Laporan Intelijen AS: Tiongkok tak berencana invasi Taiwan pada 2027

19/03/2026 17:01(Diperbaharui 19/03/2026 17:01)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Taipei, 19 Mar. (CNA) Tiongkok saat ini tidak berencana untuk menginvasi Taiwan pada 2027, tetapi terus mengembangkan kemampuan militer dan rencana darurat untuk menggunakan kekuatan jika diperlukan, menurut laporan tahunan yang dirilis Komunitas Intelijen Amerika Serikat (AS) pada Rabu (18/3).

Tiongkok mempertahankan opsi untuk menggunakan kekuatan guna mencapai unifikasi dengan Taiwan dan melawan apa yang dianggapnya sebagai upaya AS menggunakan Taiwan untuk menahan kebangkitan Beijing, tetapi Tiongkok lebih memilih untuk tidak mengambil opsi tersebut jika memungkinkan, menurut laporan yang berjudul "Penilaian Ancaman Tahunan Komunitas Intelijen AS".

Saat ini, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok secara bertahap membangun kemampuan untuk operasi potensial di Taiwan dan untuk mencegah intervensi AS, terkadang meningkatkan skala dan kecepatan aktivitas di sekitar pulau tersebut, kata laporan yang diterbitkan Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI).

Disebutkan bahwa pada 2026, Tiongkok kemungkinan akan melanjutkan upayanya untuk menciptakan kondisi bagi unifikasi dengan Taiwan di masa depan, tanpa konflik.

"Komunitas intelijen (IC) menilai bahwa para pemimpin Tiongkok saat ini tidak berencana untuk melakukan invasi ke Taiwan pada 2027, maupun memiliki jadwal tetap untuk mencapai unifikasi," kata laporan tersebut.

"Namun, Tiongkok secara terbuka menegaskan bahwa unifikasi dengan Taiwan diperlukan untuk mencapai tujuan 'kebangkitan nasional' pada 2049 -- peringatan 100 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT)," lanjut laporan itu.

Beijing hampir pasti akan mempertimbangkan berbagai faktor dalam memutuskan apakah dan bagaimana akan menempuh pendekatan militer untuk unifikasi, kata laporan tersebut, dengan mencantumkan faktor-faktor seperti "Kesiapan PLA, tindakan dan politik Taiwan, serta apakah AS akan melakukan intervensi militer untuk mendukung Taiwan," jelas laporan itu.

Pejabat Tiongkok mengakui bahwa invasi amfibi skala penuh ke Taiwan akan sangat menantang dan berisiko, terutama jika AS ikut campur, menurut laporan tersebut.

Sebuah konflik terkait Taiwan dapat mengganggu akses AS terhadap perdagangan dan semikonduktor penting, mengacaukan rantai pasok global, dan memicu gejolak pasar, kata laporan itu.

"Bahkan tanpa keterlibatan Washington, kepentingan ekonomi dan keamanan AS serta global akan menghadapi konsekuensi yang signifikan dan mahal, dengan rantai pasokan teknologi terganggu dan ketakutan investor di seluruh pasar," lanjutnya.

Selain itu, perang berkepanjangan dengan AS berisiko menimbulkan biaya ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi AS, Tiongkok, dan ekonomi global, tambah laporan itu.

Laporan setebal 33 halaman tersebut juga membahas isu lain, termasuk pertahanan dalam negeri dan kecerdasan buatan, serta meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan Jepang setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi pada akhir tahun lalu menyebut potensi invasi Tiongkok ke Taiwan sebagai "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" bagi Jepang.

(Oleh Chen Cheng-chien, Ko Lin, dan Muhammad Irfan)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.