Sejumlah kelompok buruh pada 15 Oktober mendesak Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan untuk segera menindak dugaan eksploitasi pekerja teknis asal Indonesia di produsen peralatan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai.
Sekitar 20 orang berunjuk rasa di depan Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan pada 15 Oktober.
Menurut peserta aksi, beberapa pekerja teknis asal Indonesia dalam proyek PLTA lepas pantai Taiwan, yang didatangkan perusahaan Singapura dan Indonesia melalui sistem skema personel pelaksana kontrak, kontraknya diubah hingga dibayar di bawah upah minimum, meski terus lembur dan minim hari libur, sementara juga tidak dilindungi asuransi terkait tenaga kerja.
Mereka mendesak penyelidikan, peninjauan kontrak, pemberian kompensasi, pemekerjaan kembali sesuai ketentuan, serta pembentukan mekanisme bantuan dan tempat penampungan.
Menanggapi, perusahaan di Taiwan, Century Energy Co. mengatakan para pekerja didatangkan melalui mekanisme yang disetujui otoritas Taiwan. Pihaknya membantah tuduhan, tetapi berjanji akan terus memantau kesejahteraan pekerja dan bekerja sama dalam pemeriksaan pemerintah.
Kementerian Ketenagakerjaan menegaskan pekerja asing yang dikirim ke Taiwan berdasarkan kontrak komersial harus dilindungi sesuai hukum Taiwan. Pihaknya berjanji akan meningkatkan pemeriksaan dan menindak tegas pelanggaran sesuai hukum.
Stasiun Kereta Tainan di bawah tanah mulai beroperasi pada 17 Oktober setelah konstruksi selama hampir 16 tahun, mengakhiri 126 tahun pelayanan stasiun lama yang berdiri sejak era penjajahan Jepang.
Masyarakat berkumpul di peron, menyambut keberangkatan perdana dari Stasiun Kereta Tainan baru pada 17 Oktober pagi.
Stasiun ini dibuka seiring dengan mulai beroperasinya rel bawah tanah sepanjang 8,23 kilometer, yang diperkirakan akan meningkatkan akses dan mengurangi kemacetan di atas tanah.
Pada malam sebelumnya, lautan manusia berpamitan dengan kereta terakhir di Stasiun Tainan lama, yang telah berdiri sejak tahun 1900.
Stasiun lama menyisakan memori kolektif tidak hanya bagi penduduk lokal, tetapi juga pekerja migran Indonesia yang sering menghabiskan Minggu di sekitarannya, bahkan terwujud dalam lagu-lagu seperti "Stasiun Tainan Ninggal Katresnan” oleh Firman Setia Budi dan "Stasiun Gangshan” oleh Orkes Melayu New Ramesta.
Menurut Taiwan Railway Corp., sedang dibahas rencana untuk transformasi stasiun lama, termasuk menjadi kafe, pilihan makanan ringan, suvenir lokal, ruang baca, dan pameran.
Kabinet Taiwan pada 15 Oktober menyetujui rencana nasional pencegahan dan perawatan demensia yang ditingkatkan dengan tujuan mencapai target "Taiwan Ramah Demensia 888" pada 2035, memperluas dukungan bagi pasien yang lebih muda sekaligus memperkuat diagnosis dini, perawatan jangka panjang, dan kesadaran publik.
Di Taiwan, terdapat sekitar 10.000 orang dengan demensia dini dan sekitar 400.000 lansia dengan demensia.
Kabinet pada 15 Oktober menyetujui penguatan rencana nasional pencegahan dan perawatan demensia, dengan target pada 2035 untuk mencapai tingkat diagnosis akurat sebesar 80 persen, cakupan layanan sebesar 80 persen bagi penderita, dan literasi sebesar 80 persen di antara personel terkait.
Kebijakan dan Rencana Aksi Pencegahan dan Perawatan Demensia 3.0 diintegrasikan ke Rencana Perawatan Jangka Panjang 3.0 pemerintah, dan berfokus pada "semua usia, semua tahap penyakit, dan dukungan komprehensif."
Perdana Menteri Cho Jung-tai telah menginstruksikan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan untuk memberikan penekanan lebih besar pada promosi kesehatan, pencegahan risiko, dan skrining dini, sekaligus memastikan layanan konseling psikologis dan diagnosis.
Sejumlah organisasi mahasiswa pada 14 Oktober memprotes Shih Hsin University, menuntut transparansi alokasi sumber daya kampus dan kebebasan berpendapat dengan mendatangi malam perayaan hari jadi universitas.
Sejumlah mahasiswa pada 14 Oktober berkumpul di luar Taipei Arena, lokasi perayaan 70 tahun berdirinya Shih Hsin University.
Mereka menuntut pihak kampus untuk mengembalikan kantor administrasi dan sekretaris jurusan, yang disatukan ke kantor tingkat fakultas; transparan dalam alokasi sumber daya, menyusul dugaan kurang memadainya fasilitas belajar sementara kampus membuka tempat hiburan di perpustakaan; mengembalikan hak memperoleh pendidikan; dan mengembalikan kebebasan berpendapat.
Peserta aksi sempat berusaha memasuki arena, yang kemudian memicu keributan.
Menanggapi, Shih Hsin mengatakan pihaknya menghormati hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat, serta memperhatikan kepedulian dan tuntutan mereka. Namun, mereka seharusnya tidak menerobos atau mengganggu ketertiban acara. Pihak kampus akan mengklarifikasi kronologi dan mengambil langkah penanganan yang sesuai.
(Oleh Jason Cahyadi dan Jennifer Aurelia)