Oleh Ken Chao dan Muhammad Irfan, reporter CNA
Sebelum menjadi salah satu jurnalis Uyghur paling dikenal di dunia, Gulchehra Hoja adalah pembawa acara program anak-anak yang populer di Xinjiang Television. Posisi itu menjadikannya sosok yang dipercaya oleh masyarakat melalui media milik pemerintah Tiongkok.
Kini, ia bahkan berseloroh bahwa sekadar mewawancarainya saja dapat membuat seseorang dianggap mencurigakan di mata Beijing.
“Anda bertemu saya, (maka Anda bisa dituding) teroris,” katanya sambil tertawa sebelum wawancara dengan CNA di Taipei pada 10 Juli.
Ucapan tersebut mencerminkan perubahan luar biasa dalam perjalanan hidup seorang jurnalis yang meninggalkan media pemerintah Tiongkok lebih dari dua dekade lalu, lalu menjadi salah satu sosok yang membantu mengungkap apa yang oleh sejumlah pemerintah dan pakar hak asasi manusia disebut sebagai genosida terhadap bangsa Uyghur.
Sebagai jurnalis Layanan Uyghur Radio Free Asia (RFA), Hoja bersama rekan-rekannya menjadi pihak pertama yang mengungkap keberadaan sistem kamp penahanan massal di Xinjiang, ketika informasi dari wilayah tersebut masih sangat terbatas dan dikontrol secara ketat.
Misi itu pada akhirnya menuntut pengorbanan pribadi yang sangat besar, memaksanya memilih antara keluarganya dan pekerjaan jurnalistik yang ia yakini harus terus dijalankan.
Dari propaganda menuju jurnalisme
Hoja, yang kini menjadi koresponden Reporters Without Borders (RSF), mengatakan titik balik kariernya terjadi sekitar tahun 2000, ketika ia mulai menyadari tujuan sebenarnya dari acara anak-anak yang ia bawakan.
“Saya benar-benar memahami untuk apa program ini dibuat,” kenangnya. “Pemerintah Tiongkok memanfaatkan kepercayaan masyarakat saya kepada saya… sebagai alat propaganda untuk mengasimilasi generasi saya sendiri.”
“Saat itu juga saya merasa bersalah,” ujar Hoja.
Selama sekitar satu tahun, ia bergumul dengan kenyataan bahwa pekerjaannya telah ikut membantu mempromosikan kebijakan asimilasi.
Perjalanan singkat ke Eropa kemudian memperkenalkannya pada internet tanpa sensor untuk pertama kalinya. Dari luar negeri, ia mendengarkan siaran Layanan Uyghur RFA dan mulai membandingkan pemberitaan mereka dengan pekerjaan yang selama ini ia lakukan di Tiongkok. Saat itulah ia memutuskan bahwa dirinya tidak bisa lagi bertahan dalam sistem media negara.
“Saya merasa saya telah melakukan kesalahan,” katanya. “Di kampung halaman saya, itu sama sekali bukan jurnalisme yang sesungguhnya.”
Ia bergabung dengan RFA di Washington pada Oktober 2001, hanya beberapa minggu setelah serangan teroris 11 September yang sempat menunda penerbitan visanya.
Peralihan itu tidak berlangsung seketika. Setelah mengalami sendiri dunia propaganda dan jurnalisme independen, Hoja mengatakan bahwa ia perlahan memahami makna kebebasan pers dalam praktik.
“Setiap kali saya memiliki kesempatan, saya akan menjadi suara bagi orang-orang yang benar-benar tidak memiliki suara.”
Harapan di tengah kehilangan
Keputusan Hoja untuk menjadi jurnalis independen di luar negeri membawa konsekuensi berat bagi keluarganya di Tiongkok.
Saudaranya ditangkap otoritas Tiongkok pada September 2017, yang menurut Hoja berkaitan langsung dengan liputannya untuk RFA.
Empat bulan kemudian, pada 31 Januari 2018, aparat kembali menahan 24 anggota keluarga besarnya. Total terdapat 25 kerabat yang menjadi sasaran.
Baru tiga hari kemudian Hoja mengetahui apa yang telah terjadi.
Saat mengenang peristiwa itu, Hoja mengatakan bahwa itulah satu-satunya saat ia benar-benar mempertimbangkan untuk meninggalkan profesinya sebagai jurnalis dan kembali ke Tiongkok, dengan harapan jika ia menyerahkan diri maka keluarganya akan dibebaskan.
