Taipei, 12 Mar. (CNA) Perusahaan listrik milik negara Taiwan bulan ini akan mengajukan rencana untuk mengoperasikan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Kabupaten Pingtung, membuka jalan bagi pembangkit itu untuk mulai menghasilkan listrik paling cepat pada 2028, kata Menteri Urusan Ekonomi Kung Ming-hsin (龔明鑫) pada Rabu (11/3).
Dalam sidang di Yuan Legislatif, Kung ditanya Legislator Partai Rakyat Taiwan (TPP)) Liu Shu-pin (劉書彬) apakah pemerintah mempertimbangkan penggunaan energi nuklir sebagai sumber energi yang stabil jika terjadi blokade saat perang.
Mengutip simulasi perang yang dilakukan lembaga pemikir Amerika Serikat, Liu mencatat bahwa jika Tiongkok memblokade Selat Taiwan, Taiwan akan kehabisan cadangan gas alam dalam sepuluh hari, cadangan batu bara dalam tujuh pekan, dan cadangan minyak dalam 20 pekan.
Hal itu akan membuat Taiwan hanya memiliki 20 persen dari kapasitas pembangkit listrik saat ini.
Menanggapi hal tersebut, Kung mengatakan bahwa inspeksi keselamatan terhadap PLTN No. 3 (Maanshan) di Pingtung sudah berlangsung, dan perusahaan listrik milik negara Taiwan Power Co. (Taipower) diperkirakan akan mengajukan rencana untuk menghidupkan kembali pembangkit tersebut akhir bulan ini.
Ketika ditanya Liu apakah hal itu bisa terjadi pada 2028, Kung mengatakan pemerintah telah menandatangani kontrak dengan Westinghouse untuk memeriksa kondisi generator di pembangkit tersebut.
Jika peralatan di PLTN dalam kondisi baik, dan tidak terlalu banyak yang perlu diganti, jadwalnya bisa dipercepat, kata Kung.
Tanggapan Kung sebagian besar sejalan dengan komentarnya akhir tahun lalu, ketika ia memperkirakan inspeksi keselamatan akan memakan waktu 1,5-2 tahun, dengan laporan diserahkan ke Komisi Keselamatan Nuklir pada pertengahan 2027, dan pembukaan resmi paling cepat pada 2028.
Setelah gempa bumi 311 di Jepang dan kecelakaan nuklir Fukushima pada tahun 2011, penolakan terhadap energi nuklir di Taiwan meningkat.
Didukung Partai Progresif Demokratik (DPP), gerakan antinuklir berhasil menekan pemerintah Kuomintang (KMT) saat itu untuk menghentikan dan menyegel PLTN No. 4 (Lungmen) yang masih dalam tahap konstruksi di New Taipei pada 2014.
Setelah berkuasa pada 2016, DPP membuat rencana untuk mewujudkan "tanah air bebas nuklir" pada 2025.
Pemerintah kemudian menghentikan pembangkitan listrik di PLTN No. 1 (Jinshan) pada 2019, PLTN No. 2 (Kuosheng) pada 2023, dan PLTN No. 3 pada 17 Mei tahun lalu.
Di bawah kebijakan tersebut, porsi energi nuklir dalam bauran energi Taiwan turun dari 19 persen pada tahun 2011 menjadi nol, dengan sebagian besar kekurangan diisi sumber energi fosil.
Menurut data Direktorat Jenderal Energi, 47,8 persen pembangkitan energi Taiwan pada 2025 berasal dari gas alam, sementara batu bara menyumbang 35,4 persen dan energi terbarukan sebesar 13,1 persen.
Minyak bakar, pembangkit listrik tenaga air pompa, dan beberapa bulan terakhir energi nuklir dari PLTN No. 3 menyumbang sisanya.
Pada akhir Agustus tahun lalu, diadakan referendum yang bertujuan untuk memperpanjang operasional PLTN No. 3, atas usulan TPP dan dukungan KMT. Menurut Komisi Pemilihan Umum Pusat, 4.341.432 orang (21,7 persen) memilih mendukung, sementara 1.511.693 (7,5 persen) menolak.
Namun, referendum dengan tingkat partisipasi yang mencapai 29,53 persen tersebut gagal memenuhi ambang batas hukum, yang mengharuskan suara dukungan dari setidaknya 25 persen pemilih yang memenuhi syarat, atau 5.000.523 suara, sehingga gagal.
Kekhawatiran akan kemungkinan Tiongkok memblokir impor energi ke Taiwan jika terjadi perang, serta isu seperti polusi udara dan meningkatnya permintaan listrik dari kecerdasan buatan, akhirnya mendorong pemerintah untuk tiba-tiba membalikkan posisinya.
Pada November lalu, pemerintah mengatakan Taipower diperkirakan akan mengajukan rencana untuk membuka kembali PLTN No. 2 (Kuosheng) di New Taipei dan PLTN No. 3 (Maanshan) di Pingtung.
Namun, Taipower menyimpulkan bahwa menghidupkan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir No. 1 (Jinshan) -- pembangkit nuklir pertama Taiwan, yang juga terletak di New Taipei -- tidak memungkinkan karena dua reaktornya telah dinonaktifkan pada tahun 2018 dan 2019, serta peralatannya sudah sangat tua.
Ketika beroperasi pada kapasitas penuh, dua generator di PLTN No. 3 dapat menyumbang sekitar 5,5-6 persen dari total pembangkitan listrik Taiwan.
Selesai/JC