atau phishing melalui kode QR, dilakukan dengan menyembunyikan alamat situs phishing di dalam gambar kode QR. Tujuannya umumnya untuk mencuri data pribadi atau informasi keuangan sensitif.
Penggunaan kode QR yang semakin luas untuk pendaftaran acara, pembayaran, parkir, pemesanan makanan, dan berbagai layanan publik menjadikannya salah satu sarana yang kerap dimanfaatkan peretas. Menurut laporan tim keamanan siber Microsoft, deteksi ancaman phishing melalui kode QR meningkat dari 7,6 juta kasus pada Januari menjadi 18,7 juta kasus pada Maret 2026, atau naik 146 persen.
ACS mengatakan kode QR merupakan kode yang dapat dibaca mesin sehingga bahkan pakar keamanan tidak dapat mengetahui isi di baliknya hanya dari tampilan kode. Kondisi ini dimanfaatkan pelaku untuk menyamarkan situs berbahaya dalam kode QR yang terlihat normal.
Dua metode yang umum digunakan adalah memasang atau mengganti kode QR secara fisik, misalnya pada mesin pembayaran parkir, poster acara, atau fasilitas publik, serta memodifikasi poster digital atau membuat konten yang menyerupai materi resmi untuk kemudian disebarkan kembali.
ACS menekankan bahwa memindai kode QR biasanya tidak langsung menginfeksi perangkat dengan program berbahaya. Risiko utama muncul ketika pengguna membuka situs berbahaya tersebut, misalnya dengan memasukkan nama pengguna dan kata sandi, data kartu kredit atau rekening bank, maupun mengunduh aplikasi berbahaya.
Untuk menghindari penipuan, masyarakat disarankan menerapkan kebiasaan “berhenti, periksa, dan waspada” saat memindai kode QR.
Pertama, “berhenti” dengan memeriksa kode QR fisik sebelum memindainya dan memastikan tidak ada lapisan atau tempelan yang mencurigakan. Kedua, “periksa” alamat situs setelah pemindaian dan sebelum mengekliknya, termasuk memastikan ejaan domain benar serta mewaspadai kombinasi karakter acak dan URL pendek. Ketiga, “waspada” dengan melakukan verifikasi melalui saluran resmi apabila situs menggunakan iming-iming diskon, pemberitahuan penangguhan akun, atau permintaan pembayaran, terutama jika meminta data pribadi, informasi kartu kredit, atau mengunduh aplikasi.
Sementara itu, penyelenggara yang menyediakan kode QR disarankan mencantumkan alamat situs lengkap, nama penyelenggara, atau informasi kontak yang dapat digunakan untuk verifikasi di samping kode QR. Jika menggunakan URL pendek, badan tersebut menyarankan penggunaan domain resmi yang mudah dikenali, seperti gov.tw.
Jika terlanjur memindai kode QR berbahaya tetapi belum memasukkan data atau mengunduh program, masyarakat disarankan segera menutup situs tersebut serta memperbarui sistem operasi dan peramban pada perangkat ke versi terbaru.
Jika sudah memasukkan nama pengguna dan kata sandi di situs mencurigakan, segera ubah kata sandi melalui situs atau aplikasi resmi dan aktifkan autentikasi multifaktor. Pengguna juga disarankan memeriksa riwayat login untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.
Jika telah memberikan informasi kartu kredit atau rekening bank, segera hubungi bank atau penerbit kartu, periksa riwayat transaksi, dan ikuti saran lembaga keuangan terkait, termasuk pemblokiran atau penggantian kartu jika diperlukan. Jika telah menjadi korban penipuan atau mengalami kerugian finansial, simpan halaman web, pesan singkat, catatan transaksi, dan bukti lainnya untuk segera dilaporkan kepada pihak berwenang.
(Oleh Chao Min-ya dan Agoeng Sunarto)