Taipei, 18 Agu. (CNA) Seorang ibu hamil berusia 39 tahun di Nusa Tenggara Timur, Indonesia, berhasil melahirkan bayi perempuan prematur melalui operasi darurat dengan penerangan senter saat rumah sakit diguncang gempa bumi bermagnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8), mengutip Reuters.
Reuters melaporkan bahwa Maria Florida Nogo Kelen, yang tinggal di Kabupaten Nagekeo dekat pusat gempa, menjalani operasi untuk melahirkan anak keempatnya ketika gempa dan serangkaian gempa susulan melanda wilayah tersebut.
Maria harus melahirkan sekitar dua bulan lebih awal akibat komplikasi kehamilan yang dapat membahayakan dirinya dan janin. Saat operasi berlangsung, bangunan rumah sakit berguncang hebat dan listrik beberapa kali padam sehingga dokter terpaksa menggunakan senter sebagai penerangan. Dokter mengatakan penundaan persalinan dapat menyebabkan Maria mengalami kejang yang berpotensi fatal.
“Selama operasi, saya tidak takut. Demi anak-anak saya, saya harus tetap sehat,” kata Maria.
Dokter kandungannya, Yona Sara Pardede, mengatakan tim medis tidak memiliki pilihan selain melanjutkan operasi meski kondisi sangat berbahaya.
“Kami juga manusia, kami merasa takut. Operasinya sangat sulit karena bayinya masih sangat kecil. Saya berdoa kepada Tuhan agar membantu kami. Kami bahkan tidak memiliki ventilator,” kata Yona.
Maria akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Gempita, yang diambil dari kata bahasa Indonesia “gempa”. Bayi tersebut lahir dengan berat hanya 1,3 kilogram dan dalam kondisi prematur.
Gempita tetap dalam kondisi stabil dan dirawat di dalam inkubator yang ditempatkan di sebuah tenda darurat di luar ruangan selama gempa susulan masih terjadi.
Sementara itu, Maria mengalami perdarahan setelah melahirkan, tetapi mengatakan dirinya bersyukur masih selamat.
“Saya sangat berterima kasih kepada para dokter. Bahkan ketika ruangan itu runtuh, mereka tidak meninggalkan kami,” kata Maria kepada Reuters.
Gempa bumi bermagnitudo 7,7 tersebut telah menewaskan sedikitnya 54 orang di Nusa Tenggara Timur dan menyebabkan lebih dari 130 orang terluka, sementara ribuan warga terpaksa mengungsi karena kerusakan bangunan dan kekhawatiran terhadap gempa susulan.
Tim penyelamat masih melakukan pencarian korban di sejumlah wilayah yang terdampak, sementara longsor dan kerusakan jalan menghambat akses menuju beberapa daerah. Pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur juga telah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat pengerahan bantuan dan sumber daya.
Baca juga: Taiwan siap bantu pemulihan pasca gempa maut NTT
(Oleh Chen Cheng-chien dan Agoeng Sunarto)