WAWANCARA /Kartika Dewi : Pegiat budaya dan aktivis diaspora Indonesia di Taiwan

24/01/2026 09:46(Diperbaharui 24/01/2026 09:46)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Dewi memperkenalkan budaya kebaya di festival batik di National Taiwan Museum tahun 2025. (Sumber Foto : Kartika Dewi).
Dewi memperkenalkan budaya kebaya di festival batik di National Taiwan Museum tahun 2025. (Sumber Foto : Kartika Dewi).

Oleh Mira Luxita, staf reporter CNA

Kartika Dewi, bagi sebagian diaspora Indonesia di Taiwan adalah nama yang tak asing. Ia kerap malang melintang di berbagai kegiatan budaya yang diadakan oleh Indonesian Diaspora Networking chapter Taiwan, hingga didapuk sebagai pegiat budaya untuk memperkenalkan Indonesia di Taiwan di berbagai jenjang dari taman kanak-kanak (TK) hingga universitas.

Saat dihubungi CNA melalui telepon genggamnya, tawa renyah Dewi, sapaan akrab dari Kartika Dewi mewarnai wawancara yang berlangsung hangat. Meski sudah 32 tahun tinggal di Taiwan, imigran pecinta topeng batik mantap tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesianya tanpa berpindah menjadi warga negara Taiwan. Alasannya, Ia enggan disebut sebagai orang asing di negeri sendiri, Indonesia.

“Saya sudah jadi orang asing di Taiwan, masak saya juga mau jadi orang asing lagi saat pulang ke Indonesia, haha” ujarnya seraya bercanda.

Dengan status penduduk permanen (APRC), Dewi pun jadi mediator antara kedua negara sebagai pegiat budaya. Berikut ini kisah Dewi yang diceritakan melalui CNA.

Tak dianggap pengantin asing 


Dewi datang ke Taiwan di tahun 1994 usai menikah dengan suaminya yang merupakan warga Taiwan. Keduanya bertemu saat sekolah di Tailan, tempat Dewi melanjutkan pendidikan ilmu batu permata di  tahun 1989. Berpacaran dan menikah, sang suami pun memboyongnya ke Taiwan.

Dewi mengingat masa-masa itu ia tak bisa berbahasa Mandarin. Ia berkomunikasi dengan suami dan keluarga suaminya menggunakan Bahasa Inggris. Beruntung ia tinggal di Yanmingshan, lingkungan yang banyak dihuni oleh orang asing. Suami Dewi pun tak menuntutnya untuk belajar Bahasa Mandarin. Sang suami hanya memintanya untuk menghafal nama Mandarin suaminya dan alamat rumah, itu saja.

Ketika ditanya apakah pernah mendapat pengalaman sedih saat menjadi imigran baru pada masa itu, Dewi mengatakan banyak. 

“Banyak yang mengejek saya karena kulit saya hitam mata belok, jadi tidak mungkin menikah dengan orang Taiwan. Mereka berpikir saya cuma pembantu. Saat itu orang Taiwan menganggap rendah orang Indonesia karena mereka berpikir yang datang ke Taiwan hanyalah sebagai pembantu. Orang Taiwan tak menganggap saya sebagai pengantin asing.” Ujar Dewi mengenang masa tersebut.

“Namun saya membalas dan menyikapinya dengan senyuman. Tak pernah saya sekalipun memberontak dan menunjukkan jati diri saya dihadapan mereka. Saya berpikir mereka meremehkan saya karena mereka tidak tahu kemampuan saya,” ujar Dewi.

Dewi bersama anaknya, pada tahun 1998. (Sumber Foto : Kartika Dewi).
Dewi bersama anaknya, pada tahun 1998. (Sumber Foto : Kartika Dewi).

Namun situasi ini memotivasinya. Menurut Dewi, orang Taiwan akan mengapresiasi kita jika kita menunjukkan pada mereka apa yang kita bisa, tutur Dewi. Ia pun mulai membuka kelas-kelas untuk orang asing di antaranya kesenian Chinese Knotting (seni simpul Tionghoa) yang dipelajarinya selama delapan tahun.

