WAWANCARA /Dapat warisan dari majikan artis Taiwan, purna PMI sukses buka toko di Indonesia

04/09/2026 19:01(Diperbaharui 04/09/2026 19:01)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Yuli bersama majikan artis Chen Sung-young. (Sumber Foto : Istimewa).
Yuli bersama majikan artis Chen Sung-young. (Sumber Foto : Istimewa).

Taipei, 4 Sep. (CNA) Nama Yuliana (44), seorang purna pekerja migran Indonesia (PMI) sempat mencuat di publik setelah mendapat warisan dari artis Taiwan, Chen Sung-young (陳松勇) yang dirawatnya. Namanya kini kembali mencuat karena ada rumor yang menyebut ia bangkrut. Mengklarifikasi hal ini, kepada CNA, Yuliana menyebut dirinya dalam keadaan baik dan kini menjalankan toko sembako di Indonesia.

Belakangan di media sosial Taiwan, diberitakan kalau Yuli, sapaan akrab Yuliana, kembali ke Taiwan untuk bekerja karena telah kehabisan uang warisan yang diberikan oleh Chen. Jumlahnya mencapai NT$ 2 juta (Rp 1,1 miliar).

Menjawab kabar miring ini, Yuli yang dihubungi CNA melalui sambungan telepon mengatakan bahwa berita tersebut tidak benar. Alih-alih di Taiwan, saat dihubungi CNA pada Kamis (3/9) sore hari, Yuli justru sedang berada di kampung halamannya di Subang, Jawa Barat.

Klarifikasi Yuli tentang kesalahpahaman

Yuli mengatakan dirinya benar-benar syok ketika banyak rekan-rekan PMI yang ada di Taiwan menghubunginya dan menanyakan kabar bohong tersebut. Ia pun menampik kabar itu dan sempat melakukan klarifikasi lewat panggilan video yang dipandu oleh Charis Chen, seorang migran baru asal Indonesia yang telah lama tinggal di Taiwan. Bahkan percakapan antara Yuli dengan pemenang lomba Taiwan Literature Award for Migrants (TLAM) ini sempat dipublikasikan oleh salah satu stasiun TV lokal.

Yuli mengatakan, kejadian tersebut bermula ketika ada seorang PMI Taiwan lain yang juga diberikan warisan oleh majikannya senilai Rp 1 miliar. Namun, saat pulang ke Indonesia, ia tertipu sehingga uangnya habis. PMI tersebut pun mengadu ke salah satu pemengaruh terkenal di Hongkong, dan mengatakan bahwa ia akan kembali bekerja ke Taiwan.

(Sumber Foto : Istimewa)
(Sumber Foto : Istimewa)

Namun, rumor santer tersebut memberitakan bahwa PMI yang dimaksud itu adalah Yuli, seorang mantan perawat migran yang pernah menjaga aktor ternama Taiwan Chen Sung-young. Yuli mengungkapkan bahwa pemberitaan tersebut salah paham. PMI yang dimaksud telah kembali lagi ke Taiwan itu bukan dirinya.

“Itu bukan saya. Itu PMI lain yang namanya bukan Yuli. Banyak orang salah paham dikira saya. Padahal saya semenjak pulang ke Indonesia dari tahun 2022 hingga kini cuma membuka usaha kerja di sini (Indonesia) saja. Saya sudah tidak bisa lagi kembali bekerja di Taiwan,” tutur Yuli yang mempunyai satu putra ini.

“Ada PMI Taiwan lain lagi yang juga diberi warisan atau pesangon dari majikannya senilai Rp 1 miliar juga itu tahun lalu. Kalau saya kan sudah lebih dari 4 tahun,” tambahnya.

Cerita Yuli menjaga artis terkenal

Dalam wawancara dengan CNA, Yuli juga mengenang masa-masa saat ia bekerja di Taiwan. Sebelum menjaga Chen, ia sempat bekerja di Tainan selama enam tahun menjaga dua lansia, nenek dan kakek. Ia baru pindah ke Linkou, New Taipei pada tahun 2014 untuk menjaga Chen.

“Dulu saat saya menjaga papa (panggilan Yuli untuk Chen), dia masih bisa berjalan dan naik tangga, bahkan masih main film sekitar tahun 2014 sampai dua tahun sebelum beliau meninggal. Aktivitas sehari-hari ya menjaga beliau menemani kalau pergi dan menyediakan makan. Papa kalau makan di luar selalu membawa peralatan makan sendiri. Waktu itu saya tidak boleh masak dan bersih-bersih. Jadi, cukup menemani beliau saja,” ujar Yuli.

