WAWANCARA /Anggota SBIPT terpilih jadi perawat migran paruh waktu sertifikasi WDA

24/07/2026 17:01(Diperbaharui 24/07/2026 17:01)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Eka (3 dari kiri paling belakang). Salah satu perawat migran paruh waktu terpilih dari program WDA. (Sumber Foto : SBIPT).
Eka (3 dari kiri paling belakang). Salah satu perawat migran paruh waktu terpilih dari program WDA. (Sumber Foto : SBIPT).

Oleh Mira Luxita, staf reporter CNA.

Eka, seorang perawat migran anggota Serikat Buruh Industri Perawatan Taiwan (SBIPT) menuturkan pada CNA bahwa ia menjadi salah satu perawat paruh waktu yang terpilih oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Tenaga Kerja (WDA). Tak hanya gajinya yang bertambah, Eka pun menuai manfaat lainnya yang tidak ia dapatkan sebagai perawat migran sektor informal sebelumnya. 

Saat dihubungi CNA, Eka yang sudah 8 tahun bekerja di Taiwan ini sangat kegirangan mendapati statusnya berubah dari pekerja migran informal menjadi pekerja migran formal dengan gaji sesuai UMR Taiwan, yaitu NT$ 29.500 (Rp16,38 juta). Eka pun membagikan pengalamannya menjadi perawat migran paruh waktu mandiri, dengan sertifikasi WDA.

Dari eksploitasi berbuah manis menjadi pekerja mandiri

Sebelum menjadi perawat migran secara mandiri, Eka pernah mengalami eksploitasi sebagai perawat migran selama empat tahun. Eka datang ke Taiwan pada tahun 2018 dan bekerja di Sanchong, New Taipei. Selama empat tahun, pekerjaannya tidak sesuai dengan kontrak kerja. Kontraknya menjaga pasien, tetapi ia dipekerjakan menjaga anjing dan mengurus lebih dari tiga rumah.  Ia sempat melapor pada agensinya, tetapi tidak ditanggapi.

“Saya mengenang masa-masa sulit itu penuh kepedihan. Saya membersihkan satu rumah itu enam lantai, dan harus membersihkan lebih dari tiga rumah yang berbeda. Saya waktu itu tidak melapor karena tidak tahu harus melapor ke mana dan belum kenal dengan namanya organisasi PMI. Saat itu juga gaji masih NT$ 17.000 dengan sembilan bulan potongan,” ujar Eka.

Eka baru dipindahkan ke shelter ketika ada kesempatan mengadu ke Depnaker. Saat itu rumah majikan tempat ia bekerja mendapat kunjungan dari Depnaker. Eka pun melapor kalau ia didaftarkan sebagai penjaga nenek, tetapi nenek yang dijaganya tidak ada. Dari laporan tersebut Eka dikembalikan ke agensinya.

Saat tinggal di mess agensi, Eka mengatakan bahwa dirinya tak bebas melakukan sesuatu, bahkan tidak diperbolehkan keluar untuk membeli makanan. Semuanya harus agensinya yang membelikan, padahal ia tinggal di agensi juga membayar uang sewa.

Akhirnya ia mendapat majikan baik di Taipei. Namun masih saja ada eksploitasi yang ia dapatkan dari agensi. Saat ia hendak memperbaharui paspor di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, ia harus membayar biaya tambahan NT$ 5.000, padahal ia tinggal di Taipei. Ia pun tetap bekerja di majikan dan agensi tersebut hingga selesai kontrak.

Pada tahun 2025, Eka mulai mengenal SBIPT dari media sosial. Ia pun ikut bergabung dan bertanya bagaimana menjadi perawat migran mandiri tanpa jasa agensi. Dari pendidikan yang ia dapat di SBIPT, Eka mulai memberanikan diri mendaftar ke Pusat Layanan Perekrutan Langsung (DHSC). Akhirnya ia mendapat majikan secara mandiri di Kaohsiung dengan bantuan DHSC.

Cara menjadi perawat migran paruh waktu 

Namun upaya ini tak berjalan mulus, calon majikan Eka sempat membatalkan kontraknya setelah satu bulan dengan alasan, nenek yang harus ia jaga enggan menerima perawatan. Namun ia tak patah semangat, Eka tetap mencari pekerjaan secara mandiri di DHSC, sehingga salah satu staf DHSC menawarinya untuk mendaftar sebagai perawat migran paruh waktu.

Eka pun menyetujuinya dan mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan. Ia mengikuti seleksi pada 14 Juni dan wawancara 24 Juni. Eka jadi satu dari 16 orang Indonesia yang mengikuti proses ini hingga akhirnya ada empat orang yang lolos rekrutmen.

