Taipei, 11 Mar. (CNA) Taiwan tidak akan secara tajam menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas alam meskipun harga minyak global melonjak akibat konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung yang dipicu serangan Amerika dan Israel terhadap Iran, kata pejabat pada Selasa (10/3).
Berbicara kepada wartawan di Yuan Legislatif (Parlemen), Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) mengatakan bahwa Yuan Eksekutif (Kabinet) telah mengaktifkan mekanisme "stabilisasi ganda" sejak Senin untuk membatasi kenaikan harga bensin dan solar.
Mekanisme "stabilisasi ganda" adalah langkah penyesuaian harga BBM berdasarkan harga minyak dunia, pengurangan pajak barang oleh pemerintah, pemastian bahwa harga di Taiwan tetap terendah di antara negara sekitar, dan penstabilan harga minyak dalam negeri.
Berdasarkan rumus perhitungan BBM normal, harga bensin dan solar seharusnya naik masing-masing NT$5,4 (Rp2.868) per liter dan NT$4,8 per liter pada Senin, tetapi di bawah mekanisme tersebut, kenaikannya dibatasi menjadi NT$1,5 dan NT$1,1 per liter.
Wakil Perdana Menteri Cheng Li-chiun (鄭麗君) dalam rapat stabilisasi harga Kabinet hari Senin mengatakan bahwa perusahaan milik negara CPC Corp., Taiwan, akan menanggung 60 persen dari kenaikan harga tersebut.
Taiwan mengadopsi kebijakan serupa setelah invasi Rusia ke Ukraina, yang menyebabkan harga minyak melonjak, tetapi menyebabkan kerugian bagi CPC Corp. sebesar NT$193,7 miliar pada 2022, NT$22,4 miliar pada 2023, dan NT$35,45 miliar pada 2024.
Cho mengatakan Kabinet juga telah menerapkan pemotongan pajak komoditas sebesar 50 persen -- maksimum sementara -- untuk impor solar dan bensin, serta akan menyubsidi masing-masing 50 persen dan 14 persen biaya bahan bakar untuk sektor pertanian dan perikanan.
Dalam sesi Parlemen pada Selasa, legislator oposisi dari Kuomintang (KMT) Wang Hung-wei (王鴻薇) bertanya kepada Menteri Ekonomi Kung Ming-hsin (龔明鑫) apakah perang di Timur Tengah akan mengganggu pasokan gas alam Taiwan, yang hampir seluruhnya bergantung pada impor.
Kung menjawab bahwa ia yakin skenario seperti itu tidak akan terjadi.
Kung hari Senin mengatakan kementeriannya telah mengamankan 20 dari 22 kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang diperkirakan diperlukan Taiwan untuk mengangkut LNG hingga April sebagai respons terhadap situasi di Timur Tengah, dan pihaknya diperkirakan dapat mengamankan dua sisanya dalam waktu dekat.
Ia juga mengatakan bahwa CPC Corp. saat ini tidak berencana menaikkan harga LNG, meskipun ada laporan bahwa Formosa Petrochemical Corp., importir LNG besar lainnya di Taiwan, telah menaikkan harga sebesar NT$20 per barel di beberapa bagian Taiwan selatan.
Namun ia tidak mengungkapkan apakah hal itu akan berlanjut, karena harga gas alam melonjak akibat konflik di Timur Tengah.
Menurut Japan/Korea Marker (JKM), yang mencakup harga gas alam ke Asia Timur, termasuk Taiwan, harga pada Senin mencapai US$55,38 per MWh (megawatt-jam), naik 51,3 persen dari US$36,60 per MWH yang tercatat pada 27 Februari, tepat sebelum perang dimulai.
Selesai/ML