Ia membuka kelas setiap Senin selama dua jam dengan peserta warga negara Korea, Jepang, Malaysia, Singapura, Perancis, dan Amerika yang tinggal di Taiwan. "Tetapi tidak ada orang Taiwan sama sekali,” kenang Dewi. Namun justru dari kelas-kelas seperti ini orang Taiwan yang melihatnya mulai merasa kagum.

Dewi pun merambah untuk membuka kelas-kelas yang lain seperti kelas memasak memperkenalkan masakan Indonesia. Inisiatif ini juga muncul dari cerita getir saat anaknya yang saat itu masih duduk di kelas 1 SD diejek teman sekelasnya karena bekal anak yang Dewi siapkan dianggap seperti makanan babi.

Dewi pun meminta guru anaknya untuk mengizinkannya berbagi masakan Indonesia pada wali murid dan anak-anak di sekolah tersebut. Dewi memasak nasi kuning, sate, kerupuk dan makanan lainnya. Mereka pun menyukainya dan pemikiran orang Taiwan pada Indonesia pun berubah.

Saat ditanya apa yang membuatnya tetap kuat meski banyak tantangan. Dewi menjawab karena pesan dari mendiang ibunya. 

“Mendiang mama selalu mengatakan bahwa kalau menjadi istri orang asing dan tinggal di negaranya, kamu harus siap menjadi second class of people karena mereka akan menganggap kamu rendah. Jadi kamu harus punya mental yang kuat,” kenangnya.

Dewi juga menceritakan keunikan lainnya pada masa lalu. Dulu, pekerja migran Indonesia (PMI) tidak boleh berambut panjang, harus berambut pendek. Namun rambut Dewi kala itu panjang dan ia dianggap pembantu kaburan yang telah bekerja di Taiwan lama. Tak ayal, ia selalu didatangi polisi dan ditanya kerja apa, di mana, dan mengapa pada jam-jam tertentu ia keluar rumah. 

Bahkan saat keluar membuang sampah dengan sang anak, Dewi dikira pembantu dan anaknya dikira sebagai anak majikannya, sehingga membuat sang anak meminta Dewi untuk tak membuang sampah lagi agar ia tak sakit hati. Lagi-lagi, Dewi membalasnya dengan senyuman. 

Meski begitu, Dewi yang kerap kali dicemooh oleh orang Taiwan, tetap mengabdikan diri sebagai tenaga sukarelawan hotline pelayanan di salah satu organisasi Women Center untuk membantu pengantin asing lainnya yang mempunyai masalah. 

Jadi presiden IDN Taiwan hingga penasehat IDN global

Hari demi hari Dewi lewati di Taiwan dengan dukungan penuh dari keluarga sang suami. Hingga tahun 2015, tak pernah terpikirkan oleh Dewi untuk bergabung bersama organisasi besar, Indonesian Diaspora Network (IDN). 

Awalnya ia hanya menggantikan teman yang tidak dapat hadir memenuhi rapat undangan di Kementerian Luar Negeri Indonesia, di Jakarta. Dewi yang didapuk sebagi perwakilan pun akhirnya kepencut dengan organisasi tersebut karena ia melihat banyak diaspora Indonesia dari berbagai belahan dunia yang aktif berkarya bagi Indonesia meskipun mereka di luar negeri.

Memperkenalkan kuliner khas Indonesia (ketoprak) di National Taiwan University of the Arts (NTUA). (Sumber Foto : Kartika Dewi)
Memperkenalkan kuliner khas Indonesia (ketoprak) di National Taiwan University of the Arts (NTUA). (Sumber Foto : Kartika Dewi)

Dengan keaktifan Dewi pada organisasi tersebut, ia pun didapuk menjadi presiden IDN Taiwan periode tahun 2017-2019. Hingga sampai sekarang pun Dewi tetap menjabat sebagai Board of Advisor IDN Global yang beranggotakan diaspora global untuk 50 negara. Ia pun juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden IDN Global tahun 2023-2025. 

