Oleh Muhammad Irfan, reporter staf CNA
Stasiun Tainan lama mengakhiri kisahnya setelah 126 tahun berdiri sejak zaman kolonial Jepang dan digantikan stasiun baru di bawah tanah yang resmi beroperasi pada Sabtu (17/10), menyisakan memori kolektif tidak hanya bagi penduduk lokal, tetapi juga bagi pekerja migran Indonesia (PMI) yang sering menghabiskan Minggu di sekitarannya. Tidak hanya disimpan dalam ingatan, memori ini bahkan diejawantahkan dalam lagu.
Sama seperti banyak stasiun besar di Taiwan, stasiun Tainan juga adalah titik kumpul yang strategis bagi banyak PMI yang bekerja di wilayah selatan Taiwan. Direktur Program Taiwan di Walter Shorenstein Asia-Pacific Research Center, Stanford University, Pei-Chia Lan (藍佩嘉) menilai stasiun kereta telah lama menjadi tempat utama pertemuan PMI yang berfungsi sebagai simpul arus pribadi, jaringan sosial, dan rantai aktivitas.
Bagi sebagian dari mereka, pengalaman-pengalaman ini memantik ide karya. Aktivis budaya dan peneliti independen Wu Ting-kuan (吳庭寬) dalam bukunya "Nyanyian di Perantauan" menulis stasiun kereta sering dipilih sebagai tempat nongkrong karena memiliki sarana transportasi yang praktis dan hal ini juga memicu tempat tersebut berkembang menjadi lingkaran komersial pekerja migran skala besar.
Dalam arsip Wu, sejumlah lagu pertama kemudian menggambarkan pengalaman mereka di stasiun seperti lagu OM New Ramesta yang berbasis di Gangshan, Kaohsiung dengan lagu "Stasiun Gangshan".
"Judul karya ini diberikan karena ruang latihan berada di samping stasiun. Lagu ini juga menyanyikan cinta yang pergi dengan kereta api dan tidak kembali lagi," tulis Wu.
Putus cinta di Stasiun Tainan
Salah satu lagu yang menceritakan pengalaman di Stasiun Tainan adalah lagu "Stasiun Tainan Ninggal Katresnan" atau yang dalam bahasa Indonesia berarti "Meninggalkan Cinta di Stasiun Tainan".
Digubah dan dinyanyikan oleh Firman Setia Budi asal Banyuwangi yang saat itu bekerja di pabrik palet kayu di Taiwan, lagu ini bercerita tentang hubungan yang bermula dan berakhir di Stasiun Tainan.
Dalam tulisan Wu, Firman disebut sering bermain gitar di asramanya setelah lepas kerja lembur pada malam hari. Banyak dari lagu gubahannya digarap dengan irama yang sering dijumpai di kampung halamannya dan merekam kisah-kisah asmara PMI yang ada di Taiwan.
Selain "Stasiun Tainan Ninggal Katresnan", lagu garapan Firman yang juga direkam di antaranya adalah "Taiwan Dalan Uripku" (Taiwan Dalam Hidupku) dan "Selawase Siji" (Selamanya Satu).
Firman juga kerap memproduksi musik video dari lagu buatannya dan beberapa di antaranya mengambil latar di Tainan, sedangkan staf dan aktor semua merupakan teman dekatnya, tulis Wu.
Salah satu lagu yang diangkat menjadi musik video ini adalah lagu "Stasiun Tainan Ninggal Katresnan" tadi.
Dibuka dengan seorang laki-laki Indonesia yang berpegangan tangan dengan seorang perempuan Taiwan, pasangan ini seolah mengucap janji di depan Stasiun Tainan. Lalu, ditutup dengan si perempuan melambaikan tangan tanda perpisahan.
Dirilis empat tahun lalu, hingga hari ini, video musik yang diunggah di laman YouTube pemengaruh Indonesia yang tinggal di Taiwan, Can Kevin ini sudah ditonton sebanyak 143 ribu kali dengan lebih dari 3 ribu jempol. Bahkan, lagu ini juga dibawakan ulang oleh penyanyi PMI lain, Oktavia AR, menjadi salah satu memori stasiun Taiwan lama yang direkam PMI.
Patah hati dari Gangshan hingga Tainan
Stasiun Tainan juga direkam dalam lagu bertajuk "Stasiun Gangshan" yang digubah dan direkam oleh Orkes Melayu (OM) New Ramesta.
Dalam catatan Wu, New Ramesta adalah sebuah OM yang dibentukan di daerah Gangshan, Kaohsiung, Taiwan pada 17 Agustus tahun 2015 bertepatan dengan Hari Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia.
Para personil New Ramesta adalah pekerja pabrik dari berbagai daerah seperti Kaohsiung, Tainan, dan Changhua. New Ramesta aktif di dunia panggung dan cukup punya nama di antara komunitas PMI di Taiwan, tulis Wu.
Pada lagu "Stasiun Gangshan", Stasiun Tainan digambarkan sebagai sebuah perlintasan yang mengingatkan si penggubah tentang hubungan yang gagal. Meski tidak sampai dibuat musik videonya, lagu yang memuat lirik: "Stasiun Gangshan sudah sampai Tainan. Engkau melupakan" ini cukup sering dibawakan oleh OM New Ramesta saat tampil di beberapa acara PMI.
Stasiun dan perpisahan
Penutupan Stasiun Tainan lama menandai berakhirnya satu babak sejarah transportasi kota itu. Namun, bagi para PMI, stasiun ini juga menyimpan kisah yang lebih personal: pertemuan, percintaan, dan perpisahan yang mewarnai kehidupan mereka jauh dari kampung halaman.
Melalui lagu-lagu seperti "Stasiun Tainan Ninggal Katresnan" dan "Stasiun Gangshan", pengalaman tersebut melampaui ingatan individual dan menjadi bagian dari arsip budaya pekerja migran di Taiwan. Stasiun yang bagi sebagian orang hanyalah tempat naik dan turun kereta, bagi mereka juga menjadi ruang sosial tempat persahabatan terjalin, hubungan tumbuh, dan kenangan tercipta.
Kini, ketika aktivitas kereta beralih ke stasiun bawah tanah, bangunan lama itu mungkin tak lagi menjadi tempat yang sama bagi orang-orang yang pernah menghabiskan Minggu di sekitarannya.
Namun, kisah-kisah yang direkam dalam lagu akan terus menghidupkan kembali stasiun tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam bangunan dan arsip resmi, tetapi juga dalam pengalaman orang-orang yang pernah menjadikannya bagian dari kehidupan mereka.
Selesai/JC