PMI alami patah tulang saat angkat pasien ke kursi roda

24/03/2026 15:18(Diperbaharui 24/03/2026 15:18)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Yuni (kanan) memutuskan pulang ke tanah air untuk pengobatan karena ia tak sanggup lagi bekerja. (Sumber Foto : SBIPT)
Yuni (kanan) memutuskan pulang ke tanah air untuk pengobatan karena ia tak sanggup lagi bekerja. (Sumber Foto : SBIPT)

Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) pada Kamis (12/3) melapor ke Serikat Buruh Industri Perawatan Taiwan (SBIPT) bahwa ia mengalami patah tulang saat merawat pasien nenek yang dijaganya, tulis rilis pers SBIPT.

Yuni (nama samaran) langsung merasa sesak dan mengaduh sakit saat mendengar suara patah dari pinggangnya. Seketika tubuhnya lemas. Kejadian ini terjadi sehari setelah Tahun Baru Imlek, sekitar pukul 04.30 pagi waktu Taiwan, saat ia sudah memulai aktivitasnya. Kejadian itu terjadi saat ia membantu pasien dari dudukan toilet ke kursi roda.

Berdasarkan informasi SBIPT yang membantunya, selama hampir satu jam ia terbaring di kamar mandi bersama pasien, sampai akhirnya majikan mengetahui kejadian tersebut, tulis keterangan SBIPT.

CNA pun menghubungi Fajar, ketua SBIPT untuk menanyakan kabar tersebut. Fajar memberi informasi bahwa PMI yang kerja di Taichung tersebut sebagai perawat lansia yang telah menghubungi SBIPT untuk melapor mengenai kondisinya. Ia pun meminta kesediaan SBIPT untuk membantu mediasi dengan majikan mengenai kecelakaan ini. 

Pada saat itu dikarenakan masih suasana libur Imlek, ia terlebih dahulu dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan awal. Dua hari kemudian barulah dilakukan X-ray yang menunjukkan adanya patah tulang. Yuni ditemani oleh pihak SBIPT selama proses pengobatan dan mediasi. Akhirnya majikan menanggung seluruh biaya, termasuk terapi dan suntikan tulang berkali-kali. Tak hanya itu saja, selama beberapa lama proses pemulihan juga ia tetap mendapatkan gaji, ujar Fajar.

Saat dihubungi CNA melalui SBIPT, Yuni yang baru bekerja satu bulan di majikan tersebut mengatakan bahwa dirinya memang meminta pulang ke tanah air. Yuni sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja. Untungnya, majikan membayar seluruh biaya pemulangan bahkan diberikan pesangon untuk melanjutkan pengobatan di tanah air.

Fajar mengungkapkan, kasus ini menjadi pengingat penting bagi PMI bahwa pekerjaan mengangkat pasien memiliki risiko cedera serius, sehingga keselamatan kerja harus selalu diperhatikan. 

(Oleh Miralux)
Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.