Wakil Presiden Parlemen Eropa puji Hsiao sebagai 'panutan' bagi perempuan

13/09/2026 16:13(Diperbaharui 13/09/2026 16:13)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Wakil Presiden Parlemen Eropa Pina Picierno berbicara dengan CNA pada hari Sabtu. Foto CNA 12 September 2026
Wakil Presiden Parlemen Eropa Pina Picierno berbicara dengan CNA pada hari Sabtu. Foto CNA 12 September 2026

Ventotene, Italia, 13 Sep. (CNA) Wakil Presiden Parlemen Eropa Pina Picierno pada hari Sabtu (12/9) memuji Wakil Presiden Taiwan Hsiao Bi-khim (蕭美琴) sebagai panutan bagi perempuan pecinta kebebasan di seluruh dunia dan mengatakan kepada CNA bahwa ia akan segera mulai merencanakan perjalanan ke Taipei setelah menerima undangan Hsiao untuk berkunjung.

Hsiao melakukan kunjungan mendadak ke Italia untuk menghadiri Konferensi Eropa Ventotene Kedua untuk Kebebasan dan Demokrasi di pulau Ventotene, Italia, atas undangan penyelenggara acara, meskipun ada protes keras dari Beijing.

Dalam wawancara dengan CNA di sela-sela acara pada hari Sabtu, Picierno, penggagas utama konferensi tersebut, menggambarkan Hsiao sebagai panutan.

"Saya percaya dunia membutuhkan keberanian perempuan; dan sepanjang sejarah, banyak perempuan telah mengubah jalannya sejarah melalui keteguhan mereka," kata Picierno.

"Ketika rezim otoriter mengancam demokrasi kita, kita semakin membutuhkan perempuan-perempuan pemberani seperti Wakil Presiden Hsiao Bi-khim," tambahnya.

Wakil Presiden Hsiao Bi-khim (kedua dari kanan), Wakil Presiden Parlemen Eropa Pina Picierno (pertama dari kanan), dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Italia Gianni Vernetti (kedua dari kiri) berpose untuk foto di Konferensi Eropa Ventotene untuk Kebebasan dan Demokrasi di Pulau Ventotene, Italia pada hari Sabtu. Foto CNA 12 September 2026
Wakil Presiden Hsiao Bi-khim (kedua dari kanan), Wakil Presiden Parlemen Eropa Pina Picierno (pertama dari kanan), dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Italia Gianni Vernetti (kedua dari kiri) berpose untuk foto di Konferensi Eropa Ventotene untuk Kebebasan dan Demokrasi di Pulau Ventotene, Italia pada hari Sabtu. Foto CNA 12 September 2026

Picierno mencatat bahwa Hsiao memperjuangkan hak asasi manusia dan hak-hak perempuan serta merupakan "aktivis pro-demokrasi yang teguh yang menginspirasi perempuan pecinta kebebasan di seluruh dunia."

"Kita harus mengakui hal ini dan mengirimkan pesan yang jelas: perempuan yang menghargai kebebasan dan demokrasi bertekad untuk berdiri bersatu," katanya.

Sangat jarang bagi para pemimpin senior Taiwan, termasuk presiden atau wakil presiden, untuk mengunjungi negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taipei.

Perjalanan ini merupakan kunjungan kedua Hsiao ke negara Eropa yang mengakui Beijing, bukan Taipei, sejak ia menjabat pada Mei 2024. Kunjungan pertamanya adalah pada November 2025 ke Brussels untuk menghadiri pertemuan Aliansi Antar-Parlemen tentang Tiongkok.

Perjalanan ke Italia sekali lagi membuat pemerintah Tiongkok marah, sehingga Beijing mengajukan protes kepada Italia dan Uni Eropa (UE).

Ketika ditanya apakah ia khawatir tentang keselamatan pribadinya dari Tiongkok, Picierno mengatakan kepada CNA bahwa ia telah berada di bawah perlindungan keamanan Italia selama lebih dari satu tahun karena ancaman terhadap dirinya dari Rusia dan rezim otoriter lainnya.

"Saya tidak takut terhadap ancaman dari rezim otokratis; saya akan menghadapinya tanpa gentar, karena saya tahu bahwa setiap generasi memiliki perjuangannya sendiri," kata Picierno.

Menurut Picierno, sejarah Uni Eropa dimungkinkan "oleh negarawan-negarawan pemberani dan bijaksana pendahulu kita yang telah membayar harga untuk itu."

"Membela demokrasi tidak selalu mudah atau sesuatu yang sudah pasti, juga bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan tangan bersih; itu selalu membutuhkan keberanian dan keteguhan," katanya.

"Pesan jelas yang kami kirimkan dari Ventotene adalah bahwa kami tidak takut terhadap ancaman atau intimidasi; agenda Parlemen Eropa tidak ditentukan di Moskow maupun di Beijing."

Picierno mengatakan ia percaya bahwa sama sekali "tidak ada ruang untuk kompromi dengan rezim otoriter yang melanggar hak asasi manusia."

