Taichung, 13 Juli (CNA) Seorang siswa sekolah menengah pertama di Taichung, yang mengaku mengalami depresi akibat tindakan indisipliner yang dijatuhkan oleh wali kelas, telah kalah dalam gugatan yang menuntut kompensasi dari pemerintah.
Pengadilan Distrik Taichung menolak klaim tersebut, dengan mengatakan pada hari Minggu (13/7) bahwa kasus tersebut tidak memenuhi persyaratan hukum untuk kompensasi pemerintah, dan memerintahkan para penggugat untuk menanggung biaya litigasi.
Siswa dan orang tuanya menuntut kompensasi pemerintah sebesar NT$1,4 juta (Rp7,9 miliar), beserta tambahan NT$600.000 sebagai ganti rugi atas tekanan emosional, kata pengadilan.
Mereka berargumen bahwa wali kelas mewajibkan siswa untuk datang ke sekolah pada jam yang sangat pagi, menuntut standar akademik yang terlalu tinggi, dan membuat siswa menulis kalimat sebagai hukuman karena tidak memenuhi standar tersebut, yang semuanya menyebabkan penggugat mengalami depresi, menurut pengadilan.
Dalam putusannya, pengadilan mengatakan bahwa siswa hanya diwajibkan datang lebih awal dari biasanya satu hari dalam seminggu untuk upacara pengibaran bendera sekolah.
Selain itu, pengadilan mengatakan, adalah bagian dari tugas guru untuk menetapkan standar akademik dan memberikan hukuman berupa menulis kalimat, yang dalam kasus ini dikatakan diambil dari buku pelajaran.
Putusan tersebut, yang dapat diajukan banding, juga menyatakan bahwa para penggugat gagal membuktikan adanya hubungan antara kesehatan mental siswa dan tindakan disipliner guru.
Selesai/