Taipei, 12 Jan. (CNA) Penurunan suhu udara 1 derajat Celsius dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 1,2 persen dan angka kematian 1,6 persen, seiring syok kardiogenik merupakan kondisi jantung paling kritis yang memerlukan penanganan medis segera, ujar Direktur Departemen Kardiologi Tri-Service General Hospital (TSGH) Tsai Tsung-neng (蔡宗能).
Data dari Departemen Kesehatan Kota Taipei menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit kardiovaskular memuncak pada bulan Desember hingga Februari, dengan infark miokard akut dan syok kardiogenik sebagai penyebab paling fatal.
Direktur Biro Medis Kementerian Pertahanan Nasional, Tsai Chien-sung (蔡建松) menekankan bahwa syok kardiogenik adalah kondisi yang sangat berpacu dengan waktu. Gejala seperti sesak napas, edema ekstremitas bawah, dan kelelahan seluruh tubuh harus segera dievaluasi oleh dokter untuk memanfaatkan "waktu emas" pengobatan dan mengurangi risiko penyakit berat, ujarnya.
Direktur Departemen Kardiologi di TSGH, Tsai Tsung-neng (蔡宗能) juga menjelaskan bahwa suhu rendah menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan peningkatan kekentalan darah, yang secara langsung memicu risiko kardiovaskular.
Penelitian menunjukkan bahwa semakin lama penundaan dalam memulai dukungan sirkulasi mekanis atau intervensi pengobatan, semakin tinggi pula angka kematian di rumah sakit, kata Tsai.
“Meski jantung berhasil diselamatkan, pemulihan sejati tetap mustahil jika organ lain telah mengalami kegagalan,” ujar Direktur Departemen Bedah Kardiovaskular dan Kedokteran Transplantasi TSGH Ko Hung-yen (柯宏彥), seraya menekankan pentingnya model penanganan berbasis tim untuk syok kardiogenik.
Ko menjelaskan, melalui pembentukan Shock Team di TSGH, integrasi lintas disiplin memungkinkan pasien jantung kritis memperoleh terapi paling tepat dalam waktu singkat. Ia mencontohkan seorang mahasiswa yang kolaps dengan fungsi jantung tersisa 10 persen, yang kemudian distabilkan dan dipasang alat bantu ventrikel kiri jangka panjang (LVAD), hingga pulih dan kembali beraktivitas normal.
Ko menambahkan, keterbatasan donor jantung di Taiwan membuat penilaian dini penggunaan LVAD menjadi krusial, terutama di tengah masyarakat yang menua dengan cepat.
(Oleh Chen Chieh-ling dan Agoeng Sunarto)