FEATURE /Memahami 228 dari pengalaman Chen: Tak pernah diceritakan, patut diperingati sebagai penghormatan

28/02/2026 14:01(Diperbaharui 28/02/2026 22:57)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Keluarga Chen, salah satu korban teror putih dalam pawai damai memperingati insiden 228 yang digelar di Taipei, Sabtu. (Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)
Keluarga Chen, salah satu korban teror putih dalam pawai damai memperingati insiden 228 yang digelar di Taipei, Sabtu. (Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)

Oleh Muhammad Irfan, reporter staf CNA

Shiang Chen mendorong kursi roda ibunya, Chen Cheng (陳鄭), sambil mengikuti iring-iringan pawai tahunan peringatan insiden maut 28 Februari 1947 di Taiwan. "Dia adalah salah satu saksi sejarah insiden tersebut, kini usianya 96 tahun," kata sang putri kepada CNA, Jumat (27/2).

Berdasarkan cerita yang Chen dengar langsung, ibunya masih berusia 16 tahun dan tinggal di Chiayi, Taiwan selatan, saat terjadinya Insiden 228 -- serentetan penindasan berdarah terhadap pengunjuk rasa pasca pemukulan brutal seorang pedagang tembakau di Taipei oleh agen pemerintah pada 27 Februari 1947.

Merujuk pada sejumlah sumber sejarah, meskipun insiden ini dimulai di Taipei, protes dengan cepat menjalar ke seluruh pulau, mengingat pemukulan itu hanya satu faktor yang meningkatkan eskalasi kekecewaan publik pada pemerintah Kuomintang (KMT) saat itu, akibat situasi yang serba sulit usai Taiwan diserahkan Jepang ke Tiongkok usai Perang Dunia ke-II.

Kerusuhan di Taiwan pada 1947 memicu diberlakukannya masa darurat militer di pulau itu pada 1949 yang berlangsung sampai 1987. Masa-masa ini dikenal juga dengan masa teror putih, sebuah periode penindasan politik brutal oleh pemerintah KMT, menurut beberapa sumber historis.

"Pada musim panas 1949, ia sekadar mampir ke tempat apresiasi rekaman untuk mengirim pesan kepada saudara laki-lakinya. Sebenarnya cuma ingin mengajaknya pulang untuk makan malam. Namun, karena hal itu, ia ditahan selama setahun. Padahal ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Begitulah jadinya ketika Anda dipenjara secara tidak adil," kata Chen.

Chen menyatakan bahwa seseorang melihat ibunya di acara tersebut dan menambahkannya ke daftar orang yang dicari. Hingga saat ini mereka juga tidak tahu acara apa itu. Beberapa waktu kemudian, beberapa orang datang ke rumah ayahnya—kakek dari pihak ibu Chen—dan membawanya pergi.

Menurut Chen, ibunya saat itu baru lulus SMA dan ia membayangkan akan punya kehidupan kuliah yang menyenangkan. Sayangnya, itu tidak pernah terjadi.

"Karena ia mengalami situasi yang berat itu (jadi korban teror putih)," kata Chen.

Chen menyatakan bahwa trauma ibunya berlangsung lama. Terkadang, ia merasa cemas dan panik saat sendirian. Ia juga menyebutkan suasana tegang di penjara saat itu, dengan sering mendengar gemerincing rantai pada tahanan lain, tidak yakin dengan perlakuan yang mereka terima. Ia juga sering mendengar tentang orang-orang yang dibawa pergi dan dieksekusi.

Bahkan sekarang, di usia sembilan puluhan, ibunya masih sering merasa takut dan ngeri karena ditangkap dan dipenjara, atau karena suara keras, ujar Chen.

Keluarga Chen, salah satu korban teror putih dalam pawai damai memperingati insiden 228 yang digelar di Taipei, Sabtu. (Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)
Keluarga Chen, salah satu korban teror putih dalam pawai damai memperingati insiden 228 yang digelar di Taipei, Sabtu. (Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)

Tak pernah dibicarakan

Meski pengalaman ibunya di era tersebut cukup berat, Chen baru tahu kisah itu di tahun 1990-an. Sebelumnya, hampir semua keluarga tak pernah menceritakan kembali masa-masa itu.

"Setelah masa kepemimpinan partai sebelumnya (KMT) selesai, ibu dan ayah saya mulai menceritakan kisah ini. Karena sejarah ini memang tidak pernah diajarkan juga di sekolah," kata Chen.

Sejak itu, ia mulai memahami betapa kacaunya situasi Taiwan saat itu, baik dalam Insiden 228 maupun di sepanjang masa teror putih. Sayangnya, kejadian ini juga menimpa ibunya secara langsung.

