Taipei, 7 Agu. (CNA) Seorang pengacara dan seorang makelar vaksin baru-baru ini didakwa oleh Kejaksaan Distrik Taichung karena menipu Yayasan Buddha Tzu Chi Taiwan sebesar US$30 juta (Rp537 miliar) dengan secara palsu mengklaim bahwa mereka dapat menyediakan vaksin COVID-19.
Chen Yu-hsuan (陳昱瑄), mantan ketua Asosiasi Pengacara Changhua, seorang makelar vaksin yang mengaku bernama Lee (李), dan 15 orang yang diduga sebagai kaki tangan mereka didakwa atas tuduhan termasuk penipuan, penggelapan, pemalsuan catatan bisnis, penghindaran pajak, membantu dan bersekongkol dalam penghindaran pajak, pemalsuan dokumen akuntansi, pencucian uang yang diperberat, dan pencucian uang, menurut siaran pers yang dikeluarkan oleh kejaksaan pada hari Kamis (6/8).
Jaksa mengatakan pengadilan menyetujui penahanan tanpa komunikasi untuk Chen dan lima orang lainnya, dengan alasan adanya kecurigaan kuat atas pencucian uang serta kekhawatiran akan risiko melarikan diri, kolusi, dan penghancuran barang bukti. Lee masih buron dan sedang dicari oleh pihak berwenang.
Menurut jaksa, selama pandemi COVID-19 pada tahun 2021, Chen dan Lee secara palsu mengklaim kepada Tzu Chi bahwa mereka dapat menyediakan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech (BNT) dan bahwa mereka sebelumnya telah membantu beberapa perusahaan besar dalam pembelian vaksin.
Berdasarkan klaim tersebut, Tzu Chi menunjuk sebuah perusahaan konsultan manajemen yang diwakili oleh Chen untuk membeli 5 juta dosis vaksin BNT dan membayar komisi sebesar US$30 juta, di luar biaya vaksin dan logistik rantai dingin, kata jaksa.
Untuk menyembunyikan sumber dan aliran hasil kejahatan, Chen diduga bersekongkol dengan teman, anggota keluarga, dan asisten untuk mentransfer dana melalui rekening beberapa perusahaan sebelum menarik total NT$520 juta (Rp288,9 miliar) untuk digunakan Lee dan kaki tangan lainnya.
Jaksa juga menuduh bahwa Chen bersekongkol dengan beberapa perusahaan cangkang untuk menerbitkan 33 faktur palsu guna membengkakkan biaya usaha dan menghindari pajak usaha, pajak penghasilan badan, dan pajak laba ditahan dengan total NT$53,74 juta. Mereka juga menuduh bahwa kelompok tersebut membeli sekitar 232 kilogram emas senilai sekitar NT$410 juta dalam upaya menyembunyikan hasil kejahatan.
Pada 30 April dan 20 Mei, jaksa melakukan penggeledahan dan memeriksa total 28 tersangka dan saksi. Mereka menyita uang tunai NT$93,08 juta, 158,8 kilogram emas dengan nilai pasar sekitar NT$680 juta, dan dua kendaraan mewah impor.
Pengadilan juga menyetujui penyitaan aset para terdakwa, termasuk rekening bank dan properti, kata jaksa.
Lebih dari NT$1,12 miliar hasil kejahatan telah disita, tambah mereka.
Secara terpisah pada hari Kamis, Biro Investigasi Kementerian Kehakiman mengatakan dalam siaran pers bahwa kasus ini terungkap melalui penyelidikan oleh Tim Mobile Distrik Utara.
Biro tersebut mengecam Chen dan Lee karena diduga memanfaatkan upaya bantuan pandemi Tzu Chi untuk keuntungan pribadi, dengan mengatakan bahwa tindakan mereka sangat mengganggu ketertiban sosial dan merugikan kepentingan publik.
Selesai/ML