Sebagai aktivis diaspora, Dewi tidak hanya menyandang jabatan saja, ia pun menelurkan program-program yang berarti bagi diaspora termasuk pekerja migran Indonesia (PMI). Dewi bercerita, pada tahun 2021 – 2023, ia diberi kepercayaan untuk PMI secara global. Ia pun membuka program webinar untuk PMI dengan lebih condong menyuarakan prestasi PMI. 

“Saya membuka program ini agar tidak ada gap (batasan) untuk PMI kerah biru dan kerah putih. Semuanya sama, dan dapat bekerja sama saling melengkapi,” ujarnya.

Hingga kini, IDN Global pun dipercaya PMI untuk melakukan webinar atau seminar tentang pekerja migran dengan menghadirkan narasumber yang seimbang dari kedua sektor, bahkan ia membuka kelas-kelas Bahasa Inggris bagi PMI secara gratis. 

Mengajar dari TK hingga Universitas

Tak hanya aktif di kalangan IDN saja, Dewi mempunyai sejuta kesibukan kesehariannya berkeliling Taiwan untuk mengajar angklung, membuka kelas budaya, mengajar kerajinan tangan serta kelas memasak, semuanya untuk memperkenalkan Indonesia di mata para pelajar dan mahasiswa. Dewi pun diberi kepercayaan untuk mengajar sekolah dari tingkat TK hingga universitas.

Mengajar topeng batik untuk PMI di Singapura tahun 2022. (Sumber Foto : Kartika Dewi).
Mengajar topeng batik untuk PMI di Singapura tahun 2022. (Sumber Foto : Kartika Dewi).

Dewi menuturkan bahwa ia lebih banyak diundang mengajar sebagai dosen tamu di universitas untuk memperkenalkan budaya Indonesia, dan makanan khas Indonesia, khususnya di Taipei National University of The Arts setiap semester. 

“Kalau kita menyatukan orang-orang lewat budaya, semuanya bisa nyambung,” ujar Dewi.

Tak hanya di Taiwan saja, ternyata Dewi juga diberi kepercayaan untuk mengajar kerajinan tangan seperti topeng batik di  Hongkong, Malaysia, Singapura dan Jakarta. Hasil karyanya pun tak hanya dinikmati oleh kalangan warga Indonesia dan Taiwan saja, tetapi juga melalang buana ke Australia. Topeng batik yang ia tekuni telah terbang menjadi aksesori untuk model di peragaan busana Melbourne Fashion Week tahun 2024 hingga 2025. Bahkan topeng tersebut menjadi buah tangan bagi para tamu VIP di peragaan tersebut.

Salah satu karya topeng Dewi yang ikut menyemarakkan Melbourne Fashion Week tahun 2025 di Australia. (Sumber Foto : Kartika Dewi).
Salah satu karya topeng Dewi yang ikut menyemarakkan Melbourne Fashion Week tahun 2025 di Australia. (Sumber Foto : Kartika Dewi).

Saat ditanya CNA, apa harapan Dewi ke depannya sebagai pegiat budaya, ia pun menyuarakan agar diaspora Indonesia dapat memberi tahu pengenalan budaya yang benar tentang Indonesia. 

“Jangan sampai menyepelekan. Misalnya, jangan sembarangan memperlihatkan bendera di tempat-tempat yang bukan sewajarnya. Kita harus hormat dengan bendera kita. Intinya, kita harus menunjukkan bagaimana menggunakan budaya yang tepat, seperti memakai pakaian nasional yang tidak seronok atau terlalu seksi. Jadi kita harus menunjukkan ke orang luar tentang budaya Indonesia yang sopan dan cantik untuk mempresentasikan budaya Indonesia yang sesungguhnya,” tegasnya.

Ia pun berpesan bagi para diaspora Indonesia di Taiwan untuk tetap menjaga nama baik Indonesia.  

“Kalau memungkinkan kita harus bangga pakai produk khas Indonesia setiap hari. Misalnya pakailah asesoris atau apapun yang berciri khas Indonesia. Ajaklah orang Taiwan untuk dikenalkan dengan budaya kita dan kuliner masakan Indonesia seperti membuat tempe atau membagikan resep mengolah tempe,” ujarnya mengakhiri wawancara.

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.