Taipei, 16 Okt. (CNA) Sebuah kelompok hak perempuan pada hari Kamis (15/10) mendesak para kandidat yang mencalonkan diri untuk posisi tertinggi pemerintahan daerah agar memperhatikan empat prioritas: perumahan bagi penyintas kekerasan dalam rumah tangga, tindakan terhadap pelecehan seksual di tempat kerja, layanan penitipan anak, dan pelatihan pengasuh.
Yayasan Garden of Hope, sebuah lembaga amal yang memperjuangkan kesetaraan gender, mengajukan delapan tuntutan di bawah empat kategori tersebut kepada 81 kandidat yang mencalonkan diri sebagai bupati atau wali kota di 22 kabupaten dan kota di Taiwan dalam pemilihan daerah pada 28 November.
Yayasan tersebut mengatakan dalam siaran pers bahwa mereka berharap dapat mengubah kebutuhan yang diidentifikasi oleh pekerja sosial garis depan menjadi usulan konkret yang dapat diterapkan oleh pemerintah daerah. "Kebijakan yang responsif gender seharusnya menjadi bagian dari tata kelola daerah," katanya.
Mengutip survei tahun 2025 yang menunjukkan bahwa 52 persen penyintas kekerasan dalam rumah tangga kesulitan menemukan tempat tinggal setelah melarikan diri dari rumah mereka, yayasan tersebut menyerukan lebih banyak pilihan perumahan yang memenuhi kebutuhan penyintas sambil tetap dekat dengan tempat kerja, sekolah, dan rutinitas harian mereka.
Yayasan itu juga menyerukan agar penyintas diberikan prioritas dalam alokasi perumahan umum dan didirikannya tempat penampungan di dalam perumahan tersebut yang menyediakan layanan penitipan anak dan dukungan lainnya.
Terkait pelecehan seksual di tempat kerja, yayasan meminta otoritas ketenagakerjaan daerah untuk mengadakan setidaknya dua sesi konsultasi hukum setiap bulan guna membantu pemberi kerja menangani kasus dan mengakses dukungan eksternal.
Banyak perusahaan, terutama usaha kecil dan menengah, masih kesulitan mengikuti pedoman pemerintah pusat tentang pelecehan seksual di tempat kerja karena mereka tidak memiliki staf khusus, kata yayasan tersebut.
Terkait penitipan anak, yayasan meminta lebih banyak layanan penitipan anak drop-in untuk memenuhi kebutuhan orang tua secara insidental, termasuk setidaknya satu pusat penitipan anak siang hari dan satu pusat malam yang buka hingga pukul 10 malam di setiap distrik.
Yayasan itu juga mendorong jam kerja yang lebih fleksibel untuk membantu orang tua mengatur antar-jemput anak, serta menyerukan pelonggaran aturan kelayakan untuk penitipan anak umum agar lebih banyak keluarga dapat menggunakan layanan tersebut.
Terkait pelatihan pengasuh, yayasan meminta agar penyedia penitipan anak berbasis rumah menerima setidaknya tiga jam pelatihan kesetaraan gender setiap dua tahun, sesuai dengan persyaratan wajib bagi pekerja di lembaga penitipan anak.
Yayasan tersebut masih menunggu tanggapan dari para kandidat, hingga berita ini diturunkan.
Selesai/ja