Taipei, 20 Juli (CNA) National Hsinchu Living Arts Center hari Sabtu (18/7) menggelar kegiatan penciptaan karya, membaca, dan pengalaman mencicipi makanan untuk pekerja migran membagikan kisah hidup dan kenangan budaya mereka, kata pusat seni tersebut.
Dalam sebuah rilis pers hari Minggu, pusat tersebut mengatakan para peserta kegiatan melakukan pembuatan dan berbagi karya gambar sederhana dengan tema "rasa kampung halaman", "makanan yang paling dirindukan", serta "kenangan kehidupan di Taiwan".
Melalui gambar dan tulisan, mereka mengekspresikan kerinduan terhadap kampung halaman serta pengalaman hidup mereka, sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta yang hadir untuk mengenal budaya makanan dan kehidupan dari berbagai negara, kata pusat tersebut.
Kegiatan yang bertujuan membangun wadah pertukaran antarkelompok dan dialog budaya ini menarik partisipasi sejumlah pekerja migran asal Filipina, Indonesia, Vietnam, dan Myanmar, serta imigran baru, menurut pusat tersebut.
Pembuat buku bergambar asal Filipina, Stephanie Mangrobang-Shih, membagikan buku bergambarnya yang berjudul "Piyesta Fiesta" (嘉年華). Melalui sesi pembacaan cerita, ia memperkenalkan budaya festival penting di negara asalnya, serta makanan khas yang sering ditemukan dalam perayaan itu beserta makna budayanya.
National Hsinchu Living Arts Center mengatakan Shih merupakan salah satu kreator buku bergambar yang dibina melalui program pelatihan untuk imigran baru dan pekerja migran yang digelar pusat tersebut. Kegiatan ini juga menjadi pembuka rangkaian program tahun 2027 dari program yang sama.
Yeh Yu-cheng (葉于正), direktur pusat seni tersebut, mengatakan bahwa Desa Hukou, Kabupaten Hsinchu, karena berdekatan dengan kawasan industri, memiliki jumlah pekerja migran dan imigran baru yang cukup besar, yang secara bertahap membentuk lingkungan kehidupan dengan keberagaman budaya yang saling menyatu.
Yeh mengatakan kegiatan Sabtu sengaja diselenggarakan di Gereja Tua Hukou yang sudah dikenal para pekerja migran.
Melalui jaringan kepercayaan yang telah lama dibangun oleh gereja dan masyarakat setempat, ujarnya, pihak penyelenggara membantu melakukan promosi dan perekrutan peserta, sehingga lebih banyak pekerja migran bersedia memasuki ruang kegiatan budaya serta berbagi kisah pribadi dan pengalaman budaya mereka.
(Oleh Wang Pao-erh dan Jason Cahyadi)
Selesai/ja