ABK Tamsui terlantar usai di-PHK, tanpa tempat penampungan dan jaminan

25/02/2025 19:36(Diperbaharui 25/02/2025 19:36)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Dalam kunjungannya ke pelabuhan Tamsui, New Taipei, pada Sabtu (22/2) Kepala KDEI Arif Sulistiyo berdialog bersama beberapa ABK. (Sumber Foto : KDEI)
Dalam kunjungannya ke pelabuhan Tamsui, New Taipei, pada Sabtu (22/2) Kepala KDEI Arif Sulistiyo berdialog bersama beberapa ABK. (Sumber Foto : KDEI)

Taipei, 25 Feb. (CNA) Di balik keindahan Jembatan Cinta Tamsui, tersimpan kisah pilu para Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia, ujar pernyataan rilis pers Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI).

Dalam kunjungannya ke Tamsui Fisherman's Wharf, New Taipei, pada Sabtu (22/2) Kepala KDEI Arif Sulistiyo berdialog bersama beberapa ABK yang mayoritas bekerja sebagai nelayan penangkap kepiting dan cumi, sementara sebagian kecil lainnya bertugas di kapal pesiar wisata, menurut pernyataan tersebut.

Kunjungan tersebut bukan pertama kalinya. Pada bulan Mei 2024 silam KDEI Taipei bersama delegasi ketenagakerjaan dari Indonesia pernah mengunjungi pelabuhan tersebut dan berbincang mendengarkan keluh kesah para ABK juga, menurut rilis pers tersebut.

Di balik keindahan Jembatan Cinta Tamsui, tersimpan kisah pilu para Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia. (Sumber Foto : KDEI)
Di balik keindahan Jembatan Cinta Tamsui, tersimpan kisah pilu para Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia. (Sumber Foto : KDEI)

Dalam kunjungan kali ini, para ABK menuturkan bahwa gaji yang mereka terima sudah sesuai kebijakan baru serta mendapat uang makan. Fasilitas MCK, air panas, air bersih dan listrik juga tersedia dengan baik. Beberapa ABK bahkan mengaku jika mereka juga menerima bonus tahunan dan bulanan, ujar pernyataan KDEI.

Namun masih ada permasalahan yang belum terselesaikan. KDEI menuliskan, ada beberapa ABK mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), sepihak diturunkan dari kapal, dan dikembalikan ke agensi. 

Akan tetapi para ABK tersebut menyatakan bahwa mereka tidak diberikan tempat penampungan baik dari majikan atau agensi. 

“Kami terlantar, menganggur 1-2 bulan, bahkan dipulangkan jika izin kerja habis," ujar salah seorang ABK dengan nada prihatin.

Masalah lain yang mencuat adalah kecelakaan kerja yang belum diklaim asuransinya. 
KDEI Taipei langsung memproses data-data ABK yang sedang berlayar tersebut melalui ponsel rekan sekerjanya di pelabuhan. 

Kepada CNA, KDEI mengatakan bahwa pihaknya segera melakukan klarifikasi kepada agensi untuk memastikan hak-hak pekerja melalui Astek dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS TK) Indonesia. 

Selain itu, KDEI Taipei berencana menata kembali sistem penempatan ABK di berbagai pelabuhan perikanan di Taiwan guna mengatasi berbagai permasalahan yang ditemukan. 

Di akhir pertemuan, Kepala KDEI memberikan pesan kepada para ABK untuk bekerja lebih giat lagi dan rajin menghubungi keluarga di Indonesia.

"Jangan lupa hubungi keluarga di Indonesia, dan hindari mabuk-mabukan," pesan Arif Sulistiyo.

(Oleh Miralux)

Selesai/JA

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.