Taipei, 27 Agu. (CNA) Kuatnya permintaan global terhadap aplikasi kecerdasan buatan (AI) mendorong lembaga keuangan multinasional Morgan Stanley menaikkan tajam proyeksi pertumbuhan ekonomi Taiwan untuk tahun 2026 dan 2027.
Efek berganda dari ekspor teknologi mulai merambah ke sektor investasi domestik, industri jasa, dan konsumsi swasta, kata Morgan Stanley.
Dalam laporan ekonomi terbarunya, lembaga itu pun merevisi estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Taiwan tahun 2026 dari 8,9 persen menjadi 11,6 persen. Angka ini berpotensi mencatatkan rekor tertinggi dalam kurun hampir 40 tahun terakhir.
Sementara itu, Morgan Stanley juga mengerek proyeksi pertumbuhan PDB Taiwan untuk tahun 2027 dari 4,7 persen ke 7,5 persen.
Morgan Stanley merujuk data resmi pemerintah yang menunjukkan PDB Taiwan tumbuh 15,43 persen secara tahunan pada kuartal pertama dan 12,92 persen pada kuartal kedua 2026. Alhasil, rata-rata pertumbuhan ekonomi semester pertama mencapai 14,15 persen, melampaui ekspektasi pasar.
Kenaikan proyeksi ini didasarkan pada tiga pilar utama, yakni lonjakan ekspor teknologi berbasis AI, kenaikan belanja modal rantai pasok semikonduktor, serta pemulihan konsumsi masyarakat yang ditopang geliat sektor jasa dan stimulus pemerintah, menurut Morgan Stanley.
Struktur pertumbuhan Taiwan kini tidak lagi semata bergantung pada ekspor neto, melainkan telah merata ke aktivitas ekonomi domestik berkat siklus super semikonduktor, kata Morgan Stanley.
Total ekspor Taiwan sepanjang 2026 diperkirakan tumbuh 20,7 persen, menurut Morgan Stanley.
Kendati laju pertumbuhan pengiriman diproyeksikan melambat dari sekitar 28 persen pada semester pertama menjadi 13 persen pada semester kedua akibat basis pembanding yang tinggi, Morgan Stanley menegaskan belum terlihat tanda-tanda pelemahan mendasar pada siklus industri cip.
Tingginya nilai tambah cip mutakhir serta kuatnya belanja modal AI global tetap menjadi penopang utama ekspor nominal, lanjut lembaga itu.
Di sisi inflasi, indeks harga konsumen (CPI) Taiwan diproyeksikan naik masing-masing 2,1 persen pada 2026 dan 2,2 persen pada 2027, di atas target kewaspadaan 2 persen bank sentral.
Tekanan inflasi dipicu oleh harga bahan bakar, harga pangan akibat faktor cuaca, kenaikan harga perangkat teknologi, serta peningkatan ekspektasi upah, menurut Morgan Stanley.
Laporan juga menambahkan, rencana pemerintah Taiwan untuk membagikan kembali bantuan tunai langsung sebesar NT$10.000 (Rp5,6 juta) per orang pada 2027 berpotensi menyumbang tambahan 0,3 poin persentase pada pertumbuhan PDB tahun depan jika disetujui, kendati berisiko mempertebal tekanan inflasi dari sisi permintaan.
(Oleh Jeffrey Wu dan Agoeng Sunarto)
Selesai/JC