Buku “Nyanyian di Perantauan”, arsipkan 115 lagu gubahan PMI

30/11/2025 16:24(Diperbaharui 30/11/2025 16:24)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Peneliti Wu Ting Kuan, memaparkan penelitiannya dalam acara peluncuran buku “Nyanyian di Perantauan” di New Taipei, 22 November 2025. (Sumber foto: CNA)
Peneliti Wu Ting Kuan, memaparkan penelitiannya dalam acara peluncuran buku “Nyanyian di Perantauan” di New Taipei, 22 November 2025. (Sumber foto: CNA)

Taipei, 30 Nov. (CNA) Komunitas Trans/Voices Project merilis buku kedua “Nyanyian di Perantauan: Kumpulan Lirik Lagu Pekerja Migran Indonesia dan laporan Skena Musik di Taiwan 2024” baru-baru ini, merangkum 115 lirik lagu yang berasal dari 30 musisi dan band Indonesia yang pernah atau masih tinggal di Taiwan, menjadi sekuel dari buku pertama yang terbit 2021 lalu. 

Wu Ting-Kuan (吳庭寬), peneliti musik dan komunitas pekerja migran Indonesia (PMI) dari Trans/Voices Project, yang menginisiasi pengarsipan ini menyebut kancah seni dan budaya yang dibangun oleh pekerja migran sebagai agen budaya yang aktif mendapat perhatian lebih dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Wu menilai seni dan kebudayaan itu tidak seharusnya berakhir sebagai komoditas eksotik namun harus diakui dengan segala kompleksitasnya.

“Karya seni yang dihasilkan oleh pekerja migran seringkali sulit untuk dikategorikan dalam kancah seni budaya baik di Indonesia maupun di Taiwan. Ketidakhadiran tubuh pekerja dan migran yang disengaja adalah hal yang ingin kami kaji melalui metode penelitian seperti studi lapangan dan pengarsipan. Selain itu, kami juga berupaya mengembangkan narasi sejarah melalui tulisan, pameran, diskusi, dan berbagai jalur lainnya untuk membuka ruang dialog bagi seni dan budaya migran,” kata Wu.

Penelitian buku ini merupakan riset sinambung melanjutkan buku pertama yang memuat 64 karya musik ciptaan sendiri, lagu adaptasi dan lagu kolaborasi dari 23 pemusik serta grup musik Pekerja Migran Indonesia (PMI). Kali ini lagu yang dimuat punya gaya sangat beragam mulai dari folk, pop, rock, metal, punk, reggae, rap, dangdut, hingga tarling.

Menurut Wu, selain karya asli atau kolaborasi dari 16 musisi seperti di antaranya ABK (Anak Buah Kapal) Migran Ang Wang yang pernah bekerja di Pingtung atau penyanyi Maria Chullun yang merupakan pekerja domestik, buku ini juga menghimpun karya sejumlah band seperti Southern Riot, kuartet punk asal Indonesia yang berdomisili di selatan Taiwan, unit metal Dream of Death yang berbasis di utara dan tengah Taiwan, serta sextet metal-core Jubah Hitam yang kini mulai mencoba menapaki karir bermusik di Indonesia.

“Selain itu juga terdapat lagu-lagu dari album fisik generasi pertama (2000-2009) band PMI seperti Relix Band, Eyeshadow, dan Pandawa,” kata Wu seraya menuturkan buku ini memuat juga sembilan artikel yang membahas kancah musik migran di Taiwan yang ditulis oleh sejumlah peneliti seperti etnomusikologi Michael HB Raditya; peneliti seni kontemporer Aubrey Fanani; peneliti gerakan sosial dan musik independen Ralf Ruckus, hingga suara dari pekerja migran sendiri yakni Mohamad Rivai, pemain bass dari kelompok Southern Riot yang menulis bagaimana musik tradisional Tarling menjadi pelepas kerinduan bagi orang Indramayu di rantau Taiwan.

“Saya juga menulis bagaimana pekerja migran menggunakan lagu untuk memperkuat identitas mereka di negeri asing. Di saat yang sama, dorongan untuk membangun identitas dan menyuarakan kebutuhan mereka menjadikan musik sebagai sarana yang mampu meruntuhkan batas-batas etnis antara suku atau ras,” ucap Wu.

