Praha, 15 Mar. (CNA) Tiga film yang diproduksi Taiwan, termasuk "Slave Island" (奴隸島) yang menyoroti isu sistem perbudakan di Pulau Sumba, Indonesia, telah masuk dalam One World Festival, festival film hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di Republik Ceko.
"Slave Island"", karya kolaborasi Taiwan, Belgia, Estonia, dan Italia, terpilih dalam kategori kompetisi festival HAM "Right to Know", dan akan bersaing dengan sembilan film lainnya untuk memperebutkan Václav Havel Jury Award.
Dokumenter ini mengungkap sistem perbudakan di Pulau Sumba, di mana orang-orang yang disebut Ata menjadi milik keluarga-keluarga dari kasta lebih tinggi, dihukum secara fisik, dan hidup tanpa kebebasan, menurut situs web festival.
Aktivis Jeremy Kewuan berusaha mengakhiri bentuk penindasan ini, dan bertemu dengan Lucky, seorang pria yang menganggap kemampuan memiliki beberapa orang yang diperbudak sebagai hak mutlaknya.
Melalui penyelidikan, tokoh utama berupaya menyelamatkan seorang gadis berusia delapan tahun dan mendorong perubahan sistemik yang lebih luas. Dokumenter ini mengumpulkan kesaksian dari orang-orang yang pernah diperbudak, kepala-kepala suku, dan orang-orang lain yang masih mempercayai praktik ini.
Sementara itu, film Taiwan lainnya, "Yen and Ai-Lee" (小雁與吳愛麗) menggambarkan kisah hubungan ibu-anak. Pemeran utama membunuh ayahnya demi melindungi ibunya, dan setelah keluar dari penjara, harus menghadapi kembali hubungannya dengan sang ibu serta memulai proses berdamai dengan trauma pribadinya.
Sutradara Lin Shu-yu (林書宇) mengatakan kepada CNA bahwa masuknya karyanya ke festival HAM yang dikenal secara global merupakan kehormatan sekaligus kejutan besar, dan ia sangat menantikan tanggapan penonton.
Dalam diskusi pascapenayangan, Lin membagikan bahwa pemeran utama Kimi Hsia (夏于喬) sebenarnya adalah istrinya, dan mereka sebelumnya belum pernah bekerja sama. Saat pandemi melanda, pekerjaan mereka terhenti, sehingga mereka tinggal di rumah dan memikirkan proyek kreatif baru, ujarnya.
Lin mengenang, ia pernah menanyakan kepada istrinya topik apa yang paling ingin dieksplorasi. Hsia, ucapnya, menjawab bahwa ia ingin mengeksplorasi hubungan ibu-anak perempuan karena hubungannya dengan ibunya kompleks dan sulit.
Dari situlah proyek ini dimulai, meski Lin tidak tahu harus mulai dari mana, hingga ia meneliti data dan membaca berita untuk mencari inspirasi.
Pada satu titik, kata Lin, ia menemukan sebuah berita tentang seorang pria muda berusia awal 20-an yang membunuh ayahnya demi melindungi ibunya dalam konteks kekerasan dalam rumah tangga, dan akhirnya divonis delapan hingga sembilan tahun penjara.
Lin kemudian merenungkan bagaimana hubungan ibu-anak dalam kejadian itu berubah setelah pria itu keluar dari penjara saat masih berusia 30-an.
Film dokumenter "SPI" (烤火房的一些夢) bercerita tentang sutradara Sayun Simung yang kembali ke kampung halamannya setelah memimpikan mendiang kakeknya, untuk kembali terhubung dengan warisan keluarga dan cara hidup tradisional masyarakat adat Taiwan.
Melalui penggambaran intim tentang adat suku Tayal, Sayun menemukan kembali koneksi yang hilang dengan komunitasnya, sekaligus menunjukkan perjuangan mempertahankan budaya tradisional di tengah kehidupan modern dan ingatan leluhur.
Film ini terpilih sebagai salah satu "film yang wajib ditonton" oleh direktur program festival Tomáš Poštulka.
"Dokumenter 'SPI' dibuka dengan perjalanan motor, membawa kita ke dunia misterius yang diselimuti kabut, sebuah tempat di ambang hidup dan mati," kata Poštulka di situs web festival.
"Sayun Simung mengeksplorasi cara berkomunikasi dengan leluhur melalui mimpi, sambil berani menantang nilai-nilai keluarga yang tertanam dalam tradisi dengan pandangan hidup modernnya," ucapnya.
Sutradara Sayun Simung dan produser Huang Hui-chen (黃惠偵) juga hadir di Ceko untuk berbagi konsep kreatif dan berdiskusi dengan penonton internasional.
One World Festival digelar di Praha dari 11 hingga 19 Maret, dengan fokus pada isu HAM global seperti kesetaraan gender, penganiayaan politik, kondisi pengungsi, dan hak-hak kelompok minoritas.
(Oleh Liu Yu-ting dan Jason Cahyadi)
Selesai/ja