Taipei, 15 Apr. (CNA) Seorang wanita asing berusia 60-an dinyatakan positif meningitis meningokokus, menjadikannya kasus kelima di Taiwan tahun ini, kata Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) hari Selasa (14/4).
Sebanyak 21 orang telah diidentifikasi sebagai kontak, termasuk rekan perjalanan dan kontak di rumah sakit. Semuanya sedang dipantau hingga Kamis, kata Wakil Direktur Jenderal CDC Tseng Shu-hui (曾淑慧) dalam jumpa pers rutin.
Dari para kontak tersebut, tiga diklasifikasikan sebagai kontak erat dan telah diberikan obat pencegahan. Sejauh ini, tidak ada yang menunjukkan gejala, kata Tseng hari Selasa.
Wanita asing tersebut saat ini dirawat di rumah sakit dalam kondisi stabil, dengan demam yang mulai mereda, kata ahli epidemiologi CDC Lin Yung-ching (林詠青).
Lin mengatakan wanita tersebut masuk ke Taiwan pada 1 April dan mulai mengalami gejala, termasuk sakit perut, mual, dan muntah, pada 3 April. Ia mencari perawatan medis keesokan harinya, ketika ditemukan mengalami demam dan peningkatan penanda inflamasi.
Pengujian laboratorium kemudian mengonfirmasi keberadaan Neisseria meningitidis dalam darahnya, sehingga diagnosis itu dikonfirmasi, kata Lin.
Bakteri ini terutama ditularkan melalui air liur dan sekresi saluran pernapasan, tetapi memiliki tingkat infektivitas yang relatif rendah dan biasanya memerlukan kontak erat yang berkepanjangan untuk penularan, kata Lin.
Sekitar 5-10 persen individu sehat dapat membawa bakteri ini tanpa gejala, meskipun sebagian kecil dapat berkembang menjadi meningitis atau bakteremia.
Gejala meliputi demam, sakit kepala hebat, leher kaku, mual, muntah, dan ruam, sementara kasus berat dapat melibatkan perubahan kesadaran, delirium, atau kejang, kata Lin.
Komplikasi dapat mencakup pneumonia, sepsis, meningitis, dan dalam kasus berat, syok septik dan kematian. Tingkat kematian sekitar 15 persen untuk meningitis dan sekitar 40 persen untuk sepsis, tambahnya.
Menurut pernyataan CDC, Vietnam melaporkan 95 kasus meningitis meningokokus pada 2025, dengan penyebaran yang masih berlangsung, sementara Jepang telah mencatat 15 kasus sejauh ini pada 2026. Sebuah klaster sekolah di Inggris melaporkan 21 kasus hingga akhir Maret tahun ini.
Selesai/JC