Taipei, 8 Mar. (CNA) Empat karya seniman asal Indonesia dan sejumlah karya seniman Hong Kong dan Taiwan yang bersinggungan dengan Nusantara dipamerkan dalam pameran "Tidal Weavers: Island Exchange" yang digelar di Honggah Museum Taipei mulai Sabtu (3/7) hingga 31 Mei mendatang.
Karya-karya ini termasuk pengalaman residensi seniman sulam Bogor, Meita Meilita dengan suku Kavalan Taiwan di Hualien tahun lalu; kisah pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong yang diterjemahkan dalam berbagai benda oleh desainer Bandung, Widi Asari; mitos pesugihan dalam konteks industri oleh Studio Prewangan dari Tuban; hingga penerjemahan statistik data menjadi motif batik yang diciptakan Ade Darmawan.
Selain itu, terdapat karya seniman Hong Kong, Yip Kai Chun (葉啟俊) yang menyarikan pengalaman residensinya di Pontianak dan Singkawang terkait tradisi etnis Hakka, serta Ma Wing Man Mandy (馬穎汶) yang belajar menenun ala Maumere dan membuat kain tenun Maumere-nya sendiri untuk pameran ini.
Ada pula karya seniman Taiwan, Yang Wei-Lin (楊偉林) dalam bentuk instalasi berbahan kain diilhami dari perjalanannya ke Tuban; karya seniman suku Paiwan, Chang En-Man (張恩滿) yang merefleksikan perjalanannya ke Makassar; dan karya dari Alma Quinto, seorang seniman senior asal Filipina yang menyajikan corak kain dari komunitas Muslim Tausug di Sulu, sebuah provinsi di negaranya.
Kepada CNA, Ade, yang juga menjadi direktur artistik, menyebut gagasan awal pameran ini bermula dari riset terkait karya yang berfokus pada tradisi maritim dan pesisir, bagaimana perpindahan manusia dari laut ke darat dari zaman Majapahit hingga era kolonial. Penelitian ini berbasis di Makassar, Maumere, dan Tuban.
Gagasan yang sudah lama dibangun ini mendapat sambutan dari kurator kepala Centre for Heritage, Arts, and Textile di Hong Kong, yang menawarkan memperluas cakupan risetnya ke wilayah pelabuhan lain seperti di wilayahnya, kata Ade. Pun direktur dan kurator Honggah Museum Taipei, Zoe Yeh (葉佳蓉) juga menyambut riset ini dengan menyertakan Taiwan.
"Terus saya tambahkan Pontianak. Biar ada jembatannya. Karena di Pontianak kan banyak budaya bercampur dari Melayu, Hakka, dan sebagainya," kata Ade.
Setelah gagasan ini disepakati, dimulailah proses pertukaran seniman, seiring kepercayaan Ade bahwa pelaku seni perlu berhubungan dengan komunitas lokal dalam proses penciptaan karyanya. Misalnya, Meita yang ke Hualien; Yip dari Hong Kong yang ke Pontianak; atau Yang dari Taiwan ke Tuban.
"Kami cocokkan praktik seniman sebelumnya dengan komunitas lokal yang kami pikir akan seru nih kalau digabung. Jadi bikin karya jadi akibat saja. Tetapi sebabnya lebih ingin menjalin beyond borders, beyond state juga," kata dia.
Ade juga menyebut dari kolaborasi ini ternyata membangun refleksi, masing-masing baik dari senimannya sendiri maupun dari komunitas lokal yang mereka kunjungi.
Perjalanan Mandy dari Hong Kong mempelajari tenun Maumere misalnya, diapresiasi penenun setempat karena banyak dari generasi muda di sana yang sudah tidak lagi menenun. "Di Hualien juga sama, Meita dengan komunitas lokal di suku Kavalan sudah seperti keluarga jadinya," kata Ade seraya mengatakan pameran ini nanti akan dibawa juga ke Indonesia pada 19 Juni nanti.
Dari pesugihan, bau masakan, hingga tantangan pelestarian
Salah satu karya seniman Indonesia di pameran ini adalah Pesugihan Dhedhet Kemukus, karya instalasi dan audio visual yang diciptakan kolektif seni asal Tuban, Jawa Timur, Studio Prewangan.
Indra Prayhogi dari Studio Prewangan menyebut karya ini diilhami mitos pesugihan dengan aktivitas pertambangan batu bara di jalur pantai utara tersebut, yang jadi pemandangan umum bagi masyarakat Tuban.