“Itu adalah malam yang paling berat dalam hidup saya,” kenangnya. “Saya berpikir, apakah saya harus pulang? Menyerahkan diri, lalu mungkin mereka akan membebaskan semua keluarga saya.”
Keesokan paginya ia menyampaikan niat itu kepada suaminya. Namun sang suami memintanya untuk tetap bertahan.
“Bagaimana kamu bisa yakin pemerintah Tiongkok akan membebaskan keluargamu?” kata suaminya. “Kita harus terus berjuang dari sini.”
Alih-alih pulang, Hoja kemudian secara terbuka meminta bantuan masyarakat internasional, memberikan kesaksian di hadapan Kongres Amerika Serikat, dan meningkatkan kesadaran dunia mengenai situasi di Xinjiang.
Sebagian besar anggota keluarganya kini telah dibebaskan. Namun, ia mengatakan hanya dapat berbicara singkat dengan kedua orang tuanya satu atau dua kali setiap bulan, di bawah pengawasan pemerintah yang menurutnya berlangsung terus-menerus.
Meski harus menanggung beban emosional yang berat, Hoja mengatakan bahwa jurnalisme memiliki tujuan lain selain mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia.
“Kami juga ingin memberikan harapan kepada masyarakat kami,” katanya. “Dunia memperhatikan kalian. Dunia mengetahui situasi ini. Dunia mendengarkan kalian.”
Misi itulah yang terus memberinya kekuatan.
Hoja mengatakan ia memperoleh semangat dari pengorbanan keluarganya, keyakinan Islam yang dianutnya, serta keteguhan bangsa Uyghur selama beberapa generasi yang tidak pernah meninggalkan harapan meski mengalami penindasan selama puluhan tahun.
“Bangsa saya tidak pernah menyerah pada harapan,” ujarnya. “Saya hanya melanjutkan impian mereka.”
Menunjukkan wajah lain bangsa Uyghur
Motivasi yang sama pula yang mendorongnya menulis memoar berjudul "A Stone Is Most Precious Where It Belongs".
Sebelum perhatian dunia tertuju pada Xinjiang, kata Hoja, hampir tidak ada orang di luar wilayah itu yang mengenal bangsa Uyghur. Namun setelah isu Xinjiang menjadi sorotan internasional sejak 2016, pemberitaan hampir seluruhnya berfokus pada kamp penahanan dan penindasan.
“Yang ditampilkan hanya wajah sedih kami,” katanya. “Saya ingin menceritakan kisah bangsa Uyghur.”
Kini, menurut Hoja, arus informasi dari Xinjiang telah dibatasi sedemikian ketat sehingga bahkan dirinya sendiri tidak lagi mengetahui seperti apa kehidupan sehari-hari di sana.
Setelah RFA menutup Layanan Uyghurnya pada Mei 2025 dan Beijing semakin memperketat kontrol, wilayah itu berubah menjadi apa yang ia sebut sebagai “lubang hitam informasi.”
“Bahkan saya pun tidak bisa membayangkan bagaimana situasi sebenarnya saat ini,” katanya, meskipun RFA kembali membuka layanan berbahasa Uyghur pada Februari 2026, menurut CEO dan presiden RFA. “Yang saya tahu hanya bahwa anggota keluarga saya masih hidup.”
Kebebasan harus dijaga
Hoja mengatakan pendekatan pemerintah Tiongkok terhadap bangsa Uyghur pada dasarnya tidak berubah dari satu generasi pemimpin ke generasi berikutnya. Namun, menurutnya, penindasan meningkat secara signifikan setelah Xi Jinping (習近平) berkuasa.
“Kebijakannya adalah asimilasi yang sistematis,” katanya. “Kami selalu merasakan tekanan dan pengawasan dalam kehidupan sehari-hari di kampung halaman.”
Menurut Hoja, pengalaman bangsa Uyghur mengandung pelajaran penting bagi masyarakat demokratis lainnya, termasuk Taiwan.
Ia memperingatkan bahwa otoritarianisme jarang muncul secara tiba-tiba.
“Ia berkembang sedikit demi sedikit melalui bahasa, hukum, lembaga, dan proses normalisasi,” katanya. “Pada saat penindasan massal mulai terlihat, sistem yang memungkinkan semua itu sudah terlanjur mengakar.”
Menyebut kebebasan sebagai “anugerah yang sangat berharga,” Hoja mengajak masyarakat Taiwan untuk menjaga nilai-nilai demokrasi yang mereka nikmati saat ini.
“Ketika Anda kehilangan harapan akan kebebasan,” katanya, “di situlah awal dari bahaya.”
Selesai/ML