Taipei, 26 Apr. (CNA) Presiden the Central News Agency (CNA) Anne Hu (胡婉玲) dalam pelatihan program magang koresponden luar negeri kantor berita nasional Taiwan tersebut hari Sabtu (25/4) mendorong peserta menjadi jurnalis yang serba bisa di era kecerdasan buatan (AI), sekaligus berbagi pengalaman liputan di negara asing.
"Apakah AI bisa menggantikan pekerjaan jurnalistik? Bisa, dan juga tidak bisa," kata Hu, dalam pelatihan wilayah utara program "Saya adalah Koresponden Luar Negeri" edisi kesembilan CNA yang berlangsung dua hari di Taipei.
"Bisa" adalah karena AI mampu mengolah data dasar, menghasilkan konten berulang, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan format baru, sementara "tidak bisa" karena profesionalisme jurnalis, penilaian nilai, serta pertimbangan etika tidak dapat digantikan, lanjut Hu.
Hu mengatakan sebelumnya ada banyak rekan media mengeluhkan banyaknya kesalahan penulisan oleh reporter, tetapi dalam dua tahun terakhir tampaknya berkurang karena AI dapat membantu mengoreksi tulisan.
Meski demikian, Hu juga mempertanyakan kemungkinan kesalahan akan kembali meningkat andai AI mengalami gangguan. "Apakah kehadiran AI benar-benar membuat manusia maju atau justru mundur?"
Hu menegaskan pekerjaan jurnalistik tetap harus berpusat pada manusia, dan AI mungkin dapat membantu memperbaiki konten dan mengoreksi kesalahan, tetapi proses peliputan dan verifikasi berita tetap harus dilakukan jurnalis.
Di masa depan, ujarnya, pekerjaan penulisan ulang data mungkin akan digantikan AI, tetapi "sumber informasi berita pertama" dan "lembaga berita yang sesungguhnya" tetap berintikan manusia.
Di sisi lain, Hu juga membagikan berbagai pengalamannya liputan luar negeri, termasuk wawancara dengan peraih Nobel Perdamaian Dalai Lama, kisah veteran tak dikenal di Tailan utara, kunjungan kepala negara Taiwan dalam keterbatasan diplomatik, serta pelaporan investigatif langsung di Korea Utara.
Hu menambahkan bahwa seorang koresponden luar negeri harus terlebih dahulu memahami Taiwan secara mendalam, kemudian melihat dunia dari perspektif orang Taiwan.
Bahkan saat meliput berita lokal di luar negeri, ujarnya, prinsipnya tetap "hadir langsung di lokasi dan menyajikan fakta sebenarnya", serta menuliskan isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat Taiwan, sambil membandingkan kondisi Taiwan dengan situasi internasional.
"Saya adalah Koresponden Luar Negeri" menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dengan menjadikan AI berkelanjutan, literasi internasional, dan kemampuan jurnalistik sebagai fokus utama.
Program ini bertujuan menggabungkan literasi digital (AI berkelanjutan) dan pemahaman lintas budaya dengan keterampilan jurnalistik, literasi media, serta sumber daya media internasional, guna membantu generasi muda membangun daya saing global yang lebih komprehensif di era teknologi dan globalisasi.
Pelatihan wilayah tengah akan digelar pada 9–10 Mei di Taichung, sedangkan selatan pada 23–24 Mei di Kaohsiung. Peserta juga akan mengikuti seleksi awal untuk program ini, dengan kesempatan magang di CNA, dan mereka yang terpilih berkesempatan bertugas sebagai koresponden di luar negeri selama satu bulan.
Dalam delapan edisi sebelumnya, total 1.390 peserta telah mengikuti pelatihan ini, dengan jumlah partisipasi mencapai 21.464 orang. Sebanyak 35 peserta terpilih telah dikirim ke delapan negara dan sebelas kota, termasuk Jerman, Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Indonesia, Filipina, Tailan, dan India.
Rangkaian kegiatan "Saya adalah Koresponden Luar Negeri" ini dibimbing Kementerian Kebudayaan Taiwan, dan didukung sponsor Chunghwa Telecom, CTBC Bank, First Commercial Bank, Ever Rich D.F.S. Corp., Mega Bank, serta Mega Bank C&E Foundation.
(Oleh Chiu Tsu-yin dan Jason Cahyadi)
Selesai/ML