Bagi mereka, ujarnya, pemandangan gundukan pasir hitam, kapal tanker, dan lautan seperti praktik pesugihan Dewi Lanjar di pantai utara Jawa, yang konon ritualnya adalah melarung sesaji serba hitam.
"Kami membayangkan pesugihan dan aktivitas ini sama. Warnanya hitam, dilarungkan di laut utara, bikin kaya, hingga punya kesepakatan yang kuat. Yang satunya antar-perusahaan, yang satunya dengan makhluk gaib. Dan kalau bicara tumbal, sama-sama ada tumbalnya. Baik dari pekerjanya, alamnya, dan kami melihatnya sebagai bentuk pesugihan baru," kata Indra.
Proyek seni ini menampilkan video aktivitas penambangan dengan diiringi nada gamelan dan mantra. Menariknya, mantra ini disajikan dalam bahasa Jawa kuno khas pewayangan yang diterjemahkan dari perjanjian antarperusahaan tambang tersebut, sementara instalasi yang dipajang di depan videonya diambil dari limbah pabrik yang diumpamakan sebagai tempat menyimpan sesaji.
Sementara itu, Widi menyarikan pengalaman residensinya di Hong Kong dan interaksinya dengan PMI di sana, mengeksplorasi kehidupan pekerja domestik dengan dapur rumah tangga keluarga majikan.
Semula, Widi yang berkontak dengan the Indonesian Migrant Workers Union di Hong Kong, hendak menyajikan karya kolaborasi antara pekerja dan majikan. Namun, itu tidak mudah. Ia pun mengundang sejumlah PMI untuk membawa kain dari dapur pemberi kerja dan melibatkan para pekerja dalam lokakarya.
"Saya minta mereka tutup mata mereka, mencium bau dari kain itu, meraba tekstur, dan saya tanya lima pertanyaan mulai dari makanan apa yang paling dirindukan di dapur Indonesia; makanan Hong Kong apa yang paling disukai; makanan Indonesia apa yang pernah dibuat untuk keluarga majikan; makanan Hong Kong apa yang pernah diberikan oleh majikan dan paling berkesan; dan solidaritas apa yang paling mereka suka dengan personal kalian. Pertanyaan ini dijawab oleh gambar. Dari gambar ini ditransfer ke corak di 15 apron yang saya buat," kata Widi.
Pemilihan dapur sendiri menarik buat Widi karena ini adalah ruang kerja orang Indonesia dan lebih dari sekadar ruang domestik si pemilik rumah, tetapi juga jadi tempat berbagi antarbangsa, di mana majikan Hong Kong mengundang pekerja dari Indonesia ke ruang domestiknya.
"Makanan ini jadi tempat pertukaran afeksi, kasih sayang. Kita sering dapat kabar kekerasan dari majikan, tetapi di sisi lain ada juga cerita bagaimana hubungan majikan dan buruh ini dibangun di dapur lewat masakan. Mereka disayang karena pintar bikin masakan Hong Kong, sebaliknya dengan majikan memilih ini masakan babi atau bukan, sudah memberi kenyamanan pada pekerjanya," ucapnya.
Adapun keberangkatan Meita ke Hualien adalah rekomendasi dari kurator Ade dan Yeh. Tadinya, ia hendak meriset soal komunitas Hakka, namun perjumpaannya dengan suku Kavalan yang minoritas membuat dirinya lebih tertarik.
"Problem-nya, yang tinggal di Hualien ini hanya tetuanya. Sementara yang muda sudah banyak yang pindah ke kota dan sudah tidak banyak yang melestarikan ritualnya, berbeda dengan masyarakat Amis yang lebih mayoritas. Dari pengalaman tersebut karya ini diilhami," kata Meita.
Dari pengalaman ini, kata Meita, ia menemukan banyak kesamaan antara suku Kavalan dengan dirinya sebagai orang Indonesia. Yang paling umum, misalnya, kesamaan kata untuk mata dan penyebutan angka lima.
Meita yang praktik seninya fokus pada teknik menyulam lalu mentransformasikan penemuan-penemuan dia dalam sulaman di atas kain sebagai bentuk pengarsipan ingatan dari para kolaborator.
Ia menilai, sejarah yang sudah ada sering kali sudah disaring oleh penguasa, dan lewat keintimannya dengan masyarakat adat Kavalan selama proses residensi membuat Meita berupaya menyarikan narasi dari masyarakatnya sendiri.
Selesai/JC