Taipei, 6 Agustus (CNA) Indeks harga konsumen (CPI) Taiwan naik 2,52 persen dari tahun sebelumnya setelah taifun gaemi mendorong kenaikan harga buah dan sayuran, kata Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi dan Statistik (DGBAS) pada hari Selasa (6/8).
Data DGBAS menunjukkan pertumbuhan CPI pada bulan Juli terus melampaui peringatan 2 persen yang ditetapkan oleh bank sentral setempat. Angka di bulan Juli juga merupakan yang tertinggi sejak Februari, ketika pertumbuhan CPI mencapai 3,08 persen.
Dalam basis bulan-ke-bulan, CPI lokal naik 0,19 persen, dan setelah penyesuaian musiman, indeks juga naik 0,09 persen, menurut data DGBAS.
CPI inti, yang tidak termasuk buah, sayuran dan energi, naik sebesar 1,84 persen dari tahun sebelumnya pada bulan Juli, di bawah peringatan 2 persen, menurut DGBAS.
Dalam tujuh bulan pertama tahun ini, CPI naik sebesar 2,30 persen dari tahun sebelumnya, dengan CPI inti naik 1,99 persen tahun-ke-tahun, kata DGBAS.
Pada bulan Juli, harga makanan naik sebesar 4,57 persen dari tahun sebelumnya setelah cuaca buruk mengurangi pasokan sayuran dan mendorong harga naik 8,58 persen dari tahun sebelumnya.
Selain itu, harga buah melonjak 27,23 persen, tertinggi dalam dua tahun, karena dampak badai dan juga karena basis perbandingan yang relatif rendah pada periode yang sama tahun lalu, kata DGBAS.
Harga minyak goreng juga terpantau naik 4,99 persen dan biaya makan di luar naik sebesar 2,77 persen, tetapi harga telur turun 16,27 persen, membatasi kenaikan keseluruhan harga makanan, tambah DGBAS.
Berbicara dengan wartawan, spesialis DGBAS Tsao Chih-hung (曹志弘) mengatakan Gaemi, yang menghantam Taiwan pada akhir Juli, mengakibatkan kerugian pertanian sekitar NT$2,25 miliar (Rp1,1 triliun). Dampaknya terhadap harga diperkirakan berlanjut hingga Agustus, dengan harga sayuran dan buah kemungkinan akan terus naik.
Pada bulan Juli, biaya hidup naik 2,31 persen dari tahun sebelumnya setelah tarif listrik, biaya pemeliharaan rumah, dan sewa naik masing-masing sebesar 5,21 persen, 2,89 persen, dan 2,51 persen, menurut DGBAS.
Tsao mengatakan meskipun pertumbuhan sewa pada bulan Juli melambat dari peningkatan 2,59 persen pada bulan Juni, tetapi tidak ada tanda langsung bahwa harga sewa akan menurun.
Biaya sepaket sembako 17 kebutuhan rumah tangga yang dipantau pemerintah, termasuk beras, daging babi, roti, telur, gula, minyak goreng, mie instan, sampo dan tisu toilet, naik 0,06 persen dari tahun sebelumnya pada bulan Juli setelah penurunan 0,14 persen pada Juni, kata DGBAS.
Biaya 17 bahan rumah tangga sebagian besar termasuk harga tepung, telur, minyak salad, susu segar, dan tisu toilet yang lebih murah, ujar DGBAS menambahkan.
Pada bulan Juli, indeks harga produsen (PPI) naik 3,74 persen dari tahun sebelumnya terutama karena peningkatan harga produk pertanian setelah taifunn melanda, serta bahan kimia, obat-obatan, komputer, perangkat elektronik/optoelektronik dan komponen elektronik, kata DGBAS.
Indeks harga impor naik sebesar 4,27 persen dari tahun sebelumnya pada bulan Juli dalam perspektif NT$ tetapi turun 0,40 persen dalam perspektif US$, sementara indeks harga ekspor naik 4,89 persen dalam perspektif NT$ dan juga naik 0,21 persen dalam perspektif US$, menurut data tersebut.
Dalam tujuh bulan pertama tahun ini, PPI naik sebesar 1,72 persen dari tahun sebelumnya, menurut DGBAS.
Selesai/IF