Jakarta, 24 Mar. (CNA) Industri tekstil Indonesia terpuruk karena produk tekstil Tiongkok yang membanjiri pasar, kata seorang pengusaha Taiwan, yang mengkhawatirkan jika hal itu terus berlanjut dapat terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal hingga kerusuhan.
Lai Huan-tse (賴煥澤), pengusaha Taiwan yang telah beroperasi di industri tekstil Indonesia lebih dari 25 tahun, menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pengusaha Tiongkok telah mengadopsi cara yang lebih agresif dengan menyelundupkan stok barang yang tidak laku atau dibatalkan dari pesanan.
Produk-prouk itu kemudian dijual dengan harga murah ke Asia Tenggara, yang sangat memengaruhi daya saing pasar lokal, ujarnya dalam sebuah wawancara dengan CNA.
"Setiap kali Tiongkok memasukkan satu produk tekstil, seperti satu celana atau satu baju, produsen di sini akan membuat satu produk lebih sedikit. Ini adalah siklus buruk," ujar Lai.
Di industri kaus kaki, dua atau tiga pabrik sudah tutup pada Februari karena penurunan pesanan, sementara pesanan kain bukan tenunan juga jatuh sekitar 50 persen, tambahnya.
Lai mengungkapkan kepada CNA bahwa beberapa perusahaan tekstil telah merencanakan PHK, sementara pabrik pemintalan miliknya juga telah membekukan perekrutan dan tidak menggantikan karyawan yang mengundurkan diri demi mengurangi pengeluaran.
Lai menyatakan bahwa banjirnya produk tekstil murah dari Tiongkok ke Indonesia telah membuat banyak pengusaha keturunan Tionghoa merasa frustrasi karena mereka tidak dapat bersaing dengan harga murah.
Mereka juga khawatir bahwa jika dumping terus berlanjut, PHK massal di pabrik-pabrik tekstil bisa memicu ketegangan sosial, bahkan berpotensi mengulang kerusuhan 1998, ujar Lai.
Menurut Lai, para pelaku industri tekstil Indonesia umumnya pesimis akan masa depan, dan hanya berharap agar pemerintah dapat memperkuat penanggulangan penyelundupan ilegal dan meningkatkan industri domestik.
Lai berpendapat bahwa kecuali ekonomi Tiongkok bisa pulih kembali seperti sebelumnya, situasi penyelundupan dan dumping ini hanya akan berlanjut.
"Industri tekstil Indonesia tidak akan bisa kembali seperti dulu," keluhnya, seraya mengakui bahwa ia mungkin akan berhenti berproduksi dan pensiun lebih awal jika pesanan terus berkurang.
(Oleh Zachary Lee dan Jason Cahyadi)
Selesai/ML