Tainan, 18 Okt. (CNA) Stasiun Kereta Tainan di bawah tanah mulai beroperasi hari Sabtu (17/10) setelah konstruksi yang memakan waktu hampir 16 tahun, mengakhiri 126 tahun pelayanan stasiun lama sejak era penjajahan Jepang yang menjadi memori kolektif masyarakat di Taiwan selatan.
Baca juga: Kereta bawah tanah siap jadi wajah baru Tainan, hidupkan kembali stasiun bersejarah
Setelah pengalihan jalur serta pengujian sepanjang malam, kereta Tze-Chiang nomor 301 berangkat perdana dari Stasiun Tainan yang baru pada pukul 06.30. Saat cahaya fajar mulai menyingsing, banyak orang sudah menunggu di luar stasiun untuk mengabadikan momen bersejarah ini.
Dalam wawancara media, Menteri Transportasi Chen Shih-kai (陳世凱) mengatakan lebih dari 500 personel Biro Perkeretaapian dan Taiwan Railway Corp. (TRC) bekerja sepanjang malam untuk mengalihkan jalur.
Proses tersebut sangat melelahkan, di mana mereka juga harus mengintegrasikan sistem tiket, sehingga nyaris tidak tidur sepanjang malam, kata Chen. Berbagai kendala pun diatasi satu per satu agar Tze-Chiang dapat berangkat tepat waktu.
Jalur kereta bawah tanah Tainan memiliki panjang total 8,23 kilometer dan melintasi distrik Utara, Timur, serta Rende. Pembangunannya memakan waktu hampir 16 tahun. Jalur ini direncanakan akan diperluas ke distrik Yongkang dan Xinshi.
Pada Jumat malam, lautan manusia mengerumuni Stasiun Tainan yang lama, melepas kepergian Tze-Chiang nomor 145, kereta terakhir yang menuju ke selatan.
Setelah Presiden Lai Ching-te (賴清德) menghadiri upacara peresmian jalur kereta api bawah tanah, jembatan penyeberangan antara stasiun baru dan lama serta dua peron di stasiun lama sudah dipadati orang.
Hampir setiap orang memegang ponsel untuk mengabadikan momen-momen terakhir jalur kereta api Tainan di permukaan tanah. Berbagai pertunjukan di peron 1 juga turut memeriahkan suasana.
Akibat insiden seseorang menerobos masuk ke perlintasan sebidang di Yunlin, Tze-Chiang yang menjadi kereta terakhir dari Stasiun Tainan, yang semula dijadwalkan berangkat pukul 22.29, terlambat sekitar sepuluh menit.
Namun, antusiasme orang-orang yang memadati stasiun tidak surut. Ketika kereta itu tiba di Stasiun Tainan, orang-orang di peron 1 dan 2 mengabadikan momen ini dengan kamera.
Momen perpisahan pun tiba beberapa menit kemudian. Sebelum kereta terakhir itu bergerak, klakson dibunyikan tiga kali. Diiringi sorak-sorai dan lambaian tangan orang-orang di peron, Tze-Chiang beranjak ke arah selatan dan menghilang di kejauhan sepanjang rel.
Seperti stasiun-stasiun di kota besar di seluruh dunia, Stasiun Tainan, yang pertama kali dibuka pada 1900 di bawah masa penjajahan Jepang (1895-1945) dan dibangun kembali pada 1936, terletak di kawasan inti Tainan.
Taman Tainan, yang memiliki hamparan ruang terbuka hijau yang luas dan kerap menjadi tempat pertemuan imigran, juga berdekatan dengan kawasan stasiun.
Sejak era kolonial hingga masa kini, ketika pekerja migran dan imigran baru turut mewarnai kehidupan kota, arus orang yang keluar-masuk kawasan tersebut terus mengalir tanpa henti, bagaikan gelombang pasang.
Oleh karena itu, ketika proyek pembangunan jalur kereta api bawah tanah Tainan mulai mengubah keadaan yang sudah ada, gelombang protes pun segera meletus dan berlangsung selama hampir sepuluh tahun. Setelah mereda dan persoalan mencapai penyelesaian, proyek memasuki tahap konstruksi.
Hampir semua orang menerima kenyataan dan mulai menantikan wajah baru simpul transportasi kota kuno ini. Bagi kebanyakan orang, pemandangan setelah perancah dan pagar pembatas dibongkar mungkin terasa seperti membuka kotak misteri.
Bangunan stasiun lama direncanakan akan tetap dipertahankan, dan dapat mengambil peran budaya dan komersial yang lebih menonjol, kata TRC, seraya menambahkan bahwa rencana yang sedang dibahas termasuk kafe, pilihan makanan ringan, suvenir lokal, ruang baca, dan pameran.
Setelah rel di atas tanah dicabut, ada rencana untuk mengubah koridor bekas rel menjadi jalur hijau selebar sekitar 30 meter, dengan jalur pejalan kaki dan pesepeda serta area lanskap yang menghubungkan stasiun baru, lingkungan, sekolah, dan fasilitas umum, menurut Kementerian Transportasi dan Komunikasi.
Selama ini, jalur kereta api membelah Tainan menjadi dua kawasan. Menyeberanginya dengan berjalan kaki benar-benar tidak mudah, yakni harus melewati perlintasan sebidang atau menggunakan terowongan bawah tanah yang juga dilalui kendaraan bermotor.
Oleh karena itu, pembangunan ini diharapkan dapat secara efektif menyatukan kembali kawasan perkotaan Tainan, menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi transportasi dan pejalan kaki, memperluas ruang terbuka hijau, serta membawa harapan baru bagi toko-toko di sekitarnya.
Tentu, wajah kota yang sepenuhnya baru juga akan menjadi langkah besar bagi kota kuno berusia 400 tahun ini untuk bergerak menuju modernisasi.
Namun, pemandangan di sepanjang jalur kereta api hanya akan tersimpan jauh di dalam ingatan. Kelak, kenangan tentang masa yang telah berlalu itu hanya dapat dihidupkan kembali melalui foto dan rekaman.
(Oleh Chang Jung-hsiang, Huang Chiao-wen, dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF