Taipei, 24 Jan. (CNA) Ekonomi Taiwan diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,14 persen pada tahun 2026, didorong oleh permintaan yang kuat untuk kecerdasan buatan (AI), kata Institut Penelitian Ekonomi Chung-Hua (CIER) pada hari Senin (19/1).
Proyeksi tersebut tidak mempertimbangkan kesepakatan yang dicapai dalam negosiasi perdagangan yang baru-baru ini diselesaikan antara Amerika Serikat dan Taiwan, yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, kata Presiden CIER Lien Hsien-ming (連賢明) dalam sebuah jumpa pers.
Pembicaraan perdagangan tersebut menghasilkan kesepakatan bagi AS untuk memangkas tarif atas barang-barang Taiwan dari 20 persen menjadi 15 persen, tanpa menambahkannya pada tarif negara yang paling disukai (MFN) yang sudah ada.
Untuk tahun 2025, CIER mengatakan, pertumbuhan ekonomi Taiwan diperkirakan sebesar 7,43 persen, sedikit di atas proyeksi Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi, dan Statistik (DGBAS) sebesar 7,37 persen.
Lembaga pemikir tersebut mengatakan ketidakpastian terkait kebijakan tarif AS telah menyebabkan beberapa gejolak, namun penimbunan awal oleh produsen serta investasi dan momentum ekspor yang didorong AI telah menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Melihat ke tahun 2026, CIER mengatakan permintaan untuk perangkat keras AI diperkirakan akan tetap kuat, mendukung impor dan ekspor terkait.
Namun, karena efek basis yang tinggi, pertumbuhan kemungkinan akan lebih kuat pada paruh pertama tahun dan melandai pada paruh kedua, katanya.
Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan sebesar 5,28 persen pada paruh pertama tahun, dan 3,10 persen pada paruh kedua, menurut CIER.
Mengenai harga, CIER memperkirakan bahwa indeks harga konsumen (CPI) akan naik 1,64 persen pada tahun 2026, dengan mengutip harga komoditas global yang stabil dan harga minyak yang menurun.
Untuk nilai tukar, CIER mengatakan kondisi pada tahun 2026 akan mendukung apresiasi bertahap dolar Taiwan baru, setelah volatilitasnya tahun lalu.
Tekanan apresiasi diperkirakan akan meningkat, mengingat Federal Reserve AS memangkas suku bunga tiga kali pada tahun 2025, dan Taiwan mencatat surplus perdagangan barang sebesar US$150,12 miliar (Rp2,4 kuadriliun) dengan AS, kata lembaga pemikir tersebut.
CIER memperkirakan dolar Taiwan akan menguat dari NT$30,88 (Rp16,576) terhadap dolar AS pada kuartal pertama 2026 menjadi sekitar NT$29,77 pada kuartal keempat, dengan rata-rata tahunan sekitar NT$30,33, yang berarti apresiasi sekitar 2,83 persen dari tahun 2025.
Lien mengatakan kesepakatan tarif dengan AS diharapkan akan menguntungkan industri tradisional Taiwan, sektor teknologinya, dan investasi.
Tarif AS yang lebih rendah akan memungkinkan industri tradisional Taiwan untuk bersaing lebih adil, sementara penghapusan ketidakpastian atas tarif semikonduktor akan meningkatkan prospek investasi teknologi, katanya.
Kerja sama AS-Taiwan yang lebih besar di industri strategis juga akan menguntungkan startup dan sektor baru yang sedang berkembang, kata Lien.
Selesai/ja