Taipei, 6 Mar. (CNA) Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) sebut saja Ina (nama samaran) yang bekerja di Taoyuan harus mendapatkan perawatan setelah ia terjatuh saat membantu pasien atau nenek yang dijaganya dengan cara membopong naik ke mobil. Ia mengalami cedera yang parah, tulis rilis pers Serikat Buruh Industri Perawatan Taiwan (SBIPT).
Ina yang telah bekerja selama dua bulan di majikan ini akhirnya dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian pada akhir tahun 2025 tersebut membuatnya tak bisa berjalan. Ina tidak mampu bekerja, sehingga melapor pada awal Maret 2026 dan didampingi oleh SBIPT untuk menyelesaikan kasusnya dengan meminta pertanggungjawaban kepada majikan juga. Untungnya majikan berniat baik untuk membayarkan semua biaya pengobatannya, tulis keterangan SBIPT.
Saat dihubungi oleh CNA melalui kontak dengan SBIPT, Ina mengatakan bahwa dirinya sebelumnya ingin pulang saja ke tanah air karena tidak sanggup lagi bekerja. Namun, pihak SBIPT memberikan edukasi kepada Ina jika ia mengalami kecelakaan kerja di Taiwan, harus fokus berobat di sini karena merupakan tanggung jawab majikan. Selain itu, ada asuransi ketenagakerjaan yang akan membantunya.
Fajar, Ketua SBIPT saat diwawancarai CNA mengatakan bahwa tak hanya Ina yang ingin pulang, bahkan keluarganya pun ingin Ina segera pulang ke tanah air. SBIPT memberikan edukasi pada keluarganya juga agar mendukung proses pemulihannya.
“Alhamdulilah, sekarang Ina sudah bisa berjalan tanpa tongkat,” ujar Fajar.
Kini Ina sementara waktu tinggal di shelter di bawah pengawasan Depnaker Hsinchu sampai benar-benar pulih.
Fajar mengatakan, secara hukum yang berlaku di Taiwan, majikan wajib mendaftarkan pekerjanya ke dalam Asuransi Kecelakaan Kerja (Astek). Itu artinya bahwa biaya pengobatan harus ditanggung oleh majikan. Selain itu, hak gaji tetap berjalan selama masa pemulihan sesuai aturan.
Fajar menambahkan bahwa jika ada PMI yang mengalami kecelakaan kerja, ia akan tetap mengawal kasus PMI tersebut untuk tetap berobat di Taiwan hingga sembuh.
“Ingat, pulang ke tanah air saat masih atau sedang sakit bisa merugikan diri sendiri. Maksimalkan hak berobat dan perlindungan yang ada di Taiwan sebagai jaminan,” ungkapnya.