Ketika rezim otoriter seperti Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara bersekutu, orang-orang pecinta kebebasan di seluruh dunia harus bersatu untuk "mengusung bahasa kebebasan dan demokrasi," katanya.

Picierno mengumumkan pada hari Jumat bahwa ia telah menerima undangan Hsiao untuk mengunjungi Taiwan dalam waktu dekat. Ia mengatakan kepada CNA pada hari Sabtu bahwa perencanaan untuk kunjungan tersebut akan dimulai dalam beberapa minggu ke depan.

"Kolaborasi kami -- antara saya dan wakil presiden Taiwan -- baru saja dimulai; masih banyak yang harus dilakukan dan banyak yang harus didiskusikan di masa depan," katanya.

Hsiao: Taiwan punya hak jalin persahabatan

Sebelumnya, dalam pernyataan Jumat (11/9), Hsiao menyebut Taiwan memiliki hak yang sama seperti negara lain untuk menjalin persahabatan dan bekerja sama dengan mitra yang sejalan, meskipun ada upaya Beijing untuk membatasi kehadiran internasionalnya.

"Kami sangat percaya bahwa seperti setiap warga negara di dunia, kami memiliki hak untuk berteman. Kami memiliki hak untuk berbicara dengan teman-teman kami," kata Hsiao pada Konferensi Eropa Ventotene Kedua untuk Kebebasan dan Demokrasi di pulau Ventotene, Italia.

Taiwan juga memiliki hak untuk bekerja sama dengan mitra yang sejalan dalam mencari solusi atas tantangan bersama, tambahnya, seraya menegaskan bahwa Taiwan menghargai setiap kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya di tingkat internasional.

Hsiao menghadiri konferensi pada hari Jumat sebagai tamu kehormatan, didampingi oleh Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍). Partisipasinya tidak diumumkan hingga ia tiba di Italia, untuk mencegah campur tangan dari Beijing.

Perjalanan ini merupakan kunjungan kedua Hsiao ke Eropa sejak menjabat pada Mei 2024, setelah kunjungan ke Brussels pada November 2025 untuk menghadiri pertemuan Aliansi Antar-Parlemen tentang Tiongkok.

Dalam tanggapan tertulis kepada CNA, anggota Parlemen Eropa Engin Eroglu mengatakan kunjungan Hsiao mencerminkan pengakuan Eropa yang semakin besar terhadap Taiwan sebagai mitra, seraya menambahkan bahwa pertukaran tingkat tinggi yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi institusional sampai batas tertentu.

Selama konferensi, Hsiao menggambarkan situasi Ukraina sebagai peringatan bahwa Taiwan harus berbuat lebih banyak untuk menjaga perdamaian dengan memperkuat pertahanannya, mengamankan perannya dalam rantai pasokan teknologi global, dan memperdalam kemitraan internasional.

Taiwan tidak akan memprovokasi Tiongkok maupun tunduk pada tekanan, dan tidak akan mengubah cara hidup demokrasinya, katanya.

Mengacu pada protes Beijing, Hsiao mengatakan Tiongkok telah lama berupaya membatasi ruang internasional Taiwan dan secara pribadi menargetkan serta memberikan sanksi kepadanya, namun hal ini tidak akan menghentikan Taiwan untuk berinteraksi dengan dunia.

Hsiao mengenang julukannya "cat warrior" (pejuang kucing), dengan mengatakan bahwa kucing mungkin tampak kecil tetapi dapat melompat beberapa kali tinggi badannya dan bertahan dalam situasi sulit.

"Kami di Taiwan percaya kami kecil, tapi kami juga kuat," katanya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning (毛寧) sebelumnya pada hari Jumat mengatakan bahwa Beijing telah mengajukan protes resmi kepada Italia dan Uni Eropa terkait kunjungan tersebut.

Tiongkok secara konsisten menentang segala bentuk kontak resmi antara Taiwan dan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Tiongkok, kata Mao, dengan menyebut prinsip "satu Tiongkok" Beijing sebagai landasan politik hubungan Tiongkok-Italia dan Tiongkok-Uni Eropa.

Sementara itu, Luke de Pulford, direktur eksekutif Aliansi Antar-Parlemen tentang Tiongkok (IPAC), sebuah aliansi lintas partai internasional para anggota parlemen, menyatakan dukungannya atas partisipasi Hsiao dalam acara tersebut dalam komentarnya kepada CNA.

"Satu-satunya respons terhadap upaya Beijing untuk mempersempit dunia bagi rakyat Taiwan adalah dengan menunjukkan bahwa Taiwan diterima," kata de Pulford.

Hal ini "bukan hanya karena itu demi kepentingan nasional kami, tetapi juga karena sangat salah membiarkan demokrasi seperti Taiwan dianiaya dan dikucilkan di panggung internasional," tambahnya.

(Oleh Novia Huang, Wu Bo-wei, Chao Yen-hsiang, Lai Yu-chen, Lu Chia-jung, Chen Yun-yu dan Shih Hsiu-chuan, Joseph Yeh, dan Muhammad Irfan)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.