Taipei, 27 Juli (CNA) Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan Taiwan (TFDA) pada hari Senin (27/7) merilis temuan dari penyelidikan independen mengenai penyebab kontaminasi karsinogen benzo[a]pyrene (BaP) pada tujuh batch minyak goreng yang diproduksi oleh Central Union Oil Corp.
Kontaminasi ini terungkap pada akhir Juni setelah minyak goreng berbahan dasar kedelai yang diproduksi perusahaan tersebut ditemukan mengandung kadar BaP yang berlebihan, sebuah karsinogen Kategori 1, yaitu klasifikasi untuk zat yang memiliki bukti cukup menyebabkan kanker pada manusia. Lebih dari 13.000 bisnis terdampak.
Menyampaikan hasil investigasi pada konferensi pers TFDA, Menteri Tanpa Portofolio Chen Shih-chung (陳時中) mengatakan bahwa kontaminasi tersebut diakibatkan oleh kombinasi kegagalan manajemen, termasuk pengendalian bahan baku berisiko tinggi yang tidak memadai, kelemahan dalam manajemen proses produksi, serta inspeksi dan pengujian yang kurang memadai.
Investigasi yang dilakukan oleh panel ahli yang dibentuk oleh Food Industry Research and Development Institute mengidentifikasi tiga masalah utama.
Pertama, bahan baku berisiko tinggi tidak dikelola dengan baik, kata TFDA.
Bahan dengan risiko kontaminasi lebih tinggi seharusnya dikenakan pengendalian yang lebih ketat di setiap tahap produksi, inspeksi, dan pengujian, lanjutnya.
Wei Jen-ting (魏任廷), kepala Pusat Selatan TFDA, mengatakan bahwa hasil pengujian menunjukkan minyak yang diproduksi dari kedelai impor Brasil lebih mungkin mengandung BaP dibandingkan minyak dari kedelai impor AS. Tingkat kontaminasi juga bervariasi antar pengiriman.
Meskipun risikonya lebih tinggi, Central Union tidak memperkuat pengawasan terhadap bahan baku tersebut, tidak meningkatkan frekuensi pengujian, atau menerapkan pengendalian produksi yang sesuai, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya kontaminasi BaP yang berlebihan, ujar Wei.
Kedua, ketidakteraturan dalam produksi tidak ditangani dengan memadai.
Wei mengatakan investigasi tidak menemukan bukti langsung bahwa proses produksi atau peralatan menghasilkan BaP.
Namun, perusahaan gagal mengambil tindakan korektif secara tepat waktu setelah beberapa parameter produksi melebihi batas pengendalian mutu. Perusahaan juga tidak menetapkan prosedur untuk menyesuaikan produksi sebagai respons terhadap peningkatan risiko, tambahnya.
Ketiga, manajemen risiko keamanan pangan perusahaan dinilai tidak memadai.
Wei mengatakan perusahaan gagal memasukkan BaP dalam sistem manajemen keamanan pangannya untuk identifikasi, penilaian, dan pengendalian risiko secara menyeluruh.
Meskipun melonggarkan standar pengendalian mutu untuk bahan baku berisiko tinggi, perusahaan tidak meningkatkan pengujian baik pada bahan maupun produk jadi, katanya.
Panel ahli merekomendasikan agar produsen makanan memperkuat manajemen risiko untuk bahan baku, meningkatkan pemantauan proses produksi, dan memperluas pengujian guna meningkatkan keamanan pangan dan pengendalian risiko, tambah Wei.
Setelah kontaminasi ditemukan, otoritas pada 9 Juli memerintahkan semua produk yang terkait dengan minyak kedelai produksi Central Union antara April dan Juni untuk ditarik dari rak sebagai tindakan pencegahan sambil dilakukan pengujian menyeluruh.
Dari 30 kelompok produksi yang tercakup dalam penarikan tersebut, tujuh tidak memenuhi standar keamanan pangan, satu telah diekspor dan tidak dapat diambil sampelnya, dan 22 sisanya mematuhi peraturan, termasuk tiga batch yang belum pernah dikirim ke pelanggan hilir.
Yuan Eksekutif pada 23 Juli menyetujui rancangan amandemen Undang-Undang Pengawasan Keamanan dan Sanitasi Pangan dan mengirimkannya ke Legislatif untuk ditinjau. Revisi yang diusulkan bertujuan memperkuat pengawasan keamanan pangan dengan meningkatkan manajemen sumber, pengendalian proses produksi, pelaporan ketidakwajaran, manajemen mutu, pelaporan hasil pengujian, dan tata kelola digital.
Selesai/