Setahun sebelum meninggal Yuli sering bolak balik ke rumah sakit untuk mengantarnya, karena kondisi Chen sudah tidak bisa berjalan lagi. Yuli pun harus mendorong kursi rodanya. 

Diberi pesangon NT$ 4 juta, bukan NT$ 2 juta

Yuli yang menghabiskan waktu selama 14 tahun di Taiwan ini tak terpikirkan sebelumnya jika majikannya yang seorang artis ini akan memberikan warisan untuknya. Setahun sebelum Chen meninggal, ia kerap mengatakan pada Yuli bahwa ia akan meninggalkan sejumlah uang untuk Yuli agar bisa dipergunakannya kelak saat ia tak lagi menjadi PMI. 

“Sebenarnya bukan warisan sih, karena saya bukan anggota keluarga, tetapi pesangon. Namun tetep saja papa bilangnya itu warisan. Dia bilang ke saya kalau dapat uang ini, saya tidak perlu kembali lagi ke Taiwan. Papa tanya saya suka buka usaha apa, nah saya bilang dagang, buka toko. Beliau pun menyuruh saya untuk dagang saja,” tutur Yuli.

Kata Yuli, Chen juga sering menasehati Yuli agar tidak lagi kembali menjadi pekerja migran ke Taiwan karena menjaga orang tua itu sulit. Chen juga mengatakan pada wartawan bahwa ia akan memberikan sejumlah uang pada Yuli sebagai warisan. Saat itu banyak media yang menulis kalau warisan yang akan diberikan Chen kepada Yuli sebesar  NT$ 2 juta.

Setelah kematian Chen pada 17 Desember 2021, Yuli pun harus menunggu masa berkabung selama 100 hari. Ia masih tetap tinggal di rumah Chen dan tetap digaji. Setelah masa berkabung selesai, pengacara Chen mendatangi Yuli dan mengatakan bahwa Chen meninggalkan warisan untuk Yuli sebesar 10 persen dari kekayaannya. Jumlahnya sebesar NT$ 4 juta.

“Saya kaget waktu mendengarnya. Saya tak pernah berpikir akan menerima uang sebesar itu. Ya, selama bekerja saya semampunya bekerja dengan baik.” Tutur Yuli.

Menurut informasi dari Yuli, Chen sempat mengatakan padanya bahwa ia menulis warisan untuk Yuli tanpa ada paksaan dan diketahui oleh pengacara dan teman-temannya. Keluarganya waktu itu tidak ada yang tahu. Yuli pun kembali ke Indonesia pada tahun 2022 setelah semua urusan selesai.

Penampakan toko Yuli di Subang, Jawa Barat. (Sumber Foto : Istimewa).
Penampakan toko Yuli di Subang, Jawa Barat. (Sumber Foto : Istimewa).

Saat ditanya, bagaimana cara Yuli untuk mengatur uang pesangon atau warisan tersebut, ia mengatakan telah membeli aset-aset seperti sawah, tanah, dan membuka usaha toko sembako yang kini jadi sumber penghidupannya. Saat kembali ke Indonesia awal tahun 2022, Yuli sempat berjualan daring membuat kue dan membuka catering. Namun setelah dua tahun, ia membuka toko sembako di rumahnya. 

Pesan bagi teman-teman PMI

Saat ditanya apakah Yuli mau kembali ke Taiwan lagi, ia pun mengatakan karena masa sulit di Indonesia ia sebenarnya ingin kembali di Taiwan menjadi PMI. Namun, mengingat pesan Chen dan masa kerja yang sudah tidak bisa lagi ke Taiwan, maka ia mengurungkan niatnya.

Ia pun berpesan bagi teman-teman PMI yang masih berjuang di Taiwan agar gemar menabung. 

“Banyak simpan duit yah. Saat kamu nanti kembali ke Indonesia, mau buka usaha itu tidak mudah, banyak saingan, apalagi kondisi Indonesia saat ini sulit untuk mengais rejaki. Jadi harus pinter menabung. Saya yang sedang berjuang saat ini merasakan kesulitan seperti harga barang-barang naik dan mahal. Di Indonesia juga susah cari kerja. Yang di Taiwan baik-baik saja harus bersyukur, banyak orang yang ingin kerja di Taiwan susah,” pesan Yuli mengakhiri wawancara. 

(Oleh Miralux)
Slesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.