DHSC lalu menghubungi Eka pada 6 Juli lalu dan diminta mempelajari video kelas perawatan selama 20 jam dari WDA. Setelah menyelesaikan pelatihan daringnya, Eka mendapat sertifikat dari WDA. 

Ia pun akhirnya direkrut oleh salah satu instansi kesehatan di Hualien. Kerja Eka berada di pusat layanan kesehatan untuk lansia. Secara resmi pada 6 Juli ia langsung menandatangani perjanjian Kerja (PK) tersebut. 

Saat ditanya apa yang harus dipersiapkan untuk menjadi perawat migran paruh waktu secara mandiri, Eka menyebutkan yang terutama adalah niat untuk menjadi mandiri, tanpa agensi. PMI bisa mengajukan usulan kepada agensinya bahwa ia ingin mandiri secara baik-baik, kemudian mengunjungi  DHSC dan meminta informasi pekerjaan di sana.  

“Agensi awalnya susah melepas, tetapi jika kita mendapat majikan sendiri dari DHSC, agensi tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya melepas kita,” ujar Eka.

Selain itu, Eka menuturkan kemampuan Bahasa Mandarin harus baik, minimal untuk percakapan aktif. Kemudian langsung mendaftarkan diri ke loket DHSC yang berada di Taipei, Kaohsiung, dan Changhua. 

“Kalau PMI tidak berada di tiga tempat tersebut, bisa daftar lewat online, ada di situsnya.” Ujar Eka.  

Saat ditanya apa saja pekerjaan sebagai perawat migran paruh waktu, Eka menjelaskan bahwa ia bekerja sesuai kebutuhan pasien, seperti menemani pasien istirahat, menonton TV, makan dan memberikan obat atau melakukan sedot dahak. 

“Misal kerja sehari empat jam, maka harus keluar rumah pasien tepat setelah empat jam, tidak boleh lebih dari itu, meskipun pekerjaan belum selesai. Tidak boleh mengerjakan pekerjaan lain seperti bersih-bersih atau memasak untuk pasien,” tutur Eka.

Ia juga mengatakan, gajinya per bulan sesuai UMR yakni NT$ 29.500 jika sebulan tidak sampai 180 jam. Kalau lebih dari jam tersebut, maka dihitung lembur. Eka juga mengatakan, ia hanya membayar biaya asuransi kesehatan (NHI) sebesar NT$ 458 per bulan, sisanya dibayar oleh pemberi kerja.

Perawat mandiri lebih transparan dan jelas

Menurut Eka, bekerja sebagai perawat migran mandiri lebih transparan dan jelas. “Lebih enak dan transparan kerja sebagai PMI mandiri. Kita tahu jelas isi PK, bisa negosiasi kerja, gaji, dan bisa negosiasi pekerjaan seperti apa serta libur kerja termasuk jam kerja, dan waktu istirahat,” ujarnya.

Ia menyarankan bagi rekan-rekan PMI yang ingin mengikuti jejaknya menjadi PMI mandiri, dianjurkan bergabung dengan organisasi seperti SBIPT. 

“Dengan mengikuti organisasi kita jadi tahu lebih banyak dan diarahkan oleh teman-teman yang lebih senior dan berpengalaman. Teman-teman yang mau mandiri harus berani belajar, jangan menggantungkan ke agensi. Bekali diri dengan pengetahun, dan sharing dengan orang yang berpengalaman,” pungkasnya.

Mengenal program perawat migran paruh waktu 

Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) Taiwan, pada Januari 2025 lalu mengumumkan bahwa mulai akhir Maret 2025, enam lembaga terpilih akan menjalankan program uji coba pekerja migran paruh waktu untuk perawatan lansia, yang memungkinkan masyarakat menyewa tenaga perawat secara mandiri melalui mereka.

Menurut Direktorat Jenderal Pengembangan Tenaga Kerja (WDA) Kementerian Ketenagakerjaan, fitur khas dari program ini adalah bahwa LSM, termasuk yayasan swasta dan nirlaba, akan menjadi majikan dari perawat, bukan institusi perawatan jangka panjang.

Yang membedakan program percontohan ini dari opsi perawatan lainnya adalah bahwa layanan dapat diberikan dalam jangka pendek dan disediakan dalam waktu singkat untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang mendesak, kata Spesialis Senior WDA Hu Hsin-yeh (胡欣野).

Baca berita sebelumnya di sini https://indonesia.focustaiwan.tw/society/202502070005 

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.