Taipei, 15 Juli (CNA) Menanggapi ensiklik terbaru Paus Leo XIV terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI), situs berita resmi Vatikan baru-baru ini menerbitkan wawancara dengan akademisi Academia Sinica Taiwan Li Lin-shan (李琳山), yang menyerukan negara-negara di dunia untuk mempertimbangkan langkah bersama dalam mengatur perkembangan AI agar "memberi dunia kesempatan untuk bernapas".
Li, profesor Departemen Teknik Elektro dan Ilmu Komputer National Taiwan University (NTU), dikenal sebagai salah satu pelopor bidang AI setelah mengembangkan sistem pengenalan suara bahasa Mandarin pertama di dunia. Dalam wawancara dengan Vatican News, ia membahas tantangan yang ditimbulkan oleh kemajuan pesat teknologi AI serta kemungkinan solusi untuk menghadapinya.
Menurut Li, perkembangan AI saat ini bukanlah hasil kerja segelintir individu, melainkan akumulasi pengetahuan dan upaya seluruh umat manusia selama bertahun-tahun. Namun, kemajuan pesat teknologi tersebut juga membawa tantangan besar bagi masyarakat global.
Li mengatakan dalam persaingan global yang semakin ketat, diperlukan lembaga seperti Vatikan untuk menyerukan kerja sama internasional dan mendorong pihak-pihak berpengaruh mencari solusi bersama. Ia menilai langkah kolektif diperlukan agar dunia dapat memiliki waktu untuk beradaptasi dengan perubahan yang dibawa AI.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar pengetahuan dan peradaban manusia dapat direpresentasikan dalam bentuk data, sehingga dapat diproses dan dimanfaatkan oleh AI. Hal tersebut membuat teknologi AI saat ini terlihat "hampir mampu melakukan segalanya", meski pada dasarnya merupakan hasil akumulasi kecerdasan manusia selama berabad-abad.
Li mengatakan para ilmuwan pada awalnya mengembangkan teknologi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi perkembangan AI yang jauh melampaui perkiraan telah membuat banyak orang kesulitan beradaptasi. Ia memperingatkan bahwa persaingan AI global saat ini seperti perlombaan, di mana setiap negara dan perusahaan berlomba menjadi yang terdepan karena khawatir tertinggal.
Ia menilai sebagian pihak telah menyadari dampak negatif AI terhadap masyarakat dan berupaya meningkatkan keandalan, pengendalian, serta standar etika teknologi tersebut. Namun, tantangan ini sulit diatasi karena melibatkan berbagai bidang, budaya, dan negara.
Li mengatakan gagasan untuk menghentikan sementara pengembangan AI melalui kesepakatan bersama antara negara atau pemimpin industri sulit diwujudkan karena tidak ada pihak yang ingin kehilangan keunggulan dalam persaingan global.
Sebagai alternatif, ia mengusulkan pemerintah dapat membuat regulasi dan mengenakan pajak lebih tinggi terhadap industri yang memperoleh keuntungan besar dari AI, kemudian menggunakan dana tersebut untuk membantu masyarakat yang terdampak, seperti pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi. Namun, ia mengakui langkah tersebut juga sulit diterapkan karena dapat mengurangi daya saing industri AI suatu negara.
Karena itu, Li menyerukan agar negara-negara di dunia secara bersama-sama menerapkan langkah pengendalian tertentu terhadap perkembangan AI. Menurutnya, meski kerja sama global sulit dicapai, langkah awal dapat dimulai dari lembaga yang memiliki pengaruh dan kredibilitas internasional seperti Vatikan untuk mendorong dialog dan mencari solusi yang lebih realistis.
(Oleh Huang Ya-shih dan Agoeng Sunarto)
Selesai/ja