Taipei, 21 Juli (CNA) Taiwan secara resmi telah memasuki fase epidemi COVID-19 yang baru setelah 4.766 orang mencari pengobatan untuk penyakit tersebut selama 12-18 Juli, meningkat 66,5 persen dibandingkan pekan sebelumnya, kata Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) hari Selasa (21/7).
Selama periode yang kurang lebih sama dari 14-20 Juli, Taiwan mencatat 25 kasus domestik komplikasi COVID-19 berat, termasuk lima kematian, kata juru bicara CDC Tseng Shu-hui (曾淑慧) dalam konferensi pers rutin lembaga tersebut.
Sejak Oktober 2025, Taiwan telah mencatat total kumulatif 161 kasus berat dan 23 kematian, ujarnya.
Tseng mengatakan Taiwan memiliki persediaan obat antivirus dan vaksin yang cukup untuk merespons wabah, termasuk cukup Paxlovid oral yang didanai pemerintah untuk mengobati sekitar 113.000 pasien, 18.000 paket antivirus alternatif Xocova, dan 155.000 dosis injeksi Remdesivir.
Ia mengatakan varian NB.1.8.1 tetap menjadi strain dominan di Taiwan selama empat pekan terakhir.
Gejala yang paling umum meliputi sakit tenggorokan, batuk, hidung tersumbat atau pilek, demam, kelelahan, sakit kepala, dan nyeri otot. Hanya sejumlah kecil pasien yang melaporkan kehilangan atau gangguan sementara pada indra penciuman atau perasa.
Di tempat lain di Asia, aktivitas COVID-19 juga meningkat di Tiongkok, Hong Kong, Jepang, dan Korea Selatan, kata Tseng.
Ia menambahkan bahwa tingkat positif COVID-19 terus meningkat di seluruh wilayah Pasifik Barat, sementara tren di tempat lain di dunia cenderung stabil atau sedikit menurun.
Secara global, NB.1.8.1 tetap menjadi varian yang paling dominan, diikuti oleh XFG dan JN.1, ujarnya.
Dengan semakin banyak orang menghadiri acara besar dan bepergian selama liburan musim panas, CDC mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan, termasuk sering mencuci tangan dan menerapkan etika pernapasan yang benar.
Lembaga tersebut juga merekomendasikan penggunaan masker medis saat mengunjungi fasilitas kesehatan, memasuki ruang dalam ruangan yang ramai atau berventilasi buruk, atau berinteraksi dengan lansia dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Tseng menambahkan bahwa kelayakan untuk vaksinasi COVID-19 yang didanai pemerintah telah diperluas untuk semua orang berusia 6 bulan ke atas hingga 31 Juli.
Mengutip studi dari Amerika Serikat dan Kanada, ia mengatakan vaksinasi tetap efektif dalam mencegah infeksi COVID-19 dan memberikan perlindungan sekitar 50 persen terhadap penyakit berat.