Taiwan siap bantu pemulihan pasca gempa maut NTT

16/08/2026 14:10(Diperbaharui 16/08/2026 15:15)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Kerusakan bangunan yang terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. (Sumber Foto : BPBD Kabupaten Manggarai Timur)
Kerusakan bangunan yang terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. (Sumber Foto : BPBD Kabupaten Manggarai Timur)

Taipei, 16 Agu. (CNA) Pemerintah Taiwan bersedia membantu pemulihan pasca gempa bumi bermagnitudo 7,7 di perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8), jika pemerintah Indonesia membutuhkan, kata Lin Hung-hsun (林宏勳), wakil kepala Departemen Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri (MOFA) pada hari yang sama.

MOFA juga menyampaikan dukacita atas bencana tersebut, kata Lin, dalam sambutannya di acara Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di sebuah gereja di Taipei pada Sabtu, yang juga dihadiri Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Arif Sulistiyo beserta jajarannya.

Secara terpisah, MOFA pada Minggu siang mengatakan kepada CNA bahwa Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍) telah segera menginstruksikan Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO) di Jakarta dan Surabaya untuk memantau informasi mengenai situasi bencana.

Ia juga meminta kedua kantor perwakilan tersebut untuk berkoordinasi dengan kepolisian, petugas pemadam kebakaran dan penyelamat setempat, serta lembaga masyarakat Taiwan di Indonesia untuk memastikan apakah terdapat warga Taiwan yang menjadi korban jiwa, terluka, atau terjebak, kata MOFA.

TETO belum menerima laporan mengenai warga Taiwan yang terjebak atau menjadi korban, dan belum mendapati permintaan bantuan dari warga Taiwan, menurut kementerian.

MOFA telah menginstruksikan TETO untuk terus memantau secara ketat situasi gempa, perkembangan selanjutnya, serta kemungkinan adanya warga Taiwan yang terdampak bencana, dan memberikan bantuan yang diperlukan secara tepat waktu.

MOFA mengimbau warga Taiwan yang menghadapi keadaan darurat di luar negeri untuk segera menghubungi nomor telepon darurat kantor perwakilan di wilayah setempat. Di Indonesia, nomor yang dapat dihubungi adalah 0822-5766-9680, kata kementerian.

Dewan Urusan Komunitas Luar Negeri (OCAC) dalam unggahan di media sosialnya hari Sabtu juga mengimbau seluruh warga negara Taiwan, ekspatriat, dan pelajar di Indonesia untuk mengutamakan keselamatan pribadi menyusul gempa ini.

"Harap tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dalam beberapa hari ke depan dan ikuti informasi resmi dari pemerintah," tulis dewan tersebut.

Taiwan sendiri memiliki sejarah panjang dalam mengirimkan bantuan pascabencana ke berbagai negara, baik dengan donasi, logistik, maupun personel penyelamat dan medis.

Untuk Indonesia, di antaranya, pemerintah maupun lembaga masyarakat Taiwan membantu pemulihan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, gempa Yogyakarta 27 Mei 2006, gempa Sumatra Barat 6 Maret 2007, gempa Lombok 29 Juli dan 5 Agustus 2018, gempa dan tsunami Sulawesi Tengah 28 September 2018, hingga tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018.

Yang terbaru, Pemerintah Taiwan memberikan donasi sebesar US$100.000 (Rp1,689 miliar) kepada Palang Merah Indonesia untuk membantu upaya penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025.

Gempa Sabtu yang bermagnitudo 7,7 mengguncang perairan di sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT pada pukul 04.58 WIB, dengan kedalaman 15 kilometer, memicu peringatan tsunami di berbagai wilayah Nusa Tenggara hingga Sulawesi Selatan, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia.

Bencana ini telah merenggut nyawa 47 orang dan setidaknya 101 warga dilaporkan terluka, menurut rilis pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia yang dirilis Minggu pagi.

Gempa juga "memicu kerusakan bangunan yang sangat masif," kata BNPB. Wilayah NTT telah mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan parah juga menimpa puluhan fasilitas publik, termasuk 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah.

Di sisi lain, lebih dari 5.000 jiwa di berbagai wilayah mengungsi, dengan pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian menjadi salah satu prioritas penanganan darurat, menurut BNPB.

"Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai, sangat membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih (tandon), hingga genset," kata BNPB.

Kepala BNPB Suharyanto dalam rapat koordinasi bersama jajaran kementerian atau lembaga dan pemerintah daerah di Kantor Bupati Manggarai Barat hari Minggu menetapkan fokus-fokus langkah strategis yang wajib segera dieksekusi demi mempercepat evakuasi, pemenuhan logistik, hingga pemulihan awal wilayah terdampak.

(Oleh Jason Cahyadi)

Selesai/ML

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.