Taipei, 14 Sep. (CNA) Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) mendorong pasangan yang baru menikah untuk memiliki anak saat menghadiri pernikahan massal yang diselenggarakan Chunghwa Telecom di Taipei pada Minggu (13/9), dengan 72 pasangan mengikat janji pernikahan dalam acara tersebut.
Cho, yang bertindak sebagai saksi dalam upacara yang diadakan di Grand Hotel, berterima kasih kepada para pengantin baru karena telah mengambil langkah yang dapat membantu Taiwan "secara efektif mengatasi tantangan demografisnya," mengacu pada tingkat kelahiran yang rendah di negara tersebut.
Data dari Kementerian Dalam Negeri menunjukkan bahwa angka fertilitas total Taiwan turun menjadi 0,695 pada tahun 2025 -- salah satu yang terendah di dunia -- sementara jumlah kelahiran turun selama 10 tahun berturut-turut menjadi rekor terendah 107.812.
Sambil mendorong pasangan untuk memiliki anak, Cho menekankan bahwa melahirkan tetap merupakan pilihan pribadi.
"Pernikahan adalah hak setiap orang, dan memiliki anak adalah pilihan setiap orang. Itu sama sekali bukan tanggung jawab atau kewajiban," katanya.
Bagi pasangan yang berencana membangun keluarga, Cho mendorong mereka untuk memanfaatkan dukungan pemerintah, menyoroti rencana tunjangan pengasuhan anak sebesar NT$5.000 (Rp2,78 juta) per bulan mulai tahun depan, layanan penitipan anak yang diperluas, dan langkah-langkah untuk meringankan biaya perumahan dan pendidikan.
Perdana Menteri juga mengatakan ia berharap perusahaan milik negara akan mengadakan lebih banyak pernikahan massal berskala besar, mencatat bahwa Taiwan Power Co. juga berencana untuk mengadakan acara serupa.
Setidaknya satu orang di setiap pasangan pengantin baru dari 72 pasangan tersebut bekerja di Chunghwa Telecom, dan dalam lima kasus, kedua pasangan adalah karyawan perusahaan telekomunikasi terbesar di Taiwan.
Ketua Chunghwa Telecom, Alex Chien (簡志誠), mengatakan perusahaan mulai mengadakan pernikahan massal pada tahun 1963 dan hampir setiap tahun mengadakannya sejak saat itu, dengan sekitar 800 pasangan yang telah berpartisipasi sejak 2010.
Chien juga mengatakan kepada para pasangan bahwa ia berharap mereka "segera memiliki anak."
Ia menyoroti langkah-langkah perusahaan untuk mendukung karyawan yang memulai keluarga, termasuk subsidi kelahiran sebesar NT$80.000, jam kerja tujuh jam dengan bayaran delapan jam bagi karyawan yang memiliki anak di bawah usia 6 tahun, dan 18 fasilitas penitipan anak di tempat kerja di seluruh negeri.
Pengantin baru pertimbangkan biaya bangun keluarga
Di antara para pengantin baru adalah Lin Kuan-nan (林冠男), seorang insinyur senior berusia 44 tahun, yang mengatakan bahwa ia dan istrinya berencana memiliki satu anak.
Sebagai karyawan Chunghwa Telecom selama 19 tahun, Lin mengatakan tunjangan bulanan NT$5.000 yang direncanakan "cukup menarik," namun menambahkan bahwa jumlah tersebut "pasti tidak akan cukup" di tengah meningkatnya biaya hidup.
"Tentu saja, semakin banyak semakin baik," katanya, seraya menambahkan bahwa ia berharap pemerintah dapat memberikan subsidi tambahan.
Dino Chen, seorang insinyur senior yang telah bekerja di Chunghwa Telecom selama lima tahun, mengatakan bahwa ia dan istrinya berencana memiliki anak dalam satu atau dua tahun, namun menambahkan bahwa dukungan pemerintah saat ini menunjukkan "ketulusan" tetapi masih belum cukup.
"Begitu Anda mengambil kredit rumah, Anda mungkin harus membayar NT$20.000 hingga NT$30.000 per bulan," kata pria berusia 30 tahun itu, menyebut tempat tinggal sebagai kekhawatiran "utama" mereka.
Sementara Chen mengakui bahwa "tekanan itu pasti ada," ia mengatakan istrinya juga bekerja dan mereka berbagi pembayaran kredit rumah, sehingga beban keuangan menjadi lebih ringan.
Selesai/IF