Paris, 6 Agu. (CNA) Pesenam Taiwan Tang Chia-hung (唐嘉鴻) meraih medali perunggu di palang tunggal putra di Olimpiade Paris pada hari Senin (5/8) meskipun gagal menangkap palang pada suatu gerakan dan jatuh ke matras.
Pada malam hari ketika enam dari delapan finalis gagal menangkap palang atau jatuh ke matras, skor Tang yang sebesar 13,966 cukup untuk bisa seri di tempat ketiga dengan Zhang Boheng (張博恆) dari Tiongkok.
Dijuluki "Raja Kucing" Taiwan karena gerakan Yamawaki atau lompatan "kucing" vertikalnya, Tang menjadi yang pertama tampil di antara para finalis. Namun ia memulai set dengan buruk ketika ia jatuh ke lantai di permulaan, tetapi berhasil bangkit kembali dan menyelesaikan gerakannya dengan bersih.
Pada titik itu tampaknya harapan medali telah sirna, terutama mengingat bahwa skor kualifikasi terendah dari kedelapan finalis adalah 14,366.
Setelah terjatuh di matras, Tang segera kembali bangkit, disambut tepuk tangan penonton dan kembali ke palang tunggal dengan senyum di wajahnya.
"Sebenarnya, saya tidak terlalu memikirkannya," kata Tang kepada CNA setelah pertandingan. "Saya hanya ingin membuktikan bahwa upaya saya di masa lalu tidak sia-sia."
Pelatih klub Tang, Weng Shih-hang (翁士航) mengatakan ia cukup terhenyak ketika pesenam tersebut gagal melakukan gerakannya. Namun, ketika Tang dengan cepat bangkit dan melanjutkan aksinya, Weng merasa bangga padanya.
"Di hati saya, itu sudah layak mendapatkan medali emas," kata Weng.
Tang yang merasa kecewa menangis di pelukan pelatihnya setelah menyelesaikan aksinya yang tidak sempurna, yang ia sebut sebagai melepaskan stres karena ia akhirnya bisa tampil lebih tenang.
Namun, setelah para finalis melancarkan aksi mereka satu per satu, hanya Shinnosuke Oka dari Jepang dan Angel Barajas dari Kolombia, pemenang medali emas dan perak, yang berhasil menyelesaikan aksi tanpa terjatuh sekali pun. Ini kembali membuka kesempatan bagi Tang.
Tang dan Zhang sama-sama memiliki 6,5 untuk kesulitan dan 7,466 untuk eksekusi, meninggalkan mereka 0,567 poin di belakang skor 14,533 yang dicetak oleh Oka dan Barajas.
Weng, yang sudah melatih Tang selama lebih dari satu dekade, sebelum Olimpiade mengatakan bahwa tim telah mempersiapkannya untuk melakukan rutinitas dengan tingkat kesulitan 6,5 atau 6,8 di final.
Pada akhirnya Tang berhasil mengamankan medali perunggu setelah kejadian tak terduga yang terjadi di pertandingan itu.
"Ini menunjukkan bahwa jangan pernah menyerah sampai saat terakhir," kata Weng kepada CNA. "Jika kami tidak menyelesaikan pertandingan atau menyerah setelah gerakan gagal pertama, maka tidak mungkin kami bisa memenangkan medali perunggu."
Pada Februari 2023, Tang mengalami robekan tendon Achilles kiri di kompetisi simulasi di National Training Center di Kaohsiung, yang menyebabkannya melewatkan Kejuaraan Dunia dan Asian Games 2023, menurut situs web resmi Olimpiade Paris 2024.
Pemulihan dari cedera serius itu memakan waktu sekitar enam bulan, menurut pesenam tersebut. Jadi, menurut Tang, meraih perunggu di Paris 2024 dalam pikirannya terasa seperti bangkit dari abu.
"Meskipun saya hanya mendapatkan medali perunggu di Olimpiade ini, ini baru permulaan," katanya kepada CNA. "Saya akan menjadi Tang Chia-hung yang lebih baik, mendapatkan lebih banyak pengalaman, dan kemudian mendapatkan hasil terbaik di Olimpiade berikutnya."
Selesai/IF