Alur perjalanan migran

Sementara itu, Lan Yu Chen (藍雨楨) yang juga peneliti Trans/Voices Project menyebut proses pengumpulan, pendokumentasian, dan penerbitan musik dimulai oleh Trans/Voices Project pada tahun 2020 dengan alur eksplorasi mulai dari sastra dan tulisan, lalu musik dan video, kemudian seni visual, seni pertunjukan, dan berbagai bentuk ekspresi lain, hingga akhirnya kembali menyempit ke fokus pada musik.

Peneliti Lan Yu Chen, memaparkan penelitiannya dalam acara peluncuran buku “Nyanyian di Perantauan” di New Taipei, 22 November 2025. (Sumber foto: CNA)
Peneliti Lan Yu Chen, memaparkan penelitiannya dalam acara peluncuran buku “Nyanyian di Perantauan” di New Taipei, 22 November 2025. (Sumber foto: CNA)

Menurut Lan, ia dan Wu mulanya ingin mengeksplorasi medan seni-budaya pekerja Indonesia di Taiwan karena saat itu belum banyak yang membicarakan bagaimana pekerja migran berkarya, atau kalaupun dibicarakan sering jatuh pada imajinasi yang sempit misalnya bahwa mereka menulis cerita sukses bangkit dari kesulitan, atau sebaliknya menempatkan mereka hanya sebagai korban.

“Namun, yang mungkin tidak banyak diketahui adalah bahwa para pekerja migran sendiri sudah sejak lama menerbitkan karya mereka secara mandiri. Mereka menulis kisah mereka sendiri dan menerbitkannya dalam bentuk buku menceritakan kisah cinta, suka, dan duka mereka di Formosa,” kata Lan.

Dalam musik yang Trans/Voices Project kumpulkan yang kemudian divisualisasikan oleh seniman Bodhi IA  dan menjadi sampul buku ini, Lan menilai nyanyian, musik, dan lagu-lagu ini bukan hanya karya pribadi, tetapi juga merupakan gambaran adegan penting dalam kehidupan pekerja migran. Di dalamnya terekam kisah perpindahan mereka, dan ini merupakan potret penting dari sekelompok pekerja di Taiwan, bahkan melampaui beberapa generasi pekerja.

Menurut Lan, dalam adegan musikal tersebut ada para kreator, para produsen, para pendengar, dan mereka yang menikmati musik. 

“Mereka menciptakan sebuah ekosistem musik yang sangat kaya dan penuh vitalitas. Di dalam ekosistem itu ada emosi personal serta ikatan di antara mereka yang menjadi kekuatan untuk menciptakan dunia musik yang begitu beragam,” kata Lan.

Merekam harapan dan sedu sedan

Penyanyi Maria Chullun (menggunakan topi hitam) dan Gunadi dari band Dream of Death (jaket biru), dalam acara peluncuran buku “Nyanyian di Perantauan” di New Taipei, 22 November 2025. (Sumber foto: CNA)
Penyanyi Maria Chullun (menggunakan topi hitam) dan Gunadi dari band Dream of Death (jaket biru), dalam acara peluncuran buku “Nyanyian di Perantauan” di New Taipei, 22 November 2025. (Sumber foto: CNA)

Banyak dari lagu yang dibuat oleh PMI di Taiwan memang berdasar pada pengalaman pribadi mereka. Gunadi, vokalis dari band Dream of Death misalnya membuat lagu tentang diskriminasi yang masih kerap ditemui terjadi kepada sejumlah pekerja migran bahkan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

“Misalnya pernah suatu hari saya mengantre untuk membeli minuman. Ketika melayani orang lain penjualnya terkesan ramah, tetapi ketika melayani kami, terlihat bermuka masam. Itu kami jadikan inspirasi buat lagu kami yang bercerita tentang semua manusia itu sebenarnya sama saja,” kata Gunadi yang bekerja di bidang manufaktur ini.

Senada dengan Gunadi, Maria Chullun, seorang pekerja sektor domestik yang berasal dari Lampung juga menceritakan banyak lagu yang ia gubah merupakan cerita dirinya. Misalnya lagu “Antara Bandung dan Taichung” bercerita tentang hubungan jarak jauh antara dirinya yang saat itu bekerja di Taichung dengan komposer asal Bandung, Gito Shantiong yang kini menjadi suaminya. 

Selain itu ada juga lagu “We are Unity” yang bercerita tentang momen saat ia dimarahi oleh majikan. “Ya memang itu bercerita tentang pengalaman kami di Taiwan,” kata Maria tentang cerita di balik lagunya itu.

(Oleh Muhammad Irfan)

Selesai/JA

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.