Washington/Taipei, 12 Mar. (CNA) Amerika Serikat (AS) pada Rabu (11/3) waktu setempat meluncurkan serangkaian investigasi baru terhadap kebijakan dan praktik manufaktur dari 16 mitra dagang, termasuk Taiwan dan Indonesia, dengan alasan kekhawatiran tentang kapasitas berlebih dan produksi berlebihan.
Pengumuman ini dikeluarkan kurang dari tiga pekan setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif impor global yang diberlakukan Presiden Donald Trump, dan secara luas dipandang sebagai upaya pemerintahannya untuk membangun kembali tekanan tarif terhadap mitra dagang.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan investigasi yang diluncurkan berdasarkan Bagian 301 dari Undang-Undang Perdagangan tahun 1974 ini akan meneliti apakah kebijakan dan praktik 16 mitra dagang tersebut berkontribusi pada kapasitas berlebih struktural dan produksi di sektor manufaktur dan apakah kebijakan tersebut tidak masuk akal atau diskriminatif.
Mitra ekonomi yang menjadi subjek penyelidikan terbaru ini meliputi Taiwan, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, Singapura, Swiss, Norwegia, Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, Vietnam, Bangladesh, Meksiko, dan India, menurut Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR).
Bagian 301 memungkinkan Washington untuk memberlakukan tarif balasan atas praktik perdagangan yang dianggap tidak adil, termasuk menjalankan surplus perdagangan yang besar.
Greer mengatakan langkah ini mencerminkan dorongan Trump untuk membangun kembali sektor manufaktur AS dan memperkuat rantai pasokan domestik.
Ia mengatakan kelebihan kapasitas struktural di ekonomi asing telah menjadi tantangan bagi upaya Washington untuk mengindustrialisasi kembali Amerika Serikat.
"Di banyak sektor, Amerika Serikat telah kehilangan kapasitas produksi domestik yang substansial atau telah tertinggal secara mengkhawatirkan dari para pesaing asing," ucapnya.
Setelah peluncuran investigasi ini, USTR mengatakan telah meminta konsultasi dengan pemerintah dari 16 mitra dagang tersebut. Sidang publik terkait investigasi ini dijadwalkan akan dimulai pada 5 Mei.
Sementara itu, Juru Bicara Yuan Eksekutif Michelle Lee (李慧芝) menjelaskan melalui pernyataan tertulis bahwa tim negosiasi Taiwan telah terus berkomunikasi secara intensif dengan USTR dan Departemen Perdagangan AS untuk menyiapkan respons terbaik.
AS juga telah memberitahu Taiwan sebelum mengumumkan investigasi Bagian 301, sehingga pemerintah telah siap dengan perkembangan ini, tambah Lee.
Lee mengatakan Taiwan dan AS telah menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik (ART), yang di dalamnya telah ada kesepakatan mengenai berbagai isu yang mungkin termasuk dalam investigasi Bagian 301.
Pemerintah, ujarnya, yakin bahwa hasil investigasi akan mencerminkan sepenuhnya hasil negosiasi ART sebelumnya, sehingga keunggulan relatif dan perlakuan terbaik yang diperoleh Taiwan melalui perjanjian itu tetap terjamin.
Menurut Lee, Greer sebelumnya menekankan bahwa terkait pengaruh investigasi Bagian 301 terhadap kesepakatan yang sudah ada dengan negara-negara lain, Trump berharap agar perjanjian tetap dipertahankan.
Selesai/IF