Taipei, 23 Mar. (CNA) Hari ini tiga puluh tahun yang lalu, Taiwan menggelar pemilihan presiden langsung pertamanya, sebuah momen penting dalam transisinya menuju demokrasi. Untuk menandai peringatan tersebut, CNA telah memilih serangkaian gambar yang menangkap suasana pada masa itu.
Pemilu yang diadakan pada 23 Maret 1996 itu diikuti empat kandidat yang memperebutkan kursi presiden, dengan Presiden saat itu Lee Teng-hui (李登輝) dari Kuomintang (KMT) memenangkan pemilihan bersama pasangannya Lien Chan (連戰), yang sebelumnya menjabat sebagai perdana menteri sebelum menjadi wakil presiden.
Lebih dari sekadar kontestasi rutin, pemilihan ini menandai pertama kalinya Taiwan memilih pemimpinnya melalui pemungutan suara langsung. Hal ini juga mencerminkan perubahan lanskap politik, dengan Wakil Ketua KMT saat itu Lin Yang-kang (林洋港) keluar dari partai untuk maju sebagai calon independen, sementara Peng Ming-min (彭明敏) mewakili Partai Progresif Demokratik (DPP) yang saat itu masih baru.
Pemilu ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan dengan Beijing, yang melakukan uji coba rudal di dekat Taiwan dalam upaya mempengaruhi hasil pemilu, memicu apa yang kemudian dikenal sebagai Krisis Selat Taiwan Ketiga.
Amerika Serikat merespons dengan mengerahkan kelompok kapal induk USS Independence dan USS Nimitz ke Selat Taiwan. Meskipun terjadi krisis, lebih dari 500 jurnalis dari lebih dari 260 media internasional meliput pemilu tersebut, seiring Taiwan menyelesaikan transisi demokrasi yang bersejarah di bawah tekanan.
Hingga 2026, Taiwan telah menggelar delapan pemilihan presiden, tiga di antaranya dimenangkan partai oposisi. Sementara pemilu 1996 berlangsung di tengah gejolak, hak untuk memilih setiap empat tahun kini menjadi kenyataan mendasar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Taiwan.
Jalan Taiwan menuju kedaulatan rakyat
Peralihan dari pemilihan tidak langsung oleh anggota Majelis Nasional ke pemilihan langsung oleh warga negara menempatkan Taiwan sebagai model demokrasi di dunia berbahasa Tionghoa dan di Asia.
Dorongan untuk reformasi dimulai dengan gerakan mahasiswa Wild Lily pada Maret 1990. Pada Juni, Presiden Lee saat itu mengadakan Konferensi Urusan Nasional, di mana muncul konsensus bahwa presiden harus dipilih seluruh warga negara.
Perpecahan muncul di dalam KMT antara "faksi arus utama" yang mendukung pemilihan langsung dan "faksi nonarus utama" yang lebih memilih pemilihan tidak langsung untuk menghindari memprovokasi Tiongkok. Perpecahan ini memuncak pada Agustus 1993, ketika anggota faksi nonarus utama keluar dari KMT dan mendirikan Partai Baru.
Pada April 1994, KMT menyetujui rencana pemilihan langsung.
Pada 28 Juli 1994, Majelis Nasional mengesahkan amandemen konstitusi yang mewajibkan pemilihan langsung, memperkenalkan pasangan calon, mempersingkat masa jabatan presiden dari enam menjadi empat tahun, dan membatasi masa jabatan ulang hanya satu kali, mulai 1996.
Empat pasangan calon bersaing untuk kursi presiden dan wakil presiden pada tahun 1996:
Kuomintang (KMT): Lee Teng-hui (李登輝) dan Lien Chan (連戰), menorehkan 5.813.699 suara suara (atau 54,00 persen).
Partai Progresif Demokratik (DPP): Peng Ming-min (彭明敏) dan Frank Hsieh (謝長廷), yang memperoleh 2.274.586 suara (atau 21,11 persen)
Independen (didukung oleh Partai Baru): Lin Yang-kang (林洋港) dan Hau Pei-tsun, yang menerima 1.603.790 suara (atau 14,89 persen)
Independen: Chen Li-an (陳履安) dan Wang Ching-feng (王清峰), yang meraih 1.074.044 suara (atau 9,98 persen)
Sebanyak 10,76 juta warga, atau 76,04 persen dari pemilih yang memenuhi syarat, menggunakan hak "kedaulatan rakyat". Pasangan KMT Lee Teng-hui dan Lien Chan memenangkan pemilu.
Merayakan pelantikan Lee dan Lien pada 20 Mei di tahun yang sama, lebih dari enam ratus diaspora yang merantau ke Indonesia mengadakan jamuan makan malam di Jakarta.
Lin Wu-hsiung (林武雄), ketua asosiasi perdagangan Taiwan di Jakarta, menyatakan rasa syukurnya atas langkah resmi negara menuju demokrasi dan supremasi hukum, serta mendoakan agar Lee senantiasa sehat, negara maju, dan masyarakat makmur serta stabil.
Deputi Perwakilan Taiwan di Indonesia, Francis Chang (張添能) menyatakan bahwa pemilihan langsung presiden dan wakil presiden oleh rakyat untuk pertama kalinya merupakan terobosan bersejarah dalam lima ribu tahun peradaban Tiongkok, sekaligus contoh demokrasi yang sangat jarang di Asia.
Ia mengatakan bahwa setelah menciptakan keajaiban ekonomi, Taiwan telah melangkah lebih jauh dengan mewujudkan liberalisasi politik, yang juga telah mendapat pengakuan dari berbagai negara.
Malam perayaan tersebut juga dimeriahkan pertunjukan tari dan nyanyian yang dibawakan guru dan siswa Jakarta Taipei School serta berbagai organisasi Tionghoa perantauan.
Selesai/IF