Taipei, 25 Mar. (CNA) Fokus pencegahan tuberkulosis (TB) Taiwan saat ini ditujukan pada lansia lokal dan warga negara asing, kelompok yang sama-sama berkontribusi pada kasus baru, kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit, Lo Yi-chun (羅一鈞) pada Selasa (24/3).
Dalam konferensi memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia pers pada Selasa, Lo memaparkan, berkat kerja sama sektor medis dan masyarakat, angka kasus TB 2025 turun menjadi 25 kasus per 100.000 penduduk (dibandingkan 73 pada 2005). Tahun lalu, jumlah infeksi baru turun ke sebanyak 5.742, tambahnya.
Yuan Eksekutif telah menyetujui tahap ketiga rencana pencegahan TB lima tahunan dengan total anggaran mencapai NT$7,08 miliar (Rp3,75 triliun), dan pemerintah optimistis dapat mencapai target pada sekitar tahun 2030, yakni menurunkan kasus menjadi 20 per 100.000 penduduk dengan jumlah kejadian baru di bawah 5.000, ujarnya.
Lo melanjutkan bahwa fokus pencegahan saat ini ditujukan pada dua kelompok utama, yakni warga lokal lanjut usia, yang menyumbang dua per tiga dari total kasus baru, serta warga negara asing, yang berkontribusi pada sekitar 10 persen kejadian baru setiap tahunnya.
Terkait pekerja migran, Lo menjelaskan bahwa angka kejadian TB di negara asal seperti Tailan, Indonesia, dan Vietnam jauh lebih tinggi dibandingkan Taiwan.
Banyak pekerja migran yang sebenarnya sudah terinfeksi sejak kecil di negara asal dan baru jatuh sakit setelah bekerja di Taiwan, sehingga pemeriksaan saat masuk tidak selalu dapat mendeteksinya, kata Lo.
Oleh karena itu, ucapnya, pemerintah akan memperkuat skrining di fasilitas perawatan jangka panjang hingga penderita diabetes, serta bekerja sama dengan organisasi pekerja migran untuk meningkatkan efektivitas rontgen dada dalam pemeriksaan kesehatan berkala dan menyediakan pengobatan gratis.
Ketua Taiwan Anti-Tuberculosis Association, Yu Ming-chi (余明治), mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua pekan, nyeri dada, penurunan berat badan, demam, atau kehilangan nafsu makan.
Ketua Taiwan Society of Tuberculosis and Lung Disease Association, Wang Chen-yuan (王振源), menambahkan bahwa Infeksi Tuberkulosis Laten (ITBL) tidak memiliki gejala dan tidak menular, tetapi pengobatan dini dapat menurunkan risiko jatuh sakit hingga 90 persen, dan proses penyembuhan hanya butuh satu bulan.
Ditambah dengan dukungan kebijakan kesehatan masyarakat domestik yang kuat, tingkat penyelesaian pengobatan ITBL di Taiwan kini berhasil mencapai angka 85 persen hingga 90 persen, kata Wang.
(Oleh Tseng Yi-ning dan Agoeng Sunarto)
Selesai/JC