Taipei, 15 Juli (CNA) Ujian mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan ilmu pengetahuan sosial di salah satu tes masuk universitas Taiwan tahun ini digelar hari Selasa (14/7) dan mengangkat berbagai isu aktual, seperti perdebatan mengenai gender, layanan perawatan jangka panjang, hingga imigran dan pekerja migran.
Salah satu pertanyaan mengangkat peristiwa perandaian di mana sekelompok ekstremis yang menentang imigran Muslim berencana merusak masjid di kawasan permukiman imigran di sebuah kota di negara demokratis.
"Banyak warga kota yang bukan Islam sukarela berkumpul di luar masjid untuk melindungi hak-hak para imigran. Pada akhirnya, tindakan itu membuat kelompok ekstremis mengurungkan niatnya dan krisis pun berhasil diatasi," bunyi soal itu.
Soal itu kemudian menanyakan pernyataan mana yang paling tepat dalam menjelaskan pengaruh partisipasi warga di kota tersebut, dengan pilihan yang mencakup bagaimana peran mereka dapat mengatasi krisis di masyarakat demokratis.
Soal lainnya mengangkat perandaian "laporan penelitian di suatu negara menunjukkan banyak buruh pabrik dari kelompok etnis mayoritas memilih bergabung dengan Partai A yang antiimigran karena mereka merasa sistem yang berlaku saat ini tidak adil."
"Mereka beranggapan bahwa Partai B, yang sedang berkuasa, memberikan terlalu banyak bantuan ketenagakerjaan kepada pekerja migran, sehingga justru membuat pekerja lokal menghadapi persaingan yang tidak adil. Sementara itu, Partai C, yang juga oposisi, memiliki sikap yang berbeda dengan Partai A maupun Partai B dalam sejumlah kebijakan penting."
"Karena parlemen negara itu mengalami kebuntuan dalam pembahasan kebijakan ketenagakerjaan bagi imigran sehingga menyulitkan jalannya pemerintahan, kepala pemerintahan memutuskan untuk membubarkan parlemen dan mengadakan pemilihan umum kembali," bunyi soal itu, yang kemudian mencantumkan hasil pemilihan umum.
Soal menanyakan pernyataan mana yang paling sesuai dengan semangat multikulturalisme dalam menghilangkan kekhawatiran para pekerja lokal terhadap kebijakan bantuan pekerja migran, dengan pilihan yang mencakup peran yang diambil setiap golongan. Dua pertanyaan lanjutannya berkaitan dengan sistem politik di negara tersebut.
College Entrance Examination Center -- yang menggelar ujian -- mengundang guru-guru untuk menelaah soal secara tertutup, sementara Kementerian Pendidikan meminta kelompok pengajar mata pelajaran terkait di sekolah menengah atas di Taipei membantu menganalisis soal ujian.
Dalam laporan tertulis, para guru yang mengikuti penelaahan menyebutkan materi soal diambil dari peristiwa aktual dalam kehidupan sehari-hari, dengan konteks akademik berupa laporan tertulis, grafik statistik, dan informasi dalam tabel.
Tahun ini, proporsi soal yang diambil dari isu-isu aktual kehidupan sehari-hari lebih tinggi, misalnya mengenai korporatisasi firma hukum, efektivitas jalur kendaraan berpenumpang banyak, perdebatan gender atlet angkat besi putri, program Perawatan Jangka Panjang 2.0, serta semakin banyaknya kelompok etnis minoritas yang tampil di panggung utama perfilman, menurut laporan.
Mengenai karakteristik soal, para guru menyebutkan ujian tahun ini tetap memberikan perhatian pada isu gender dan kelompok masyarakat yang berada dalam posisi kurang menguntungkan, seperti atlet perempuan dalam kompetisi, anak penyandang disabilitas yang menggunakan fasilitas bermain di taman, serta imigran dan pekerja migran.
Bentuk soal esai juga beragam, menurut para guru, mengutip adanya soal yang meminta peserta menganalisis data dalam tabel kemudian menjelaskan hubungan antardata dan menarik kesimpulan, hingga adanya pertanyaan ekonomi yang mengharuskan menggambar grafik. Secara keseluruhan, tingkat kesulitan berada pada kategori menengah hingga agak sulit.
Guru SMA Chenggong Kota Taipei, Irene Su (蘇青葉) mengatakan sebagian besar teks dalam soal tahun ini diambil dari isu-isu sosial yang menjadi pemberitaan di dalam maupun luar negeri, sehingga dekat dengan situasi nyata yang dihadapi pelajar.
Materi ujian terutama berfokus pada dua bagian dalam kurikulum, yaitu "organisasi dan sistem kehidupan sosial" serta "operasional masyarakat, tata kelola, dan praktik partisipasi," menurut Su.
Selain itu, proporsi soal yang berasal dari mata pelajaran pilihan kelas 12 juga meningkat, sehingga lebih menguntungkan bagi siswa yang mengambil kelompok studi ilmu sosial, administrasi publik, hukum, dan bisnis, ujarnya.
Mengenai karakteristik soal, Su menambahkan bahwa dibandingkan tahun lalu, panjang bacaan dalam soal lebih ringkas dan konsep yang ditanyakan lebih terfokus sehingga membantu mengurangi tekanan bagi pelajar.
Soal esai, menurut Su, dirancang dengan baik tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi, sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk dipahami dan dijawab.
Materi soal juga beragam, mencakup isu gender, hak anak penyandang disabilitas, layanan perawatan jangka panjang, persoalan tarif bea masuk, hubungan internasional, hingga geopolitik, tambahnya.
(Oleh Phoenix Hsu dan Jason Cahyadi)
Selesai/ja