Taipei, 10 Jun. (CNA) Greenpeace Taiwan hari Rabu (10/6) merilis penelitian yang menunjukkan bahwa ikan-ikan berukuran lebih kecil semakin mendominasi hasil tangkapan di perairan pantai dan lepas pantai Taiwan, sebuah tren yang menurut kelompok lingkungan tersebut menandakan bahwa ikan-ikan berukuran besar semakin langka akibat penangkapan ikan yang berlebihan.
Menurut studi tersebut, proporsi ikan yang ditangkap sebelum mencapai "Lm50" -- panjang di mana 50 persen dari suatu spesies mencapai kematangan seksual -- meningkat dari 77,7 persen pada tahun 2022 menjadi 93,3 persen pada tahun 2025.
Greenpeace mengatakan Lm50 adalah indikator penting kesehatan populasi ikan dan titik referensi utama untuk pengelolaan perikanan.
LSM tersebut melakukan survei terutama melalui pengambilan sampel di pasar lelang hasil laut, yang dilengkapi dengan data yang dikumpulkan dari pedagang ikan. Studi ini mencakup pelabuhan perikanan di Kaohsiung, Kabupaten Yilan, Kabupaten Pingtung, dan Kabupaten Penghu.
Survei selama tiga tahun ini menunjukkan adanya penangkapan ikan berlebihan yang parah, kata Ho Hsuan-ching (何宣慶), seorang profesor madya di Departemen Akuakultur National Kaohsiung University of Science and Technology yang turut serta dalam penelitian tersebut.
Tanpa adanya langkah pengelolaan yang efektif, populasi ikan dapat menghadapi efek leher botol yang menyebabkan ikan-ikan semakin kecil, kata Ho. Akibatnya, sumber daya perikanan yang dapat dimanfaatkan akan menurun dan bahkan bisa habis dalam generasi saat ini, ia memperingatkan.
Penyelidikan tersebut juga menemukan bukti adanya aktivitas penangkapan ikan dengan trawl secara luas di perairan yang seharusnya dilarang untuk operasi tersebut.
Meskipun Undang-Undang Perikanan melarang penangkapan ikan dengan trawl dalam jarak tiga mil laut dari pantai, Greenpeace mengatakan kapal trawl mencatat lebih dari 30.000 jam operasi di lepas pantai Kabupaten Yilan antara tahun 2023 dan 2025. Kabupaten Penghu dan Pingtung masing-masing mencatat lebih dari 10.000 jam selama periode yang sama.
Namun, Direktur Proyek Laut Greenpeace Huang Hsin-tung (黃欣彤) mengatakan Direktorat Jenderal Perikanan (FA) hanya mencatat 24 sanksi untuk penangkapan ikan dengan trawl ilegal pada tahun 2025, sementara otoritas di Kabupaten Yilan, Penghu, dan Pingtung tidak mencatat pelanggaran sama sekali.
Perairan dalam jarak tiga mil laut dari pantai berfungsi sebagai tempat pemijahan dan pembesaran penting bagi banyak spesies laut, kata Huang, seraya menambahkan bahwa wilayah tersebut masih menjadi sasaran penangkapan ikan intensif dengan pengawasan yang kurang memadai dari pemerintah pusat dan daerah.
Greenpeace mendesak FA dan pemerintah daerah untuk memperkuat upaya penegakan hukum dan mengalokasikan lebih banyak dana untuk konservasi laut.
Tindakan pemerintah
Sebagai tanggapan, FA mengatakan pihaknya menghormati upaya advokasi kelompok tersebut, namun berpendapat bahwa pemantauan jangka panjang terhadap struktur populasi ikan diperlukan sebelum menentukan alasan mengapa ikan-ikan menjadi lebih kecil.
FA mengatakan faktor-faktor seperti selektivitas tangkapan, usia dan ukuran ikan yang memasuki perairan sekitar Taiwan, serta perubahan tingkat kematangan biologis juga harus dipertimbangkan.
FA mencatat bahwa batas ukuran telah ditetapkan untuk spesies seperti kepiting bakau dan mahi-mahi berdasarkan penelitian ilmiah, sementara pemerintah daerah telah menerapkan langkah-langkah pengelolaan perikanan, termasuk pembatasan musiman dan berbasis wilayah serta ukuran tangkapan minimum.
FA juga telah melakukan penilaian jangka panjang terhadap spesies ikan komersial utama dan bekerja sama dengan Institut Penelitian Perikanan dan Akademi Nasional Riset Kelautan untuk mengembangkan proyek jangka menengah dan panjang serta mengamankan pendanaan untuk penilaian sumber daya perikanan.
Ditambahkan bahwa langkah-langkah seperti mengurangi jumlah kapal penangkap ikan yang beroperasi, mengatur alat dan metode penangkapan, mengelola spesies pesisir bernilai ekonomi, melindungi habitat, memulihkan sumber daya, dan memperkuat penegakan hukum semuanya bertujuan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan.
Menurut badan tersebut, hasil tangkapan ikan tahunan tetap sekitar 170.000 ton metrik selama lima tahun terakhir.
Badan tersebut juga mengatakan telah memberikan sanksi terhadap 64 pelanggaran terkait penangkapan ikan dengan trawl antara tahun 2023 dan 2025.
Akhirnya, FA berpendapat bahwa perikanan Taiwan melibatkan berbagai macam praktik penangkapan dan perdagangan, termasuk lelang, penjualan langsung, dan transaksi dengan pabrik pengolahan. Oleh karena itu, mengandalkan data utama dari pasar ikan dapat menimbulkan bias pengambilan sampel.
Selesai/ML