Hanoi, 20 Mar. (CNA) Seorang tokoh kunci di balik pertukaran sastra Taiwan-Vietnam mengatakan pada akhir pekan lalu bahwa ia berharap pemahaman bersama dapat diperkuat melalui "diplomasi antar masyarakat," saat Taiwan memperingati Hari Puisi Taiwan pada 14 Maret dengan sebuah acara yang mempromosikan dialog sastra.
Acara tahun ini diadakan di Universitas Nasional Cheng Kung (NCKU) di Tainan, untuk mengenang Ong Iok-lim (王育霖), seorang penyair dan jaksa kelahiran Tainan yang terbunuh selama Insiden 228 pada tahun 1947.
Pertemuan tersebut mempertemukan lebih dari selusin penulis Taiwan dan lima cendekiawan Vietnam untuk mendiskusikan sejarah dan budaya Taiwan, serta menampilkan pembacaan puisi dalam bahasa Hokkien Taiwan dan Vietnam.
Chiung Wi-vun (蔣為文), direktur Pusat Studi Vietnam di NCKU, mengatakan kepada CNA dalam wawancara telepon bahwa interaksi semacam ini membantu mempererat hubungan di luar jalur resmi.
Diplomasi non-pemerintah sangat penting karena pertukaran resmi sering menghadapi tekanan dari Tiongkok, sementara kegiatan budaya di tingkat masyarakat memungkinkan para peserta berbicara tentang Taiwan dengan lebih bebas, katanya.
Menurut Chiung, ia membantu mendirikan Asosiasi Pertukaran Budaya Taiwan dan Vietnam pada tahun 2009 setelah mengamati bahwa pertukaran antara kedua pihak sebagian besar berfokus pada perdagangan, dengan peluang terbatas untuk keterlibatan budaya yang lebih mendalam.
Sejak saat itu, penulis, cendekiawan, dan mahasiswa telah berpartisipasi dalam kunjungan, seminar, dan lokakarya, sementara karya asli Taiwan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Vietnam dan sastra Vietnam modern telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Mandarin dan Hokkien Taiwan, ujarnya.
Pertukaran ini juga menarik perhatian di Vietnam. Chiung mencatat bahwa penyair Trần Đăng Khoa telah menulis tentang pengalamannya di Taiwan, membantu memperkenalkan pulau tersebut kepada khalayak Vietnam yang lebih luas.
Di antara penulis tamu pada acara tahun ini adalah Kiều Bích Hậu dari Asosiasi Penulis Vietnam. Ia mengatakan bahwa mempelajari tentang periode Teror Putih di Taiwan -- era represi politik dari tahun 1949 hingga 1992 -- memiliki kesamaan dengan sejarah kolonial Vietnam.
Setelah mendengar tentang penyair Lin Tsung-yuan (林宗源), yang tetap menulis dalam bahasa Hokkien Taiwan meskipun ada pembatasan selama era otoriter, Kiều mengatakan bahwa ia menulis sebuah puisi berjudul "Teror Putih" sebagai penghormatan.
Ia mengatakan kepada CNA bahwa sebelumnya ia hanya mengenal Taiwan sebagai tujuan wisata, namun pertukaran sastra telah membantunya lebih memahami sejarah pulau itu dan perjuangan rakyatnya untuk demokrasi dan kebebasan.
Selesai/ML