Taipei, 19 Okt. (CNA) Wakil Menteri Dewan Urusan Komunitas Luar Negeri (OCAC) Lai Li-ying (賴麗瑩) hari Sabtu (17/10) menyerukan masyarakat Tionghoa dan pelajar keturunan Tionghoa di berbagai negara untuk bersatu, mempererat solidaritas komunitas, serta bersama-sama berjuang demi Republik Tiongkok (ROC) dan Taiwan.
Lai berharap semua pihak terus bergandengan tangan untuk melindungi Taiwan, agar kemakmuran, kejayaan, dan kedamaiannya dapat terus terjaga, demikian diucapkannya dalam peringatan Hari Tionghoa Perantauan ke-74 yang digelar Overseas Chinese Association HQ (OCAH), menurut rilis pers OCAC.
Ia memberikan apresiasi pada OCAH yang disebutnya selama bertahun-tahun bekerja tanpa banyak sorotan untuk memajukan urusan masyarakat Tionghoa perantauan di seluruh dunia.
Lai juga mencatat bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan dengan konsentrasi masyarakat Tionghoa perantauan terbesar di dunia, terutama di Tailan, Malaysia, dan Indonesia.
Ketua OCAH Lin Chi-kuo (林齊國) menyampaikan bahwa masyarakat Tionghoa perantauan pernah secara aktif membantu pemerintah mendirikan bank bagi komunitas tersebut dengan mengerahkan sumber daya keuangan dalam jumlah besar.
Selama lebih dari 70 tahun pemerintah menjalankan kebijakan pendidikan bagi mahasiswa keturunan Tionghoa di luar negeri, kata Lin, Taiwan telah berhasil mendidik lebih dari 1.000 dokter dari kalangan tersebut, yang disebutnya menunjukkan prestasi luar biasa mereka di bidang profesional.
Pemerintah Taiwan mulai secara sistematis mengundang dan menerima pemuda Tionghoa dari luar negeri untuk melanjutkan pendidikan di pulau tersebut sejak 1951, setelah Kementerian Pendidikan mengumumkan peraturannya pada 1950.
Lin menegaskan bahwa OCAH akan terus mengerahkan segala upaya untuk melayani mahasiswa keturunan Tionghoa di luar negeri dan membimbing generasi muda agar semangat masyarakat Tionghoa perantauan diwariskan dari generasi ke generasi serta terus dikembangkan.
Setelah acara peringatan resmi dimulai, Lin memimpin sekitar 250 hadirin untuk berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan ROC bersama-sama, kemudian memberikan penghormatan dengan membungkuk tiga kali di hadapan bendera negara dan potret Bapak Bangsa, Sun Yat-sen (孫中山).
Chen Yongxuan mengatakan bahwa tanpa fondasi kokoh yang telah dibangun oleh generasi terdahulu selama bertahun-tahun, mahasiswa keturunan Tionghoa dari generasi muda tidak akan memiliki panggung untuk menunjukkan kemampuan mereka seperti sekarang, apalagi berkumpul di tempat ini.
OCAH didirikan pada 1942 dengan tujuan menyatukan komunitas Tionghoa perantauan, melayani masyarakatnya, dan mengembangkan organisasinya.
Asosiasi ini memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Tionghoa di luar negeri, serta secara aktif mendorong persatuan dan hubungan antarkomunitas Tionghoa di berbagai belahan dunia, menurut OCAC.
Asosiasi tersebut juga terus memberikan beasiswa kepada mahasiswa keturunan Tionghoa di luar negeri hingga secara berkala menyelenggarakan lomba penulisan, lokakarya musim panas bagi pengurus organisasi mahasiswa, serta berbagai kegiatan untuk memperingati hari raya, kata OCAC.
Hari Tionghoa Perantauan ditetapkan jatuh pada tanggal 21 Oktober berdasarkan perintah mendiang Presiden Chiang Kai-shek (蔣中正), bertepatan dengan berdirinya Federation Of Overseas Chinese Associations dan dimulainya Konferensi Urusan Tionghoa Perantauan Sedunia di Taipei pada 1952.
Komunitas Tionghoa di luar negeri tercatat memegang peran penting dalam revolusi yang menggulingkan Dinasti Qing dan mendirikan ROC pada 1912, termasuk menyumbangkan dana, membangun organisasi, menyebarkan gagasan, hingga membantu pemberontakan.
Sun, yang dikenal luas sebagai pendiri ROC dan presiden sementara pertamanya, besar di Hawaii dan berulang kali melakukan perjalanan ke Asia, Amerika, dan Eropa untuk menggalang dana serta dukungan politik dari Tionghoa perantauan semasa revolusi.
Selesai/ja