Taipei, 11 Juni (CNA) Hampir 50 persen masyarakat Taiwan memiliki kebiasaan mendengkur, tetapi lebih dari 80 persen di antaranya enggan menjalani pemeriksaan kesehatan tidur lebih lanjut, kata Taiwan Society of Sleep Medicine (TSSM).
TSSM hari Rabu (10/6) menyampaikan hasil penelitian survei apnea tidur -- gangguan pernafasan sekaligus gangguan tidur yang mengakibatkan pernafasan berhenti beberapa kali selama tidur -- pertama di Taiwan, yang menemukan 49,6 persen responden mendengkur saat tidur.
Selain itu, sekitar 14 persen responden mengaku pernah merasa sangat mengantuk atau hampir tertidur saat mengendarai mobil atau sepeda motor, yang menunjukkan gangguan tidur dan kondisi apnea tidur akibat kekurangan oksigen telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan keselamatan publik, kata asosiasi.
Sekretaris Jenderal TSSM, Tsai Ming-shao (蔡明劭), menjelaskan bahwa saluran pernapasan orang yang mendengkur akan berulang kali tersumbat dan terbangun saat tidur, di mana pasien dengan gejala berat dapat mengalami kekurangan oksigen hingga ratusan kali dalam semalam.
Tsai mengatakan bahwa kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan, tetapi juga mengancam produktivitas kerja dan keselamatan lalu lintas.
Terdapat kesenjangan yang besar antara perasaan subjektif "tidur nyenyak" dengan reaksi fisiologis "mengantuk di siang hari", yang membuat masyarakat pada umumnya mengabaikan sinyal darurat tubuh pada siang hari, tambahnya.
Tsai mengingatkan bahwa apnea tidur sering kali membentuk lingkaran setan yang berbahaya dengan penyakit tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, dan obesitas, di mana kekurangan oksigen dalam jangka panjang dapat mempercepat kerusakan otak.
Seorang terapis okupasi mengaku telah lama menderita sakit kepala dan rasa kantuk di siang hari, bahkan pernah mengalami insiden mendebarkan di mana ia tertidur lelap selama tiga menit saat menunggu lampu merah di sepeda motornya.
Melalui pemeriksaan pencitraan otak dalam pemeriksaan kesehatan tahunan, ia mengaku terkejut menemukan bahwa bintik-bintik putih di otaknya tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan orang seusianya.
Setelah menjalani pemeriksaan tidur, ia baru menyadari bahwa frekuensi henti napasnya mencapai 48 kali per jam, yang mendiagnosisnya menderita apnea tidur tingkat berat.
Ia menceritakan bahwa di masa lalu, dengkurannya yang keras membuat sang istri harus selalu mendengarkan musik dengan pelantang telinga (earphone) agar bisa tertidur.
Setelah menjalani terapi dengan alat Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), ia tidak lagi sering mengalami sakit kepala serta berhasil memberikan lingkungan tidur yang sehat bagi dirinya dan pasangannya.
(Oleh Chen Chieh-ling dan Agoeng Sunarto)
Selesai/JC