"Karena Chiayi adalah salah satu daerah di mana situasinya sangat parah. Ayah saya juga menceritakan banyak hal, seperti pembunuhan banyak guru yang dihormati dan penangkapan teman-teman. Tetapi selama pemerintahan KMT, hal-hal ini tidak dapat dibicarakan, sehingga mereka mengubur kenangan ini dalam-dalam di hati mereka selama bertahun-tahun," kata Chen.

Refleksi dari keluarga korban

Sebagai anak dari korban teror putih, Chen percaya bahwa kebenaran harus diungkapkan, dan sekaranglah saatnya bagi orang-orang untuk memahami sejarah itu. Ini juga untuk menghormati para korban, keluarga mereka, dan dunia.

"Setidaknya, semua kesalahan dan ketidakadilan harus dihadapi secara jujur. Itu harus diakui, bukan ditutupi," katanya.

Chen mengakui bahwa mengungkap sejarah ini bukanlah hal mudah, karena tidak semua korban bersedia membicarakannya, dan menghadapi masa lalu seringkali membangkitkan trauma yang mendalam. Namun, ia percaya acara peringatan seperti ini harus terus diadakan agar generasi mendatang dapat memahami tahun-tahun sulit yang telah dialami Taiwan.

"Biarkan mereka mengetahui sejarah orang tua dan kakek-nenek mereka, dan dalam upaya menegakkan keadilan, untuk memiliki landasan dialog yang lebih empatik, inklusif, dan simbiosis dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan pengalaman dalam menciptakan masa depan yang damai bagi Taiwan," ujarnya.

Pawai damai

(Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)
(Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)

Pawai 228 kali ini berangkat dari Sekolah Dasar Rixin pada pukul 13.50 dan menuju bekas lokasi Rumah Teh Tianma di Distrik Datong, tempat insiden itu bermula 79 tahun lalu. Prosesi kemudian berlanjut ke beberapa situs bersejarah penting, termasuk Taipei 228 Memorial Museum -- yang dulunya adalah stasiun radio yang menyiarkan berita pemberontakan -- dan berakhir di Yuan Eksekutif, lokasi bekas kantor Kepala Eksekutif yang memerintahkan penindasan tahun 1947. Sumber penyelenggara menyebut sejak insiden tersebut yang dilanjutkan dengan era teror putih ada sedikitnya 28.000 korban jiwa.

Dalam pawai yang diikuti setidaknya 2.000 orang dan dengan melibatkan kurang lebih 80 kelompok sipil ini, nama-nama korban dibacakan dengan lantang dalam bahasa Hokkien dan Hakka untuk menghormati mereka.

Di Rumah Teh Tianma, Leonard Lin (林宗正), seorang pendeta Presbiterian, satu dari tiga orang pertama yang memelopori peringatan insiden 228 di akhir dekade 80, berlutut untuk mencium tanah, meletakkan buket bunga dan menaburkan kelopak mawar untuk menghormati para korban Insiden 228.

Ia lantas membawa setangkai bunga mawar ke tugu 228 yang ada di depan bangunan bekas rumah teh tersebut seraya berdoa menggunakan bahasa Hokkien Taiwan.

Pendeta Leonard Lin meletakkan bunga untuk menghormati para korban Insiden 228 dalam pawai damai di Taipei, 27 Februari 2026. (Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)
Pendeta Leonard Lin meletakkan bunga untuk menghormati para korban Insiden 228 dalam pawai damai di Taipei, 27 Februari 2026. (Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)

Di Yuan Eksekutif yang jadi titik akhir pawai, kegiatan diisi dengan sejumlah orasi dan penampilan teatrikal. Deng Chu-mei (鄭竹梅), putri aktivis Taiwan, Deng Nan-jung (鄭南榕) yang membakar dirinya pada 1989 juga sempat menyanyikan lagu "My Bonnie Lies Over the Ocean".

Lagu ini ia nyanyikan dengan iringan akordeon sebagai penghormatan bagi putri kembar aktivis demokrasi Taiwan, Lin I-hsiung (林義雄), yang dibunuh di rumahnya oleh orang tak dikenal pada 1980. Konon, lagu ini adalah lagu kesukaan putri kembar Lin. 

Sejumlah aksi teatrikal dan musik yang berlangsung khidmat pun membuat sebagian peserta pawai tak kuasa menahan air mata. 

"Pawai hari ini bukan tentang kebencian, tetapi untuk perdamaian, dan untuk berupaya agar masyarakat maju. Kita harus menyuarakan kenangan kita selagi masih bisa, untuk menceritakannya kepada generasi muda," kata Deng.

Selesai/JC

(Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)
(Sumber Foto : CNA, 27 Februari 2026)
How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.