35 warga negara Indonesia yang direkrut Regent Taipei sebagai kelompok pertama pekerja teknis perhotelan asing Taiwan tiba di Bandara Internasional Taoyuan pada 14 September pagi, disambut sejumlah pejabat kedua negara.
35 pekerja perhotelan asal Indonesia yang akan bekerja di Regent Taipei tiba di Bandara Internasional Taoyuan pada 14 September pagi, disambut pejabat Indonesia dan Taiwan.
Hal ini menandai kedatangan resmi pertama tenaga kerja terampil asing untuk industri perhotelan Taiwan sejak diluncurkannya program baru Kementerian Ketenagakerjaan.
Ke-35 pekerja Indonesia ini pernah menjalani pelatihan keterampilan dan magang di Regent Taipei, sehingga telah memiliki pengalaman dan mengenal lingkungan kerjanya.
Pejabat kementerian, Huángwěichéng mengatakan mereka akan mengisi posisi teknis penting seperti resepsionis, tata graha, dan kebersihan.
Kepala KDEI Taipei Arif Sulistyo mengatakan program ini penting bagi Indonesia karena sejalan dengan program “SMK Go Global”.
Wakil Presiden Hsiao Bi-khim dalam konferensi di Italia pada 11 September mengatakan Taiwan memiliki hak yang sama seperti negara-negara lain untuk menjalin persahabatan dan bekerja sama dengan mitra-mitra yang memiliki pandangan sejalan, meskipun Beijing berupaya membatasinya.
Ventotene European Conference for Freedom and Democracy digelar di Italia pada 10 hingga 12 September.
Wakil Presiden Hsiao Bi-khim, yang hadir sebagai tamu kehormatan pada tanggal 11, mengatakan pihaknya yakin bahwa, seperti setiap warga dunia, Taiwan berhak menjalin persahabatan dan bekerja sama dengan mitra-mitranya dalam mencari solusi atas tantangan bersama.
Taiwan tidak akan memprovokasi Tiongkok maupun tunduk pada pemaksaan, serta tidak akan mengubah cara hidup demokrasinya.
Kunjungan Hsiao, yang dirahasiakan untuk menjamin ia dapat hadir, mendapat protes resmi dari Beijing.
Menanggapi ini, Hsiao mengatakan Tiongkok telah lama berupaya membatasi Taiwan maupun dirinya, tetapi hal ini tidak akan menghentikan Taiwan untuk berinteraksi dengan dunia.
Sejumlah politikus Italia juga mengkritik protes Beijing.
Lebih dari 100 warga Amerika keturunan Taiwan, legislator Taiwan, dan anggota kelompok sipil melakukan pawai di Kota New York pada 12 September untuk menyerukan inklusi Taiwan dalam PBB.
"PBB untuk Taiwan" dan "Jaga Kebebasan Taiwan," demikian diserukan lebih dari 100 warga Amerika keturunan Taiwan, legislator Taiwan, dan anggota kelompok sipil saat mereka melakukan pawai di Kota New York pada 12 September.
Legislator Partai Progresif Demokratik, Wángyìchuān mengatakan kepada CNA bahwa pawai tahunan ini memberikan kesempatan bagi Taiwan untuk menyuarakan pendapatnya di dekat markas besar PBB.
Ia menyatakan harapannya agar kampanye ini terus berlanjut untuk memastikan suara Taiwan didengar negara-negara anggota PBB dan pada akhirnya membantu membuka jalan bagi Taiwan untuk bergabung dengan organisasi tersebut dengan nama sendiri.
Pemerintah Taiwan juga melakukan kegiatan promosi di New York ketika sesi Majelis Umum PBB sedang berlangsung.
Pemerintah Kabupaten Yunlin menggandeng Indonesia untuk Taiwan Coffee Festival ke-24 pada akhir Oktober hingga awal November mendatang. Kegiatan promosi turut digelar di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei atau KDEI pada 8 September.
Taiwan Coffee Festival 2026 pada 8 September menggelar kegiatan promosi dan pertukaran kopi serta budaya di KDEI Taipei.
Kepada CNA, Bupati Yunlin Zhānglìshàn mengatakan Indonesia dipilih karena merupakan salah satu negara penghasil kopi penting di dunia, sementara komunitas Indonesia di Taiwan juga cukup besar.
Kepala KDEI Arif Sulistiyo mengatakan pihaknya menargetkan ekspor kopi Indonesia ke pasar Taiwan dapat meningkat hingga dua kali lipat setelah mengikuti pameran.
Taiwan Coffee Festival ke-24 dijadwalkan digelar di Gukeng Green Tunnel, Yunlin, pada 31 Oktober hingga 1 November dan 7 hingga 8 November.
Sekitar 400 orang berkumpul di depan National Taiwan Museum pada 13 September, untuk menyaksikan Festival Budaya Pejuang Formosa III yang menghadirkan berbagai kesenian Indonesia, dengan jaranan sebagai ikon utama tahun ini.
Beragam kesenian Nusantara mulai dari tari, angklung, flash mob, peragaan busana, hingga jaranan, memeriahkan National Taiwan Museum di Taipei pada 13 September, sebagai bagian dari Festival Budaya Pejuang Formosa III.
Ketua Uters Dance sekaligus ketua panitia, Diah Nur Anisa mengatakan keberadaan berbagai komunitas seni Indonesia di Taiwan membuat pihaknya relatif mudah menemukan kelompok yang dapat berkolaborasi dalam menghadirkan jaranan.
Wakil Ketua KDEI mengapresiasi festival ini, menyebutnya sebagai ruang bagi pekerja migran Indonesia di Taiwan untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mempertahankan hubungan dengan budaya Nusantara.
(Oleh Jason Cahyadi dan Jennifer Aurelia)