Taipei, 18 Agu. (CNA) Biro Investigasi Taiwan mengonfirmasi bahwa akademisi asal Jerman, Jürgen Kremb, diikuti oleh seorang perempuan asal Tiongkok pada Mei 2025 ketika sedang berlibur di Alishan, dan bahwa ia melaporkan kejadian tersebut tak lama setelahnya. Namun, biro tersebut tidak mengungkapkan hasil penyelidikan lanjutan atas kasus tersebut.
Kremb, yang kini menjadi peneliti tamu di Soochow University dan meneliti badan-badan intelijen Tiongkok, pernah menjadi koresponden Spiegel di Beijing pada 1990-an. Ia menceritakan kejadian tersebut dalam wawancara dengan Taiwan Plus pada akhir Juni.
Kepada Taiwan Plus, Kremb mengatakan bahwa ia melaporkan dirinya telah diikuti oleh perempuan tersebut kepada Biro Investigasi setelah kembali ke Taipei dari Alishan.
Biro Investigasi mengonfirmasi keterangan Kremb pada Senin, dengan mengatakan bahwa mereka meluncurkan penyelidikan setelah menerima laporan tersebut. Namun, biro tidak akan mengungkapkan detail terkait kasus itu karena prinsip kerahasiaan dalam penyelidikan yang masih berlangsung.
Meski demikian, biro tersebut mengatakan bahwa kasus ini menunjukkan bahwa Tiongkok mulai melakukan represi transnasional, dengan menargetkan bukan hanya warga Tiongkok dan Taiwan, tetapi juga individu yang menentang totalitarianisme serta memperjuangkan demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia.
Dalam wawancaranya dengan Taiwan Plus pada 23 Juni, Kremb mengatakan bahwa ia mengunjungi Alishan bersama sejumlah teman ketika sedang mengerjakan laporan mengenai aktivitas spionase Tiongkok di Taiwan.
Kremb mengatakan seorang perempuan muda Asia mendekati mereka dan berbicara dengan aksen yang ia kenali bukan sebagai aksen Taiwan, melainkan apa yang ia gambarkan sebagai “aksen Tiongkok utara.”
Setelah Kremb dan teman-temannya kembali ke hotel, ia mengaku terkejut melihat perempuan tersebut duduk di lobi, sangat dekat dengan koleganya yang ikut dalam perjalanan tersebut.
Kremb mengingat dirinya mengatakan kepada temannya, “berhenti menelepon. Dia agen dari Tiongkok daratan,” seraya mengatakan bahwa pengalamannya tinggal di Tiongkok membuatnya mampu mengenali aksen dan perilaku perempuan tersebut.
Ia mengatakan telah melaporkan kejadian itu kepada Biro Investigasi setelah kembali ke Taipei. Setelah itu, badan tersebut memperlihatkan rekaman kamera pengawas kepadanya yang, menurut Kremb, menunjukkan bahwa perempuan tersebut telah mengikuti mereka dengan cara yang terampil.
Kremb mengatakan bahwa setelah biro memulai penyelidikan, perempuan tersebut meninggalkan Taiwan dua hari kemudian.
Pada Senin, Biro Investigasi berjanji akan memperkuat kerja sama dengan negara-negara demokratis sekutu untuk menghadapi praktik represi transnasional Tiongkok.
(Oleh Lin Chang-shun, Wu Kuan-hsien, dan Muhammad Irfan)
Selesai/